
"Kau tidak usah takut By, sebisa mungkin aku akan selalu bersama kalian, kalian lah rumahku tempatku untuk pulang" ucap Jason pelan sembari memegang lembut tangan istrinya dan mengecupnya singkat.
"Aku hanya takut kau berubah By" ujar Shirleen lagi.
"Sudah ku katakan, untuk sampai di tahap ini saja begitu sulit, apa aku pernah main-main By selama ini ?" tanya Jason.
"Seharusnya kau tidak perlu memikirkan hal lain, hanya ada aku kamu dan anak-anak, sudah mengapa harus membebani dirimu dengan pemikiran yang akan membuat keraguan dalam dirimu, jangan membuatku menjadi suami yang buruk" ucap Jason lagi.
Shirleen diam, benar apa kata suaminya, seharusnya ia tidak perlu memikirkan hal lain, cukup keluarga kecilnya itu saja.
"Aku tidak bisa berjanji untuk kita bisa seperti ini selamanya, tapi jika kau mau, kita bisa berusaha, sama-sama berusaha" ucap Jason, dan kembali mengecup punggung tangan istrinya itu.
"By aku selalu saja mudah menangis, teruslah membuat air mataku ini jatuh karena bahagia" ujar Shirleen dengan isaknya.
Keduanya berpelukan, bagi Shirleen ia tidak bisa memaksa Jason untuk selalu mencintainya, belajar dari sebuah kegagalan rumah tangganya, dulu ia dan Athar bahkan berjanji untuk saling mencintai hingga masa tua mereka, namun janji bukanlah suatu alasan untuk sebuah hubungan yang langgeng, buktinya Athar bisa mengabaikan janji mereka, selingkuh dan bahkan menikah lagi.
Jika janji bisa mengikat sebuah hubungan, tentu semua pasangan akan berpikir terlebih dahulu sebelum bermain api, namun tidak... Tidak ada apa-apanya dengan sebuah janji, meski pertanggungjawabannya bukan hanya dengan manusia namun juga dengan Tuhan, tapi banyak sekali manusia di bumi ini yang menyepelekan sebuah janji.
Dan Shirleen, ia terpaksa ingkar karena Athar yang memulai. Ia tidak bisa bertahan seumur hidupnya hanya dengan beralaskan janji.
Ia mengerti, Jason tidak memberikan sebuah janji padanya, karena janji itu berat, dan mereka tidak akan kuat karena mereka hanya bisa menjalani kehidupan ini, dan Tuhanlah yang akan menentukan.
Saat ini Dareen sedang mondar-mandir di kamar mandi, ia bisa mendengar dengan jelas Sri masih berada di kamarnya sedang saat ini dia lupa membawa handuk untuknya mandi tadi.
"Kenapa betah banget sih di kamar gue" gerutunya pelan.
Fahira akan pergi imunisasi saat ini, sehingga Sri sedang mendandani anaknya itu di kamar.
Namun ia melihat baju yang ia siapkan untuk Dareen masih tergeletak di kasur, Dareen masih mandi tapi kenapa lama sekali pikirnya.
Karena masih puasa ngomong dengan suaminya itu jadilah Sri disini menunggu saja siapa tau ada yang suaminya itu butuhkan atau jika terjadi sesuatu dengan suaminya ia bisa segera tau.
__ADS_1
Ia menunggu sambil bermanja dengan Fahira.
"Anak Ibu, hari ini mau imunisasi yaaa, jangan rewel yaaa, jangan nangis kenceng-kenceng nanti, anak ibu kan hebat" Sri mengajak berbicara putrinya itu.
Dareen yang mendengar Sri bicara itu membuatnya tau bahwa Sri masih juga belum keluar dari kamarnya, padahal kakinya sudah kesemutan karena dinginnya lantai kamar mandi.
Ia mencoba menunggu lagi, meski dalam hati ingin sekali berteriak meminta bantuan Sri untuk mengambilkannya handuk tapi tetap saja tidak bisa ia lakukan karena egonya yang terlalu tinggi.
