
"Karena bagi Shirleen pernikahan. ukanlah sebuah permainan rumah-rumahan, yang bisa dimulai ataupun disudahi begitu saja, kau tau semalaman ia menangisimu yang telah dengan tega ingkar padanya" ucap Tuan Fred.
Yah malam itu Shirleen memang menangis begitu lama, meratapi nasibnya yang begitu banyak cobaan, setelah gagal dalam pernikahannya dengan Athar kini ia menggantungkan cintanya pada Jason, meski tidak tepat namun ia berharap Jason bukanlah orang yang salah. Namun menangisnya tidak sampai semalaman juga, tuan Fred hanya sedikit melebihkan dramanya.
"Diam..." bentak Jason, ia tidak suka mendengar Shirleen menangis, ia paling tidak menyukai itu apa lagi Shirleen menangis karena dirinya.
"Dia tetap memilihmu meski ia tau kau bajingan"
"Dia tetap memilihmu meski ia tau kau bahkan seorang pembunuh"
"Ia juga masih memilihmu meski ia tau kau pembohong, yang dengan tega membohonginya saat ia mencoba membuang segala pemikiran buruk tentangmu"
Buugghh...
Satu bogem mentah mendarat di wajah Tuan Fred, Jason tidak bisa jika harus disebutkan satu persatu apa yang tengah di alami Shirleen karenanya.
Tuan Fred kali ini tidak diam, ia menyerang balik Jason dan perkelahian pun tidak bisa dihindari.
"Aku bahkan tidak percaya hari ini akan tiba, hari dimana kau menyerangku" ucap Tuan Fred ditengah-tengah pergulatan mereka.
"Aku juga tidak menyangka akan ada hari dimana kau juga mengecewakanku, padahal kau adalah orang yang paling tau apa yang telah aku alami selama ini" sahut Jason.
"Bahkan setelah apa yang telah kita lalui ?" ucap Tuan Fred lagi.
"Aku bisa apa Tuan Fred, kau melibatkan istriku"
"Bunuh aku !!!" ucap lantang tuan Fred, seketika membuat Jason menghentikan pergulatannya.
"Heh, hanya pecundang yang menyerah" acuh Jason, namun ia memilih menyudahi serangannya. Ia dan Tuan Fred nampak seri, tubuh dan wajah mereka berdua sama-sama babak belur.
"Aku tidak apa jika harus mati di tanganmu" pasrah tuan Fred.
"Saat kau hadir dalam hidupku, aku bahkan ingin sekali memanggilmu ayah seperti panggilan yang selalu keluar dari mulut Axel"
"Kau lumayan hebat bisa mengambil hatiku"
"Jason..." Tuan Fred tercengang mendengar pengakuan Jason, selama ini ia memang telah menganggap Jason bagai anak sendiri namun karena ia masih cukup tau diri bahwa Jason adalah cucu tuannya maka ia tidak memberi harapan itu, tapi ternyata di luar dugaannya Jason malah mendamba panggilan itu.
__ADS_1
"Saat kau mengecewakanku seperti ini rasanya sakit sekali, lebih sakit dari pada yang Adrian lakukan waktu itu"
"Aku tau kau pasti membawa Shirleen ke tempat yang nyaman, meski kau berhasil membuatku berhalusinasi seolah Shirleen akan hilang dari hidupku"
Satu fakta lagi yang membuat Tuan Fred tercengang, apakah Jason sudah tau bahwa ia yang melakukan semua itu.
"Saat aku menyadari itu, kau pasti sudah tau selanjutnya apa yang aku lakukan"
"Kau tidak bisa mengendalikanku tuan Fred yang terhormat, sekalipun aku adalah anak buahmu"
"Jason..." lirih Tuan Fred, dalam hatinya ia mengaku kalah meski besar harapannya Jason bisa mempertimbangkan apa yang ia nasehatkan tadi.
"Kau dan Adrian sama saja tidak menginginkan aku bahagia" ada sedikit kemarahan saat Jason mengatakan itu.
"Dengar, pertama panggilah aku ayah, aku sudah lama menanti kau memanggilku seperti itu, sama seperti Axel kau adalah anakku"
"Kedua, karena aku merasa ayahmu dan kau adalah anakku, jadi aku menginginkan agar kau berada di jalan yang benar, kau lihat Axel, aku selalu memberikan yang terbaik untuknya tidak sekalipun ia kubiarkan terjerat pada dunia hitamku"
"Ketiga, aku tidak pernah merebut kebahagiaanmu, justru aku melakukan ini semua supaya kau bisa meraih kebahagiaanmu"
"Seorang ayah akan memberikan contoh yang baik untuk anaknya, dan seorang anak pasti sedikit banyak akan meniru apa yang dicontohkan ayahnya" jawab Jason dan malah membuat Tuan Fred serba salah mengenai ucapannya.
