
Pagi menjelang, Jason hampir semalaman tidak tidur, mengurus laporan yang dikirimkan Mery padanya sore tadi.
Mery menurutnya dianggap kurang cepat dalam bekerja, dan lagi semalam ia malah harus merevisi sendiri laporannya, bahkan ada yang dibuat ulang olehnya.
Sungguh jika begini, Roy tidak akan pernah ia dapatkan penggantinya, ia sudah terlalu bergantung pada Roy.
Padahal Mery bukan tidak bisa bekerja dengan baik hanya saja standar pekerjaannya masih belum terlalu ia pahami, ia pun sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik, belajar dan terus belajar, sementara Jason, Bosnya itu selalu saja menginginkan kesempurnaan.
Selama ini Mery memang terkenal dengan sebutan sekretaris bagai resepsionis, nangkring di ruangan berdesign minimalis tepat di depan ruangan CEO ARAD Group, namun sayangnya selama tiga tahun bekerja ia belum pernah sama sekali masuk ke ruangan CEO tersebut, semua peekerjaannya sudah di ambil alih oleh Roy, tugasnya hanya berjaga bak satpam, jika ada rekan bisnis yang sedang mencari si Bos, maka dia akan segera menghubungi Roy untuk menanyakan bisa tidaknya melakukan pertemuan, atau apakah harus membuat janji terlebih dahulu, semua ia tanyakan pada Roy, tidak pernah secara langsung menghubungi Bosnya, jadi baginya ini sangat sangat hal baru baginya.
"Kamu tumben kesiangan By ?" tanya Shirleen, ia sudah selesai membuat sarapan dan baru saja membangunkan sang suami.
"Sedikit lelah !" jawab Jason, sebenarnya ia sungguh tidak bersemangat hari ini.
"Kerjaan ?" tanya Shirleen.
"Ya, ditinggal Roy sebentar aku sepertinya sedikit kesulitan !" ucap Jason mengakui bahwa Roy begitu berpengaruh dalam hidupnya.
"Mau aku bantuin ?" tawar Shirleen.
"Gak usah By, fokus ke anak-anak aja kamu !" tolak halus Jason.
"Gini, kalau kamu ngerasa berat, kamu bawa aja kerjaannya ke rumah, nanti aku bantuin kamu,kan kalau kakak ada Ipah yg jagain, kalau Jacob juga masih teratur tidurnya." tawar Shirleen lagi.
"Makasih ya By, semoga aku bisa ngerjainnya cepet, hari ini aku harus masuk ada rapat pagi." ucap Jason, dengan malas ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
"By, kamu kayak pucet deh, mana sini !" ucap Shirleen, ia membelai pipi suaminya itu, benar sekali Jason tidak seperti biasanya pagi ini.
"Aku nggak papa By !" ucap Jason meyakinkan.
"Nanti aku siapin obat kamu minum yaaa !"
"Iya, aku mandi dulu." Jason melepaskan tangan sang istri yang masih betah membelai pipinya, "Cup." satu kecupan disertai sedikit lum*tan ia layangkan pada candunya.
"Morning kiss !" ucapnya lagi.
__ADS_1
Shirleen tampak malu, jantungnya selalu saja sulit dikondisikan.
Sementara bagian lainnya, dua anak manusia sedang menyambut pagi dengan hati yang berbunga, meski kebersamaan yang mereka jalani saat ini mungkin saja akan segera berlalu.
Weni menginap di rumah sakit menemani Yudha, Mama Wina malah senang sekali saat mengetahui anaknya berpacaran dengan Weni, saat pertama kali bertemu Weni di supermarket saat Weni menolongnya waktu itu, ia sudah berharap bahwa Yudha bisa mempunyai pacar sebaik Weni, namun dikarenakan rentang usia anaknya dan Weni sedikit jauh berbeda membuatnya tidak terlalu serius menanggapi keinginannya.
Tapi setelah mengetahui wanita yang selama ini misteri baginya karena Yudha sama sekali tidak pernah menyebutkan siapa wanita yang anaknya sukai, ia sungguh setuju saat mengetahui wanita itu adalah Weni.
"Mama tinggal dulu ya sayang, ada janji sebentar lagi." ucap Mama Wina pada anaknya.
"Iya Ma !" ucap Yudha.
