
"Pagi calon pacar..." sapa Angga.
Saat ini pemuda tengil itu sedang menjemput Rara untuk mengantarkan gadis itu ke tempat kerja.
Sekalian dirinya juga ada kelas pagi hari ini.
"Lo bisa nggak sih kondisiin, itu kan ada Ayah, gak malu apa?" bisik Rara.
"Pagi calon Ayah mertua!" bukannya malu Angga malah semakin tidak tau malu menyapa Ayah Rara dengan sebutan begitu, Rara hanya bisa melongo tidak percaya, sementara sang Ayah melirik sekilas lalu kembali membaca koran.
Tidak ada tanggapan namun tidak juga ada penolakan.
Angga gegas menyalami tangan Ayah Rara, dirinya cukup tau diri bagaimana adat bertamu kerumah orang, apa lagi yang dihadapinya adalah orang tua calon pacarnya.
"Kita berangkat dulu Yah!" ucap Rara meminta izin.
"Iya hati-hati!" ucap Ayah Rara.
"Berangkat dulu Yah!" pamit Angga.
"Iya!"
Lalu Rara dan Angga pergi untuk memulai aktivitas mereka.
"Ayah, tumben Ayah setuju sama itu bocah?" tanya Ibu Rara sembari nyomot kue nastar dari dalam toples di meja.
Dirinya melihat interaksi antara Angga dan suaminya, nampak biasa saja, suaminya seakan senang-senang saja akan kehadiran Angga yang sudah rutin tiap pagi dan malam.
"Memangnya kenapa?"
"Ya kan nggak biasanya!" ujar Ibunya Rara.
"Nah Ibu harus tau, burungnya mahal, sayang kalau dilewatin!" jawab Ayahnya Rara sembari matanya tetap masih berfokus pada koran.
"Burung?" heran Ibunya Rara.
"Iya Burungnya Angga itu mahal, mana petarung sejati lagi! Katanya sih, tapi belum Ayah buktiin bisa nggak dia bikin kicep lawannya!" jawab Ayah Rara santai, dirinya masih berfokus pada berita kenaikan harga minyak goreng yang semakin melambung tinggi, bukan cuma naik tapi keberadaannya pun juga langkah.
"Ayah!!!" pekik Ibunya Rara, dirinya terheran-heran mengapa suaminya tiba-tiba membahas burungnya Angga.
"Kenapa sih?" tanya Ayahnya Rara, menoleh sekilas kemudian melanjutkan lagi membaca koran paginya.
"Ayah bener-bener yah!" kesal Ibunya Rara
"Kenapa sih Bu?" tanya Ayah Rara lembut.
__ADS_1
"Ini menyangkut masa depan anak kita lho, Ayah malah seenaknya aja bahas burungnya Angga." Ibu Rara dongkol bukan main.
"Lah terus kenapa, Ibu kan tanya kenapa Ayah bisa setuju aja, ya Ayah jujur siapa coba yang nggak mau sama burung mahal?" Ayah masih bersikeras mempertahankan prinsipnya.
"Ayaaahhhh..." geram Ibunya Rara, dia bangkit dan berlalu pergi meninggalkan sang suami, ia kesal sekesal-kesalnya, suaminya itu memang benar-benar, bisa-bisanya membahas hal begituan.
"Lho Bu, kenapa ini, main pergi-pergi aja?" heran Ayahnya Rara, pria paruh baya itu bergegas menyusul istrinya yang sudah berada di kamar, namun saat dirinya ingin masuk pintunya malah dikunci, alhasil dirinya hanya bisa memanggil-manggil sang istri dari luar kamar.
"Bu, kenapa sih, ya wajar kalau Ayah banggain burungnya Angga, itu burung memang burung mahal." ucap Ayahnya Rara.
"Dasar Ayah, bisa-bisanya malah tergiur sama burungnya Angga." sahut Ibunya Rara dari dalam.
"Ya kan lumayan Bu!"
"Eerrggghh, Rojali bisa-bisanya elu yeee demi burung ntuh bocah, emangnya elu udah pernah liat itu burung jadi lu bilang mahal, bilang petarung sejati, yakin banget nyerahin anak elu sama tuh bocah?" Ibunya Rara sudah emosi, bahkan dirinya sudah berkata tidak sopan pada sang suami.
"Udah Bu, kan kemaren Angga kesini juga, nah Ayah liat itu langsung."
Ceklek,
Plak plak plak!