"Kalau kita benar ayah dan anak, bagaimanapun aku hanya mencontoh apa yang dilakukan ayahku" ucap Jason.
"Bahkan entahlah panggilan ayah masih pantas atau tidakkah untukmu saat ini" lanjutnya lagi.
"Sudah tau Shirleen adalah kebahagiaanku, masih berani untuk memisahkannya dariku, ayah macam apa kau"
"Heeeh" desah pelan Tuan Fred "Mari kita selesaikan ini sebagai ayah dan anak"
"Dasar tidak tau malu" umpat Jason.
"Jason, aku ingin bercerita..."
Sementara di tempat lain,
Yudha masih menunggu seseorang di ruang tunggu Butik Angels W, tadinya ia sudah bertanya pada resepsionis apakah ada pegawai yang bernama Weni, namun resepsionis itu mengatakan tidak ada satu pegawaipun yang bernama Weni, malah katanya pemilik butik ini yang bahkan bernama Weni.
__ADS_1
Aneh sekali rasanya, namun karena butik ini adalah satu-satunya petunjuk dimana ia bisa menemukan Weni si pegawai, ia rela menunggu Weni si Bos untuk menanyakan perihal nota yang ia temukan di atas wastafel kamar mandinya.
Beberapa menit menunggu nampaknya tidak sia-sia, Weni si pegawai baginya malah melintas dihadapannya.
"Eehh sini lo" ucap Yudha sambil menarik paksa tangan Weni.
Weni yang tidak siap menerima pergerakan tiba-tiba dari Yudha membuat tubuhnya menjadi tidak seimbang dan jelas saja itu akan membuat keduanya terjatuh.
Weni terduduk di tangan sofa dan hampir saja tubuhnya terjatuh kalau saja Yudha tidak menahannya segera.
Posisi mereka sangat dekat, Yudha yang berada tepat diatas Weni bahkan bisa melihat jelas bagaimana Weni seolah menahan nafas dihadapannya.
Lama keduanya berpandangan, sebelum salah satu dari mereka tersadar.
"Bagun lo, beraninya lo cari-cari kesempatan"
Weni masih menetralkan jantungnya yang sempat berdegup tak beraturan karena tindakan Yudha, namun sekarang sudah agak normal karena baginya Yudha tetaplah menyebalkan, sangat tidak pantas jantungnya memberikan reaksi berlebihan semacam itu.
Yudha pun sama, walau jantungnya sempat marathon karena melihat wajah Weni yang ternyata cantik juga jika dilihat dari dekat, atau sebenarnya mungkin Yudha saja yang baru menyadari itu.
Ia sedang menormalkan degup jantungnya,menjadi angkuh adalah jalan ninjanya supaya Weni tidak mengetahui ia sedang gugup saat ini.
"Mau ngapain kamu ke sini ?" tanya Weni tak kalah ketus, baginya tidak ada lagi hati yang harus ia jaga, Tante Wina tidak bersama mereka disini jadi sah-sah saja jika Weni berbicara ketus ataupun kasar sekalian pada bocah tengil menyebalkan di hadapannya ini.
"Tadinya gue pengen ketemu sama pemilik Butik ini buat nanyain ini nota biar gue bisa tau keberadaan lo, tapi sekarang gak lagi karena lo juga udah gue temuin" ucap Yudha sembari menyodorkan sebuah nota pada Weni.
"Aduuhh ini yang aku cari, makasih yaaa kamu udah mau repot-repot nganterin ini kesini" Weni tidak bisa menahan kebahagiaannya, kala nota yang sedang ia cari-cari kini sudah ia temukan, ternyata nota uang muka pembelian gaun anak konglomerat langganannya itu tertinggal di kamar Yudha.
Ia tidak bisa membayangkan karena ia lupa berapa nilai yang sudah dibayar, karena saat itu keluarga konglomerat langanannya itu membayar uang mukanya tunai dan uangnya malah sudah ia gunakan untuk membayar belanjaannya dan tante Wina hari itu juga kebutuhan lain-lainnya.
Jadi ia benar-benar lupa berapa uang muka dan sisa yang harus dibayarkan besok, maka beruntung sekali karena Yudha bisa menemukan dan mau mengantar nota itu ke Butiknya.
Dasar ceroboh, lagi-lagi melupakan hal penting, kenapa juga bosnya bisa tahan menghadapi kecerobohannya ini, kalau gue jadi bosnya udah gue pecat karyawan kek gini.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!