Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kenapa harus meminta maaf ?


__ADS_3

"Gimana Afik?" tanya Shirleen, saat Jason sudah kembali ke rumah.


"Udah bebas." jawab Jason.


"Oh syukurlah."


"Aku mau ke kantor dulu By, keknya malam ini bakalan lembur, nanti kamu minta temani Ipah aja yah." ucap Jason, lalu ia menuju kamar, untuk berganti pakaian.


"Iya By, hei aku mau ke supermarket nanti boleh, sama anak-anak sama Ipah nanti, sekalian mau nengokin cafe?" ucap Shirleen meminta izin.


"Ooh, ya udah, tapi nanti jangan capek-capek yaaa, kamu masih hamil muda." ucap Jason.


"Sini aku pasangin!" Shirleen mengambil dasi dari laci hendak memasangkan pada Jason.


"Nggak usah, aku nggak pake itu, biarin gini aja lagian nggak ada pertemuan atau rapat lagi nanti, aku cuma ke kantor mau ngerjain berkas." tolak halus Jason.


"Oohh, tapi kan."


"Udah By, gak papa!" Jason mengecup singkat kening istrinya itu, kali ini ia tidak melupakan sesuatu, ia mengulurkan tangannya pada Shirleen dan Shirleen pun menyambutnya.


"Ingat, jangan bikin masalah sama orang, aku nggak mau kejadian pas kamu hamil Jacob terulang lagi." ucap Jason.


"Iya By, lagian ini kan ada Ipah."


Ah Shirleen ingat saat itu, ia sampai masuk rumah sakit karena Riana, kira-kira kemana hilangnya tas branded yg baru saja ia beli itu, apa diambil orang, beruntung sekali yang mengambilnya bisa mendapatkan tas seharga dua puluh juta tersebut.


Riana, wanita itu kabarnya sudah meninggal, kasihan sekali, semoga ia sudah bertobat dan dalam keadaan hidup bahagia menjadi istri Mas Athar hingga akhir hidupnya pikir Shirleen.


Jason berlalu pergi, ia menuju kantor karena memang ada banyaknya pekerjaan, Roy akan pulang sekitar dua minggu lagi, dan selama itu juga ia harus memforsir dirinya untuk bekerja lebih.


Sesampainya di kantor, ia langsung menuju ruangannya, Mery sudah mempersiapkan segalanya, berkas-berkas yang ia butuhkan sudah ada di atas meja kerjanya, ia hanya tinggal mengoreksi, beruntung saja beberapa hari bekerja dengannya Mery juga lumayan cepat tanggap, jadi jika hanya untuk urusan berkas penting dan penyiapan jadwalnya Jason tidak perlu terlalu khawatir, sedikit banyaknya Mery sudah bisa mengambil alih.


"Mery, ke ruangan saya."


Jason akan menanyakan perihal dinas luar tiga hari kedepan, ia rasanya tidak bisa meninggalkan istri dan anaknya.


Tok tok.


"Masuk." sahut Jason.


Mery membukakan pintu lalu masuk ke ruangan, hawa mencekam selalu saja masih menyeruak saat ia berhadapan dengan Jason, sungguh padahal yang sedang ia takuti bahkan duduk manis biasa saja, namun dirinya entah mengapa ia tidak bisa bersikap biasa saja jika dihadapkan dengan Bosnya itu, selalu saja ada sedikit gemetar, mungkin karena rumor yang beredar bahwa Bosnya itu menyukai kesempurnaan, ia takut ada masalah dalam apa yang ia kerjakan sehingga ia dipanggil kesini.


Padahal bukannya biasa seorang Bos memanggil sekretaris ke ruangannya, namun bagi Mery tidak untuk Jason, karena Jason, Bosnya itu hanya akan memanggil dirinya seperlunya saja, hanya dua kemungkinan, entah itu ada yang ingin ditanyakan atau bisa juga dirinya melakukan kesalahan.


"Kau tau kenapa dipanggil kesini?" tanya Jason tegas.

__ADS_1


"Tidak Tuan." ucap Mery.


"Kenapa menunduk, kau merasa melakukan kesalahan?" tanya Jason lagi, ia heran tidak Roy tidak Mery selalu saja bersikap begini. Apakah ia sangat menakutkan.


Ia mengambil ponsel, lalu sekilas berkaca pada layar di ponselnya, ah hanya kegantengan yang ia jumpai, tidak ada kesan pemakan manusia pikirnya, lalu apanya yang menyeramkan jika berhadapan dengannya.


Mery mencoba berpikir cepat, sekiranya apakah ia melakukan kesalahan, namun nihil rasanya ia melakukan semuanya sesuai tugasnya, sesuai apa yang diperintahkan.


"Kenapa diam?" tanya Jason lagi.


"Tidak Tuan!" ucap Mery.


"Heee," Jason mengkerutkan kening, "Apanya yang tidak?" tanyanya.


"Maksud saya, saya merasa tidak melakukan kesalahan!" ucap Mery, tegas namun masih bisa terbaca oleh Jason bahwa sekretarisnya itu sedikit ketakutan.