"Weni, titip Yudha ya, nanti ada Angga kesini sebentar lagi." ucap Mama Wina pada Weni.
"Iya Tante !" sahut Weni.
"Lho kok Tante lagi !" sanggah Mama Wina.
"Eh iya Ma !" segera Weni membenarkan panggilannya, ah iya semalam mereka sudah sepakat untuk menganggap diri sebagai calon mertua dan calon mantu.
Mereka akan melangsungkan pertunangan terlebih dahulu, Yudha tidak bisa meninggalkan Weni begitu saja, maka dari itu ia berniat untuk mengikat Weni dengan cincin tunangan.
"Kamu bahagia ?" tanya Yudha sembari memandang wajah kekasihnya penuh cinta.
"Ya, harusnya begitu !" ucap Weni, terselip kebohongan saat Weni mengatakannya, Yudha tau itu, siapa yang rela berjauhan.
"Hei, liat aku !" suruh Yudha.
"Hemm !"
"Kan sudah janji, Yudha untuk Weni !" ucap Yudha lagi, meski ia juga ragu namun ia diharuskan tetap yakin, ia berjanji akan belajar lebih giat supaya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat.
"Aku rasanya kayak susah, padahal belum dijalanin." ucap Weni, matanya mulai mengembun, siapa yang akan baik-baik saja jika baru saja kemarin mereka bersama malah sudah akan berpisah jauh.
"Lucu ya !" ucap Weni lagi saat menyadari tingkahnya, ia mencoba tertawa namun sayangnya tidak bisa.
__ADS_1
"Ssttt, jangan gitu dong, aku jadi nggak bisa pergi nanti, kan udah dibicarain semalam, nanti aku juga bakalan balik kesini pas hari raya, semesteran, kita akan sama-sama, aku akan ngabisin waktu berdua sama kamu nantinya, aku janji !" ucap Yudha sekali lagi harus membujuk Weni.
Dan untuk Weni, ia baru saja mengenal namanya pacaran, meski umurnya sebentar lagi kepala tiga, percayalah yang ada dipikirannya, yang ia impikan, sang pacar adalah tempat untuknya berbagi, saling mencintai, selalu menghabiskan waktu bersama, seperti yang ia lihat saat dulu ia remaja, teman-temannya selalu menonton film di Bioskop bersama sang pacar, menghabiskan waktu bersama dengan sang pacar, bertengkar lalu berbaikan lagi, bukankah itu terlihat sangat lucu dan menyenangkan.
Sementara ia, ia tidak akan mengalaminya karena harus dilanda long distance relationship.
"Apa ?" tanya Yudha saat dilihatnya Weni nampak cemberut.
"Kamu baik-baik ya disana !" ucap Weni, tangannya menggenggam tangan kiri Yudha yang tidak patah, ia sedikit khawatir, Yudha masih sangat masuk dalam katagori pria tampan, bukan tidak mungkin di luar negeri sana ada yang menyukai pacarnya itu.
"Iya aku pasti akan hidup dengan baik, makan dengan teratur, minum air putih yang cukup, olahraga ringan disela waktu pagi, jangan terlalu banyak mengkonsumsi junk food, jangan begadang, aku akan selalu ingat pesan pacarku ini, jaga kesehatan kan!" ucap Yudha menjabarkan apa yang Weni pesankan padanya saat malam tadi.
Ih bukan itu, dasar nggak peka.
"Ada lagi ?" tanya Yudha.
Weni memalingkan wajahnya kearah lain, kesal sekali saat sang pacar tidak mengetahui maksudnya.
"Kenapa ?" tanya Yudha lagi.
"Enggak, nggak ada memang sudah seharusnya jaga kesehatan." Jawab Weni canggung.
"Aku pasti akan menjaga hati, aku kan sudah janji, Yudha untuk Weni, kenapa cemberut ?" ucap Yudha pada akhirnya, sebenarnya sedikit banyak ia mengetahui apa yang mengganjal di hati Weni, karena ia pun sama tidak rela jika sampai Weni didekati pria lain.
Seulas senyum yang dengan sangat kurang ajarnya malah hadir tanpa permisi di bibirnya, membuat wajah Weni merah tak terelakan, ia benar-benar malu, tak disangka Yudha ternyata bisa menebak apa yang tengah ia rasakan.
Sudahlah jangan heran, mereka kan sedang bucin !
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1