"Aaarrgghh sial, tuh cewek sialan gak ada kerjaan lain apa" gumam Dareen.
Andai saja ia bisa menurunkan sedikit egonya, mungkin kakinya tidak akan kesemutan hingga sampai keram begini.
Lima belas menit berlalu, di dengarnya juga masih ada suara Sri di kamarnya. Ia menghembuskan nafasnya pelan dan menetralkan jantungnya, inilah Dareen dengan sejuta egonya yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta bantuan Sri.
Ceklek. pintu dibuka, ia melihat Sri sedang melipat pakaian Fahira supaya lebih rapi mungkin untuk ditaruh kembali di lemari. Aaahh ia tidak tau, yang terpenting Sri harus membantunya.
"Heh sialan, ambilin handuk gue buruan" ucap Dareen, badannya masih di kamar mandi, hanya kepalanya saja yang mebyembul keluar.
"Woy, lo denger nggak sih jangan pura-pura budek lo, gue sumpain budek beneran tau rasa nanti" teriak Dareen lagi. Ia kesal karena Sri tidak menghiraukannya.
Tetap saja, Sri tidak bergeming, rencananya ia tidak akan bangkit jika Dareen masih memanggilnya sialan atau woy, atau kata kasar lainnya, karena ia adalah seorang istri yang berhak protes jika suaminya salah.
"Eh cewek kampung, jangan sok cuek lo yaaa"
"Atau kalau nggak lo keluar gih dari kamar gue, gue mau keluar dari kamar mandi ini" ucap Dareen lagi.
Sri bangkit dari duduknya karena ia juga sudah selesai membenahi pakaian Fahira, mengambil Fahira lalu hendak keluar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti kala mendapatkan sebuah rencana di otaknya.
Surganya mungkin belum terlihat, namun jika ia bisa mencapainya maka mereka akan segera bertemu.
Sri meletakkan Fahira kembali di kasur, dan kemudian mengambil handuk dari tempat penyampaian, ia lalu menuju kamar mandi dan tersenyum menyeringai, Dareen sudah senang melihat langkah Sri yang menuju ke arahnya karena baginya begitulah Sri, meski ia sudah bersikap buruk pada Sri, namun Sri tetap saja selalu menurut.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Sri menghentikan langkahnya, di jarak sekitar dua meteran, Sri menggantung handuk Dareen dengan mengangkatnya.
"Jika ini yang Mas mau, Mas bisa ambil sendiri, disini dari tanganku" ucap Sri penuh keyakinan, itu adalah kalimat pertama yang ia ucapkan setelah puasa ngomong dengan suaminya beberapa hari ini.
"Heh sialan maksud lo apa sih, lo mau gue te*anjang dari sini ke situ buat ngambil tuh handuk" tanya Dareen sebal.
Sri tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecut karena panggilan Masnya dibalas Sialan oleh Dareen.
"Buruan bego, gak mungkin kan gue aaah" Dareen terlihat frustasi. Kakinya yang sudah kram dari tadi membuat moodnya sangat buruk.
Entah apa yang Dareeen umpatkan dalam hatinya tentang Sri, tapi dari tatapannya ia sangat tidak menyukai moment ini.
Lama keduanya berhadapan, Dareen masih dengan egonya, sementara Sri masih tetap pada pendiriannya.
"Oke katakan gue harus apa biar lo bisa kasih tuh handuk buat gue, atau lo keluar aja sih sana dan gue bisa bebas mau te*anjang juga ini kamar gue" ucap Dareen.
"Aku tidak suka Mas Dareen panggil aku kek gitu" jawab Sri lembut.
"Kek gitu gimana emangnya" tanya balik Dareen.
"Ya kayak tadi" jawab Sri.
"Sialan ? Ya emang nyatanya lo itu sialan kan, udah terima aja itu cocok kok buat lo"
Masih mending gak gue panggil murahan, ini aja buktinya lo itu murahan banget bisa-bisanya lo mau liat tubuh gue yang berharga ini.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!