"Percaya diri sekali anda, apa dirimu sedang ketakutan." ucap Jason lagi, dirinya sudah lama tidak membuat manusia dipenuhi rasa takut seperti ini, lucu sekali melihat ekspresi Mery, sudahlah tak apa ia hanya ingin sedikit bermain, sebelum benar-benar bermain-main.


Lagipun, ia hanya ingin menguji ketahanan sekretarisnya.


"Maafkan saya Tuan." ucap Mery.


"Maaf? Apa kamu merasa melakukan kesalahan?" tanya Jason lagi.


"Tidak Tuan."


"Itu..." Mery sungguh tidak mengerti kondisi macam apa yang sedang ia hadapi ini, benar-benar membingungkan, kalau bisa katakan saja apa salahnya, ia akan meminta maaf beribu ampun lalu akan berusaha memperbaiki kesalahannya, sudah kan meski ia tau laki-laki dihadapannya ini menyukai kesempurnaan, tidak apa ia akan berusaha untuk berkompromi.


"Kau diam lagi." ucap Jason.


"Tuan, bisa katakan apa salah saya, kalau memang benar ada maka saya akan segera memperbaikinya." ucap Mery yang pada akhirnya lebih memilih mengatakan itu.


"Kau berani memerintahku?" tanya Jason, sedikit dibumbui wajah keterkejutan.


"Maafkan saya Tuan!" gagap Mery, duh salah lagi pikirnya.


"Maaf lagi?"


Jason memang minta diuyel-uyel kayaknya, tidak perduli dengan Mery yang untuk bernafas saja seakan sangat sulit, tenggorokannya terasa tercekik, Jason selalu saja bisa membalikkan keadaan.


"Tidak Tuan."


"Tidak apanya?"


"Saya tidak berani memerintah Tuan!" ucap Mery lagi.

__ADS_1


Anda Tuan penguasa yang sangat terhormat, mana mungkin hamba bisa memerintah Tuan.


Ingin sekali Mery mengatakan itu, namun apa daya dirinya hanya punya satu nyawa, tidak ada tukar maupun gantinya.


"Kenapa tidak?" tanya Jason.


Kenapa tidak, maksudnya apa kenapa tidak, tolong hentikan drama yang sama sekali tidak membuatku nyaman ini, kalau aku salah tolong bilang saja, ini terlalu canggung ah tidak-tidak lebih ke menakutkan.


"Maksud Tuan?" tanya Mery.


"Mery Nuriani, kau juga tidak diajarkan Roy tentang yang satu ini?" ucap Jason.


Mery menundukkan wajahnya, apa lagi ini batinnya.


"Ah tidak-tidak bagaimana dia bisa mengajarimu, karena Roy juga sepertinya sama saja denganmu!" ucap Jason lagi.


"Jangan terlalu sering meminta maaf disini, kau tau, itu hanya akan membuatmu menjadi rendahan!"


Mery mengangkat sedikit wajahnya, dilihatnya wajah Tuan Penguasa, ah masih sama menakutkan, meski ucapannya tadi sedikit melegakan.


"Aku tidak butuh maaf, di kantorku aku butuh seseorang yang mengerti, jadi jika aku tanya apakah kau melakukan kesalahan, maka jika kau merasa tidak melakukannya, bilang saja tidak dengan tanpa rasa ragu, yang kau hadapi ini manusia biasa bukan Tuhan."


"Kau bahkan meminta maaf padahal kau belum tau kau melakukan kesalahan apa."


"Saat aku tanya kau mengetahui atau tidak alasan kau dipanggil ke ruanganku, mengapa kau tidak menanyakan apa aku butuh sesuatu, apa yang aku butuhkan, bukannya malah menunduk dan meminta maaf."


"Baik Tuan."


"Aku tidak mengerti, apa aku begitu menakutkan bagi kalian semua di kantor ini, aku memang tidak menyukai adanya kesalahan, tapi salah itu adalah faktor alam, lumrah, tidak akan ada namanya benar jika tidak ada namanya salah, kalian hanya perlu bekerja dengan sebaik mungkin, tidak lalai dalam bertugas, aku pernah bilang dengan Roy, suatu saat dia akan mengerti apa yang aku maksud dengan menyukai kesempurnaan, dan sekarang aku juga akan mengatakan padamu, kalau kau merasa benar, mengapa gentar, kadang percaya diri itu perlu jika kau merasa kau memang sudah melakukan hal benar."


"Aku memang berkuasa di kantorku ini, tapi apa iya jika kalian sudah benar aku masih mencari-cari kesalahan kalian?"


"Aku rasa aku bukan pemimpin yang seperti itu kan?"


"Tidak Tuan."


"Kau mengerti?"


"Mengerti Tuan, lalu apa yang Tuan inginkan, apa Tuan butuh sesuatu?" tanya Mery, menggunakan seluruh kekuatannya untuk menanyakan itu.


"Duduklah, ini masalah keberangkatan dinas luar." ucap Jason.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2