Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Jangan sentuh dia !!!


__ADS_3

Maka dengan bangga kami umumkan, juara satu umum untuk tahun ini dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam adalah Jason Ares Adrian" ucap pembawa acara diiringi tepuk tangan riuh semua orang.


Nah lho, beruntung Shirleen mencoba fokus meski Mama Wina terus saja mengoceh ini dan itu, akan sangat memalukan sekali jika sampai ia tidak mendengar yang satu itu.


"Kepada ananda Jason Ares Adrian dan Wali Muridnya dipersilahkan naik ke pentas"


Dengan gugup namun tetap harus melangkah Shirleen menuju ke depan, banyak orang yang heran atas kehadirannya, ia bisa menebak pasti semua orang sedang bertanya-tanya siapa dia bagi Jason Ares Adrian yang sudah bagaikan artis itu.


Ia dan Jason lalu bertemu dan bersama-sama naik ke pentas, masih dengan riuhnya tepuk tangan.


Berikutnya pemanggilan juara ke dua dan ke tiga umum, barulah sebuah piala dan piagam penghargaan serta satu bucket besar bunga yang didalamnya berisi boneka kecil berseragam SMA di berikan pada masing-masing sang juara.


"Untuk ananda Jason Ares Adrian, silahkan menyampaikan pesan dan kesannya sedikit saja, sebagai juara satu umum silahkan berikan sedikit motivasi untuk adik-adik kelasmu atau mungkin kesan bagaimana selama tiga tahun ini" ujar Pak Kepala Sekolah, saat sudah memberikan beberapa bingkisan untuk mereka yang berprestasi.


Jason mengangguk pelan, sebuah keberuntungan bagi siapapun fansnya yang berada di ruangan itu, karena sebentar lagi bisa mendengar suaranya secara langsung.


Jason mulai menyampaikan kesan dan pesannya, suasananya hening tercipta, semua orang tampak sangat menghayati apapun yang keluar dari mulut Jason.


Beruntung tidak ada yang bertanya siapa wali muridnya, namun sebenarnya bukan masalah bagi Jason jika saja ada yang menanyakan hal semacam itu, dia akan sangat bangga mengatakan bahwa wanita yang bersamanya kini adalah mempelai wanita yang akan bersanding dengannya besok.


Semuanya berlalu aman saja, sampai akhirnya acara perpisahan sekolah tersebut selesai.


"Kita mau kemana sih By sebenarnya" tanya Shirleen saat mereka sudah berada di parkiran.


"Yeee kalau misal udah dikasih tau itu bukan kejutan namanya By" jawab Jason.


"Kamu tuh selalu aja kayak gini, main kejutan mulu"


"Udah ikut aja yuk, nanti pasti kamu bakalan suka, pecaya ajah" yakin Jason.


Shirleen pun menurut, ia juga yakin sih suaminya itu pasti tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh.


Weni sedang berada di sebuah cafe untuk menemui cliennya, ia sedang membolak balik lembar menu sembari menunggu kedatangan cliennya.


Tibalah sepasang suami istri tampak menemuinya, selain bisnis Butiknya Weni juga pelan-pelan mengembangkan sayapnya membuka jasa Wedding Organizer, berkat kegigihannya saat ini ia sudah benar-benar menjadi wanita karier yang sukses.


"Dengan Ibu Weni" ucap sang istri.


"Iya, Ibu Sarah ?" tanya balik Weni.

__ADS_1


"Iya, sudah lama, kita bicara santai aja ya, panggil saja aku Sarah"


"Ah iya Sarah, kamu juga panggil aja aku Weni, aku baru kok, mari silahlan duduk" ucap Weni.


Ketiga orang itu pun berbincang apa saja seputar Wedding Organizer, katanya pelanggannya kali ini ingin tema yang sederhana, dekor dalam rumah, karena ini hanya untuk akad saja, diketahui juga yang akan menikah ternyata adalah adiknya, Weni mengangguk paham, setelah menentukan harga dan deal satu sama lain, maka Weni akan mendapatkan uang muka senilai setengah dari harga yang telah di tentukan.


"Wen, aku ke toilet dulu yaaa, Mas ini tolong tasku" ucap Sarah pada suaminya.


"Ah iya silahkan" ucap Weni.


"Wen kamu jangan pulang dulu yaaa, DPnya kan belum aku bayar, nanti aku coba cari ATM di sekitar sini dulu, kamu ngobrol-ngobrol aja sama suami aku sebentar"


"Iya Sar"


Sarah pun berlalu ke toilet, karena ia sudah merasa tidak nyaman akan adanya sesuatu yang harus segera dituntaskan.


"Kalau boleh tau umur kamu berapa sih ?" tanya laki-laki yang bernama Rasya, kira-kira umurnya seumuran dengan Weni, memiliki alis tebal dan wajah yang tidak terlalu putih, sudah Weni duga laki-laki yang bersamanya ini pasti akan genit pada setiap wanita, tampang playboy begitu kentara jika dilihat dari muka.


"Dua puluh sembilan Mas" jawab Weni canggung.


"Wah nggak beda jauh dong, aku baru tiga puluh" ucap Rasya, ia sudah berpindah duduknya mendempet dengan Weni.