Tubuh gempal Ayah Rara kini sudah menjadi samsak tamparan Ibunya Rara, air mata Ibunya Rara sedikit menetes, entahlah karena apa, karena mendengar pernyataan suaminya barusan atau mungkin juga karena sakit di telapak tangannya habis menampar keras tubuh gempal itu.
"Aduh Bu, aduh kok malah nampar ayah sih?" tanya Ayah Rara tanpa dosa telah membuat istrinya salah paham.
"Yah Bu, kok diputusin, belum juga pacaran itu anak gadisnya!" ucap Ayah Rara seakan memang tidak tau situasi dan kondisi.
"Ya kalau gitu tinggalin!"
"Jangan dong Bu, kalau ditinggalin gimana dong sama burung mahalnya? Kan gak enak!" Ayah Rara meringis mengusap bekas tamparan maut istrinya, memasang muka sedih minta dikasihani.
"Ibu nggak peduli, burung mahal kek, apa kek, kalau anak kita dipermainin gimana? itu bocah tiap hari main kesini bikin gosip warga se-RT dan Ayah malah udah pernah liat burungnya!"
"Ayah macam ape elu Rojali?"
"Ya aku ayah dari anak-anakmu lah!" ujar Ayah Rara berhasil bikin gondok istrinya.
"Aarrgggghhh Rojali..."
"Ayah, ini burungnya Bang Angga yang mahal itu yah?" tanya Daffa, adik Rara paling bungsu.
Sejurus kemudian langsung saja Ibu Rara menoleh ke anak bungsunya yang sedang menenteng sebuah kandang burung dengan burung murai batu jawara di dalamnya.
"Eehh, jangan dimainin itu burungnya si Angga, mahal Daffa, Ayah nggak mampu kalau beli harus dirawat bener-bener ini." ujar Ayahnya Rara sembari mengambil pelan kandang burung beserta isinya itu dari tangan si bungsu.
__ADS_1
"Tapi kan Bang Angga udah kasih ke Ayah?"
"Iya, ini nanti bisa jadi modal, merdu kan suaranya, bulan depan mau ikut kontes dia?" puji Ayahnya Rara, tanpa perlu menjelaskan apapun pada sang istri.
"Iya Yah, tadi aku udah denger." jawab Daffa.
"Ibu kenapa Yah?" tanya Daffa lagi saat melihat Ibunya seakan tak henti-hentinya mengusap dada, lalu menarik nafas seperti baru saja dikejar setan.
"Gak tau, gak pernah liat burung mahal mungkin!" jawab Ayah Rara santai.
"Siapa namanya Yah?" tanya Daffa, kini Ayah dan si bungsu sudah asyik dengan burungnya Angga, lebih tepatnya burung yang dihadiahkan Angga sebagai sogokan.
"Coba tanya? Hahahaha!"
Keduanya nampak riang tertawa tanpa memikirkan wanita yang sudah mau kejang akibat salah paham.
Sementara itu,
"Lo kok bisa santai banget ngadepin Ayah gue?" tanya Rara saat dirinya masih dibonceng Angga, memeluk calon pacarnya itu dari belakang, ah mesranya.
"Ya santai lah, buat apa ngebut!" jawab Angga nggak nyambung.
Ya iyalah, sogokannya lima puluh juta itu murai batu jawara.
"Iihh, gue serius, becanda mulu bawaannya." dengus Rara.
"Ya santai lah calon pacar, kan sama-sama makan nasi, Ayah lo nggak galak kok, nggak seperti yang pernah lo bilang, sengaja banget mau nakutin gue!" ucap Angga, kini mereka sudah berada di perempatan lampu merah, Angga mengusap pelan lutut Rara yang berbalutkan jeans high waist tersebut.
"Ya cuma sama lo doang kali, berapa kali cowok kerumah deketin gue selalu aja matanya sinis banget tuh orang tua!" ucap Rara.
"Iya deh, yang banyak deketin..." sindir Angga.
"Ih, lo apaan sih, jangan kek gitu, lo malah lebih parah, harusnya gue yang protes!" kesal Rara, gadis itu mencubit berapa kali pinggang Angga, sehingga Angga merasakan sedikit kesakitan.
Tap!
Dengan cepat Angga mengambil tangan Rara yang telah dengan berani mencubit pinggangnya tadi, kemudian mengecup punggung tangan itu singkat.
Deg deg deg!
"Angga sialan!"
*
*
__ADS_1
*
Like, koment, dan Vote !!!