
"Ya, cari siapa ya?" tanya seorang wanita paruh baya pada Rara.
Yah saat ini Rara sudah berada di depan pintu utama sebuah rumah di kawasan perumahan XZ nomor 22, ia bingung juga harus menjawab apa, dia saja tidak tau kesini harus menemui siapa, hanya disuruh datang saja sebagai bentuk terimakasih atau ganti rugi karena orang tersebut sudah membayar jasa perbaikan motornya.
"Saya kesini eemm," gagap Rara, saya kesini... Kenapa kesini, eh gue jawab apa sih harusnya, batin Rara sungguh kebingungan.
"Siapa Bi?" tanya seorang laki-laki yang lebih tua dari Rara, tampan mirip dengan siapa sih, kok kayak kenal batin Rara lagi.
"Ini Den, gak tau cari siapa orang si Enengnya belum jawab!" ucap wanita paruh baya tersebut, yang bisa Rara simpulkan bahwa wanita paruh baya itu adalah pembantu di rumah mewah yang ia datangi ini.
"Mohon maaf Tuan, saya sebetulnya hanya disuruh kesini, seseorang di bengkel menyuruh saya pergi ke rumah ini, kalau tuan tidak percaya ini buktinya!" jawab Rara pada akhirnya, ia memberikan secarik kertas tadi sebagai bukti.
Namun seperdetik kemudian, "Ehe hahahaha," tawa si pria tampan itu menggelegar, Rara saja sampai tidak nyaman dibuatnya.
"Kamu percaya aja gitu disuruh kesini cuma karena ditunjukin alamat ini?" tanya pria tampan itu.
"Maaf Tuan, soalnya tadi orang bengkelnya bilang saya harus membayar biaya perbaikan motor saya dengan mengunjungi rumah ini" ucap Rara jujur.
"Dasar Angga, modus banget." gumam pria tersebut, Rara sampai melotot, meski dalam hatinya ia juga sudah menebak bahwa ini pasti perbuatan Angga namun ia tidak menyangka bahwa memang benar begitu.
Dan lagi ia melirik rumah yang ia kunjungi, sungguh mewah, sekaya apa sih Angga?
"Suruh dia masuk Bi!" perintah Diran yang adalah Kakak laki-laki Angga.
"Baik Den." ucap Bi Jum pembantu dirumah Angga.
Rara dipersilahkan masuk dan lalu diminta duduk sembari menunggu kepulangan Angga.
"Kamu tunggu saja sebentar, aku akan nelpon tuh anak, dia lagi dirumah sakit soalnya." ucap Kakaknya Angga.
"Ia Tuan."
"Jangan panggil Tuan dong, panggil Kak Diran aja sama kek si Angga!" ucap Diran.
__ADS_1
"Eem, iya Kak Diran!"
Diran lalu menelpon Angga, Angga di seberang sana pun sedikit terkejut kala Diran mengatakan ada yang mencarinya, namun tak lama dirinya ingat bahwa ia memang menyuruh seseorang untuk datang menemuinya di rumah.
Angga pun bergegas pulang, Afik tetap memilih menemani Jason di ruang rawat Shirleen, ia juga sedang bosan di rumah.
"Kamu tunggu saja, bentar lagi tuh anak pulang." ucap Dareen lagi pada Rara sembari tersenyum penuh arti, karena seumur-umur baru kali ini sang adik membawa seorang gadis ke rumah. Mungkinkah gadis ini spesial bagi sang adik pikirnya.
Tiga puluh menit berlalu, Rara sudah sedikit bosan menunggu, jus apel juga sudah dua gelas ia habiskan berikut setengah toples cemilan, lama sekali pikirnya, ia juga sudah terlambat datang ke Butik, beruntung bosnya bukan orang yang sangat ketat dalam peraturan dan kedisiplinan, sehingga saat ia meminta izin lalu mengatakan bahwa motornya mogok semalam dan sekarang dirinya tengah mengganti rugi di rumah orang yang membayari perbaikan motornya semalam, si Bos bisa memaklumi, kini ia hanya bisa berharap Angga segera datang sehingga urusannya dan Angga bisa terselesaikan. Ia tidak mau punya hutang budi.
"Assalamualaikum..." suara Angga terdengar memasuki rumah.