"Mau kemana, disini aja, aku dengar kamu pengusaha muda dan belum menikah, aku rasa di usiamu saat ini, hal seperti itu pasti membuatmu sangat kesepian" ujar Rasya, ia sudah mendekatkan wajahnya pada Weni, Weni saja bisa mencium aroma parfum laki-laki yang sudah di cap brengsek olehnya itu.


"Itu bukan urusan kamu" ucap Weni ketus. Sebisa mungkin ia menghindari Rasya, ingin lepas namun tangannya sudah di tahan, dan lengannya sudah dicengkram.


Ia tidak pernah berdekatan dengan laki-laki manapun, hanya dengan Athar itupun hanya sebagai seorang sahabat akrab dulunya.


"Hei hei hei, jangan galak-galak, kamu semakin membuatku bersemangat dengan pemberontakanmu ini" ucap genit Rasya.


"Jangan seperti ini, lepaskan saya" mata Weni sudah memanas, namun apa daya ia kalah tenaga dengan laki-laki brengsek didekatnya ini.


"Kenapa sayang hemm, rilex saja tidak akan ada yang lihat, atau kamu mau kita melakukannya disini ?" ancam Rasya.


"Hentikan, anda sudah menikah seharusnya anda malu melakukan ini pada seorang wanita lainnya" bentak Weni, ia benar-benar tidak habis pikir mengapa ada lelaki seperti itu di dunia ini.


"Katakan, apa seorang perawan tua sepertimu ini masih gadis, ayo bermain-main denganku, aku bisa memberikan apapun yang kau mau dengan hanya kau mau tidur denganku sekali saja" Rasya mulai melancarkan aksinya, bahkan ia sudah memeluk paksa Weni. Ia tidak perduli dengan banyaknya pengunjung cafe, spot yang Weni pilih memang menguntungkan sehingga sebagian orang tidak akan melihat aksi gilanya ini, ia sangat berterima kasih untuk itu.


"Cuih" Weni meludahi tepat di wajah lelaki itu "Dasar biadab, laki-laki brengsek, tak tau malu lepaskan saya, lepas" ucap Weni setengah berteriak, sehingga membuat sebagian pengunjung menoleh padanya dan Rasya.

__ADS_1


Saat itu juga, Sarah yang sudah selesai dari toilet hendak menghampirinya, Sarah terkejut bukan main saat didapatinya sang suami sedang memeluk Weni, seperti wanita lainnya ia pun juga sama, pasti akan sangat marah jika dihadapkan dengan posisi seperti itu.


"Apa-apaan kalian ?" geram Sarah.


Ia lalu menampar Weni dengan keras tak tanggung-tanggung membuat pipi Weni yang putih bersih itu tampak dihiasi bekas merah.


"Dasar wanita murahan, berani-beraninya godain suami orang" ucap Sarah, dan berhasil membuat sebagian besar pengunjung cafe tersebut berbondong-bondong ingin melihat apa yang telah terjadi.


"Kamu juga Mas, bisa-bisanya kamu yaaa" ucapnya pada Rasya, ia menatap sengit Weni dan suaminya itu.


"Bukan gitu Dek, aku khilaf, lagian dia duluan yang ganjen sama abang, dia ini katanya udah sering open BO makannya dia godain abang, mungkin pasarnya lagi sepi makannya dia nawarin langsung gitu, aku aja awalnya merinding" kilah Rasya, tanpa memperdulikan Weni yang tampak sangat ketakutan.


Weni memang sedikit trauma, pertama kali dipeluk lelaki yang bukan muhrimnya apa lagi dengan secara paksa, bahkan tadi ia sudah dilecehkan seperti itu membuatnya ketakutan dan ingin menangis, namun hatinya terlalu kuat sehingga ia bisa menahannya didalam sana.


"Kamu percaya sama abang kan dek ?" rayu Rasya pada istrinya.


Sarah mengangguk pelan, selama ini ia sangat percaya dengan suaminya itu.


"Sarah, Sarah kamu harus percaya sama aku, suami kamu ini nggak benar, dia dia yang sudah..." Weni tidak bisa melanjutkan kata-katanya, rasanya terlalu memalukan jika dijelaskan.


"Apa, sudah apa ? Dasar tidak tau diri, perempuan ja*ang, penggoda" Sarah menjambak rambut Weni.


"Sarah, kamu harus percaya sama aku, Sarah"


"Apa ? Wajar aja kamu nggak laku, siapa juga yang mau sama perempuan ja*ang kayak kamu"


"Sarah, dia suamimu sudah berkhianat Sarah, suami kamu itu nggak benar, suami kamu itu brengsek" ucap Weni sambil merasakan sakit rambutnya di jambak, ia sudah mencoba melepaskan tangan Sarah dari rambutnya, namun masih belum berhasil.


Begitu ramai yang menyaksikan, hampir semua pengunjung cafe tersebut bersuara menghujat Weni, bahkan ada yang mendukung aksi gila Sarah saat menjambak rambut Weni, mereka beranggapan hal tersebut adalah drama istri sah yang sedang melabrak pelakor, tanpa tau apa sebenarnya yang terjadi, mereka sudah menyimpulkan sendiri siapa yang bersalah dan siapa yang tersakiti.


Saat Sarah ingin menampar Weni lagi, tangannya malah tertahan oleh sesuatu.


"Jangan sentuh dia !!!"


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


Happy reading !!!


__ADS_2