
"Ayah..." girang Misca saat ia sudah sampai di depan pintu masuk kedai ayahnya.
Athar mendongakkan kepalanya, mendengar suara yang amat ia kenali, suara yang sangat ia rindukan.
"Sayang" ucap Athar spontan, saat putrinya sudah berada sangat dekat dengannya.
"Ayah, Misca kangen Ayah"
Ayah dan anak itupun kemudian berpelukan melepas rindu yang menggebu, meski tidak pernah di ungkapkan nyatanya sebelum tidur Athar selalu mengingat anak gadisnya itu di malam-malam sepinya.
"Ayah juga sayang" lirih Athar, sungai yang menganak akhirnya luruh juga, Athar tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya ia.
"Mana Bunda, Misca kesini sama siapa ?" tanya Athar, karena dari penglihatannya ia tidak melihat Shirleen.
"Sama Bi Ipah" Jawab Misca menunjuk maid yang berada tak jauh darinya.
"Saya Ipah Tuan..." sapa Ipah.
"Ah iya, saya Athar ayahnya Misca, apa Bundanya tidak mengantarnya kesini ?" tanya Athar lagi.
"Tidak Tuan" jawab Ipah.
"Kenapa ?"
"Saya tidak bisa memberi jawaban untuk itu ?" jawab Ipah lagi.
"Baiklah boleh aku bertanya sesuatu ?"
"Silahkan Tuan"
"Bagaimana keadaan Shirleen, apa dia baik-baik saja ?"
"Saya tidak bisa memberikan jawaban di luar pekerjaan saya"
"Heehh" menghela nafasnya berat "Sebenarnya kamu siapa sih, hanya pengasuhnya kan, kenapa seformal itu, lagian tinggal bilang saja apa alasannya, baik buruk pun tak apa aku kan hanya bertanya" kesal Athar, sebenarnya ia hanya ingin menanyakan mengapa Shirleen tidak mengantar Misca, dan bagaimana kabar mantan istrinya itu, tidak lebih dan rasanya maid itu tidak perlu bersikap seolah bekerja pada keluarga bangsawan kan.
"Ayah, Bunda sedang jagain adik bayi di rumah, jadi tidak bisa ikut kesini" ucap Misca, beruntung anak sekecil itu termasuk pintar membaca situasi.
"Nah gitu, tinggal bilang gitu aja apa susahnya" sindir Athar pada Ipah.
"Sayangnya Ayah mau makan apa ? Biar ayah buatin special untuk yang paling ayah sayang ini" tanya Athar pada Misca.
"Eemm mau sosis bakar, Misca mau itu ?"
"Siap dalam lima menit tuan putri"
Misca duduk di kursi bersama Ipah, matanya tidak lepas memandangi ayahnya, sebuah kesedihan tergambar jelas di wajahnya.
"Ada apa Non" tanya Ipah.
"Bi, sepertinya benar apa yang dikatakan Bunda, Ayah sepertinya sangat sibuk bekerja" ujar Misca.
__ADS_1
"Yang penting kan Non sudah bertemu dengan ayah Non" jawab Ipah menenangkan.
"Iya Bi"
"Kau sudah berani bermain-main denganku Roy ?" tanya Jason saat Roy sudah berada di ruangannya, baru saja Roy datang ke kantor pagi ini, langsung saja ia di minta menemui Tuan Mudanya yang katanya ada hal yang harus ditanyakan.
"Tidak Tuan Muda"
Ada apa lagi ini, bukankah aku tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan aku harus pulang jam tujuh malam kemarin karena menggantikannya meeting dengen kolega.
"Kau melamunkan apa ? Melamunkan kesalahanmu ?"
"Ii iya Tuan Muda"
"Biar ku beri tau, kesalahanmu adalah menikahi rubah itu" ucap Jason.
"Maksud Tuan Muda Shakira" lirih Roy, ia bahkan belum memberi tahu pernikahannya namun Tuan Mudanya sudah mengetahui duluan.
"Sudah mengakui rupanya" sindir Jason.
Roy terperangah baru saja secara tidak langsung ia mengakui pernikahannya dengan Shakira.
"Rubah licik itu sudah mengotak-atik ponselmu, kau tau" jelas Roy.
"Apa ?" bingung Roy.
"Kemana perginya Roy yang tau segalanya ?"
Dasar istri laknat...
"Maafkan saya Tuan Muda"
"Heh, maaf katamu"
Ya maaf, lalu saya harus apa Tuan Muda ?
"Kau tidak suka lagi bekerja denganku Roy ?"
"Tidak tuan muda"
"Tidak ???"
"Suka Tuan Muda, saya masih ingin bekerja dengan Tuan Muda"
"Ini..." Jason melemparkan sebuah amplop coklat tepat di wajah Roy, dan Roy dengan gelagapan harus cepat menangkapnya, membuat nyali Roy seketika menciut, entah apakah yang akan terjadi padanya kali ini.