Rara menetralkan perasaannya, tadi saat belum bertemu Angga ia masih bisa mengumpati cowok itu dalam hati karena telah membuatnya lama menunggu, namun setelah mendengar suara laki-laki itu, entah kemana perginya Rara yang garang tadi.
"Waalaikum salam," ucap Rara pelan, sebagai umat muslim yang baik bukankah ia harus selalu menjawab salam kan, meski tidak didengar oleh Angga.
"Hai..." sapa Angga pada Rara.
Rara makin dibuat degdegan, sumpah jika Angga berjarak semakin dekat begini mengapa kadar kegantengannya menjadi bertambah.
"Kita kenalan ulang, Angga!" ajak Angga sembari mengulurkan tangannya.
"Em Rara!" jawab Rara menyambut uluran tangan Angga.
"Hemm Rara," Angga mengangguk pelan, meski ia benar-benar tidak ingat namun ia mencoba berakting untuk mengingat nama itu, biarkan saja yang penting menjadi asyik saja dulu.
"Ah iya, gue ingat." ucap Angga kemudian untuk melancarkan aktingnya.
Rara nampak tersenyum, merasa dihargai tanpa tau yang sebenarnya.
"Jadi... Lo nyuruh gue kesini, untuk apa?" tanya Rara langsung pada intinya.
"Gak untuk apa-apa, cuma mau kenalan sama lo, lo semalam jutek banget makasih aja nggak." sindir Angga terang-terangan.
__ADS_1
"Ahh yaa, eem duh maaf ya, untuk yang semalam by the way makasih tumpangannya." gagap Rara, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Hehe, nyantai aja kali, gue seneng bisa bantu!" ucap Angga.
"Eem maaf udah ngerepotin, dan untuk masalah motor gue yang udah diperbaiki, sekali lagi gue makasih, kiranya berapa itu biayanya, biar gue bisa ganti." tanya Rara, ia sungguh merasa tidak nyaman pada Angga.
"Emm, gue nggak mau diganti dengan duit, kalau gue minta waktu lo satu hari kiranya bisa nggak?" tanya balik Angga.
Sungguh demi apapun Rara pengen jingkrak kegirangan saat itu juga, saking senangnya ya ampun apa dirinya tidak salah dengar, seorang Angga yang ganteng dan kaya begini terang-terangan meminta waktunya satu hari, demi apapun jantungnya mau copot, apa itu artinya Angga mau ngajakin dia jalan, satu hari, seharian, tidak Rara tidak akan melewatkan kesempatan ini pikirnya.
"Eem untuk apa, kayaknya bisa-bisa aja sih, tapi jangan hari ini." jawab Rara, besok pun oke saja meski ia harus izin lagi dengan bosnya, terserah kalaupun mengharuskan, ia berjanji akan lembur untuk mengganti hari mangkirnya.
"Oh ya, beneran bisa, kalau gitu misalnya akhir pekan ini kamu kemana, ada acara nggak?" tanya Angga gercep.
"Eem, gak kemana-mana, libur kerja kayak biasanya dirumah aja." meskipun ada acara gue rela batalinnya Ga, sumpah demi jalan sama lo. Rara sungguh sangat senang hati.
"Oohh, emangnya lo kerja apa?" tanya Angga langsung.
Duarrrrr, Rara melotot tidak percaya, lalu apa tadi yang Angga bilang kalau cowok itu sudah ingat siapa dirinya, sementara ini apa-apaan nanyain pekerjaannya, bukankah kalau Angga sudah ingat seharusnya Angga juga sudah tau ia bekerja dimana.
Bukankah pertemuan pertama mereka di tempat kerja Rara, Butik Angel's W. Rara mendelik tajam, bukan karena Angga tidak mengenalinya lagi, namun karena Angga ketahuan berbohong, bohong kalau sudah mengingat dirinya namun sebenarnya tidak.
Lah kok berubah masam itu mukanya.
Angga meneguk salivanya kelat kala melihat perubahan wajah cewek yang sedang ia taksir, entah ada salah bicara apa dirinya.
"Eemm Rara maaf, kamu mau minum?" tanya Angga, konyol saat seperti ini ia tidak tau harus berbuat apa.
"..." Rara diam saja, namun tatapannya bagai siap memaki Angga, sungguh dirinya sedang kesal sekesal-kesalnya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...