Terputar kembali rekaman saat Tuan Muda Jason menanyainya di ruang bawah tanah waktu itu, Bosnya itu juga melemparkan berkas tepat di wajahnya.
"Apa ini Tuan Muda ?" Tanya Roy spontan.
"Seorang Roy tidak akan pernah bertanya sekalipun itu isinya sebuah pisau yang akan membunuhnya" angkuh Jason.
__ADS_1
Dengan pelan Roy membuka amplop coklat tersebut, matanya membulat kala mendapati hasil temuannya.
"Ma, Papa benar-benar menyesal, Jason bahkan tidak mau bertemu papa lagi" ucap Pak Adrian, saat ini ia tengah mengeluhkan nasibnya pada sang istri.
Semenjak kejadian di rumah Jason waktu itu, Jason bahkan tidak pernah mau menemuinya lagi meski itu untuk hubungan kerja sekalipun.
"Pa sudahlah, Jason kan sudah mengatakan kalau ia hanya butuh waktu" ucap Mama Mila menenangkan suaminya.
"Iya tapi kapan Ma ?"
"Pa... Kalau Papa tidak bisa sabar menghadapinya, maka semuanya tidak akan ada gunanya, permintaan maaf papa ataupun penyesalan untuk apa ? Papa sadar nggak sih ini semua juga terjadi karena Papa, Papa yang udah buat Jason berubah" kesal Mama Mila, suaminya itu tidak sabaran sekali padahal menurutnya semua yang terjadi adalah salahnya.
"Ma, kok ngomong gitu lagi" protes Pak Adrian.
"Terus Mama harus bilang apa ? Pa Jason itu sudah sulit di bentuk semenjak Papa merebut masa kecilnya, jangan kira ia menjadi penurut dia tidak bisa menyerang papa setelah besarnya, sudah mama katakan semenjak dulu jangan terlalu keras, dia anak kita" ucap mama Mila lagi.
"Tapi Papa selalu saja bilang, jangan terlalu memanjakannya, aku hanya melakukan apa yang bisa dilakukan, dia anakku sepuluh tahun penantian kita" sesal Mama Mila, meski ia sangat menyayangi anaknya namun sayang sekali semenjak dulu ia tidak bisa melawan kehendak suaminya.
"Semua sudah terjadi Ma" lirih Pak Adrian.
"Ya semuanya memang sudah terjadi, Papa tau, Tuan Fred bahkan hampir mati di buat Jason, papa pikir anak itu bisa di kendalikan dengan mudah, sekarang apa ?"
Pak Adrian tercengang, bagaimana bisa Tuan Fred juga menyerah menghadapi anaknya itu.
"Biarkan ia melakukan semua yang ia mau, nasihati dia dengan baik-baik, kalau memang dia ingin berubah maka sekeras hati manusia tetaplah hati yang lunak dan lemah, tidak akan menjadi sebuah batu"
Mama Mila lalu meninggalkan suaminya itu sendiri di kamar, ia selalu saja sedih jika diingatkan tentang putranya itu.
Putraku sudah dewasa, sudah bisa mengambil langkahnya sendiri, padahal rasanya mata ini baru saja memandang bagaimana ia terjatuh saat belajar berjalan.
Tangan ini rasanya baru kemarin menemani langkah kecilnya.
Sekarang ia sudah dewasa, seakan paling tau akan dibawa kemana hidupnya itu.
Dia yang selalu ku nantikan, aku rasanya tidak sanggup jika ia menjauh seperti ini, kuatkan aku Tuhan...
Caranya bicara, caranya menyapa tidak lagi sehangat dulu, semua yang kami lakukan seakan sangat menyakitinya.
Bagaimana bisa, bagaimana bisa diri ini berhenti menangis, putraku, aku yang mendekapnya pertama kali, aku yang pertama memeluknya, mengecupnya dengan sayang, memberinya cinta, Jasonku sudah dewasa.
Jason, kalau bisa maafkanlah kami, meski masih ada sakit bisakah kau kembali seperti dulu, tangan ini rindu mengusap pelan bahumu, rindu memelukmu.
Kalau bisa, Mamamu ini sungguh tidak memaksa, hanya kalau bisa nak, mama tau begitu sakit perasaanmu, mama mengerti.
Ia merenung sendiri di kamar Jason, menangis dalam diam, hati ibu mana yang tak kan sakit melihat perubahan sikap pada anaknya, ia memang bisa menyapa Jason berbicara biasa saja bahkan sekilas tidak ada yang berubah dari Jason yang dulu, namun ia tau kehangatan itu hanya sengaja dibuat oleh putranya bukan benar tulus dari hati, hanya untuk membuat jarak yang sudah jauh tidak lagi semakin menjauh.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!