
Pelan tapi pasti Jason menunduk, berjongkok dan mulai hendak meraih kaki kanan Shirleen, Shirleen yang diperlakukan begitu refleks memundurkan langkahnya.
"Kau mau apa By..." Tanya Shirleen.
"Aku ingin melihat ada sesuatu di telapak kakimu"
"Kakiku ? kenapa dengan kakiku ?"
"Ahh tidak tidak, biarkan aku saja yang buka" Shirleen menghentikan aksi Jason yang kini sudah meraih kaki kanannya.
Jason menurut, pandangannya terfokus pada kaki kanan Shirleen, hatinya menghangat jika ternyata benar Shirleenlah orangnya.
Kini Shirleen sudah membuka sepatunya, ia lantas bingung harus bagaimana.
"Ini sudah, ayo sebenarnya apa yang ingin kau lihat, tidak ada apa-apa, sudahlah" Shirleen ingin kembali memasang sepatunya, namun kakinya dipegang oleh Jason.
Pelan sekali Jason melihat telapak kaki Shirleen, ia terdiam, setetes air mata berjenis haru kini mengalir dari sudutnya.
Benar, Shirleenlah orangnya...
Flashback.
Seorang anak laki-laki terdengar sedang menangis dari kejauhan, tidak ada yang mendengarkan tangisannya membuat ia semakin ketakutan. karena dihadapannya kini ada ular besar yang siap memangsanya.
"Huusss, Hei pangeran kecil, jangan menangis nanti ularnya terganggu, kau diamlah disitu sebentar" Ucap seorang gadis yang tak lain adalah Shirleen remaja.
Lalu dengan segala keberaniannya Shirleen remaja turun menuju curam tempat dimana Jason kecil sedang dilanda ketakutan.
__ADS_1
"Tenanglah, ada kakak disini, siapa namamu ?" tanya Shirleen.
Namun Jason yang saat itu masih diliputi rasa takut, enggan untuk menjawab, ia hanya melihat wajah Shirleen yang begitu cantik seperti gambar putri yang ada di buku teman perempuan sekolah taman kanak-kanaknya.
Dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak membuat kegaduhan, Shirleen mencoba naik keatas sambil menggendong Jason kecil. Tubuh Jason yang tidak terlalu gemuk saat kecil seharusnya mudah bagi Shirleen untuk menggendongnya, Namun sayangnya keduanya harus terpeleset dan terjatuh lagi, keadaan yang membuat Shirleen remaja tidak sengaja mencium bibir Jason kecil, Jason merasakan aneh pada tubuhnya, padahal ia baru berumur 6 tahun pada saat itu. Jantungnya berdetak cepat, ia terpesona dengan wajah cantik gadis remaja yang menolongnya waktu itu.
Kaki kanan Shirleen yang tenyata terlepas dari sandalnya waktu itu tidak sengaja mengenai pecahan kaca yang entah kapan ada disana, darah segar mengalir dari telapak kakinya. Jason makin ketakutan dan merasa bersalah. Namun Shirleen saat itu tetap menenangkannya, ia lalu mencoba berusaha sekali lagi untuk naik ke atas, dengan kaki sakit dan darah yang terus mengalir.
Dan akhirnya keduanya berhasil naik keatas tanpa gangguan dari ular yang masih terus mematung.
Shirleen membuka ikat rambutnya yang berupa kain berbentuk pita panjang, dan itu sukses membuat si kecil Jason terpesona sekali lagi. Shirleen mengikat kakinya yang mengeluarkan darah, lalu mengusap sisa air mata dipipi Jason.
"Kau tidak apa-apa pangeran kecil, nah sekarang sudah aman ?"
Jason masih mematung, ia masih memandangi lekat wajah Shirleen. Hingga tepukan di bahunya membuyarkan lamunannya.
"Tuan Muda, apa terjadi sesuatu ?" Maid yang menghampirinya terlihat cemas karena mendapati tuan mudanya yang kotor seperti habis jatuh.
"Terima kasih nona, untung ada nona" ucap Maid itu menundukkan diri.
"Ah iya bibi, sepertinya ia shock karena ketakutan, nanti sadarkan dia yaaa" ucap Shirleen lagi.
Maid itu pun mengangguk, ia tidak bisa membayangkan kalau saja Tuan Mudanya ini tidak ada yang menolong.
"Hei pangeran kecil yang tampan, aku pergi dulu, jangan suka bermain sendirian yah" Shirleen yang gemas dengan wajah manis dan ganteng Jason kecil pun refleks mencubit pelan pipi chubby Jason, lalu ia memberikan kecupan singkat sebagai salam perkenalan sekaligus perpisahan.
Jason lagi-lagi mematung, ia begitu senang diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
Saat punggung Shirleen terlihat makin menjauh, ia tersadar, ia lupa menanyakan siapa nama kakak cantiknya itu.
Ia lalu kembali ke villa orang tuanya bersama maid tadi, dengan senyuman yang tak hentinya berkembang di sudut bibirnya.
Sejak hari itu, setiap akhir pekan ia selalu pergi ke tempat dimana ia pertama kali bertemu kakak cantiknya, namun nampaknya ia hanya bisa berharap karena semenjak hari itu pula ia tidak pernah lagi bertemu dengan gadis yang sudah menolongnya.
Bahkan sampai ia SMP pun, Jason masih saja sesekali mengunjungi tempat ini diakhir pekan, ia masih berharap bertemu kakak cantiknya itu, walaupun nanti kakak cantiknya sudah punya kehidupan sendiri baginya tidak apa, ia hanya ingin mengatakan terima kasih yang belum sempat ia katakan waktu itu.
Flashback off.
"Kau benar-benar milikku By..." Jason memeluk Shirleen erat, benar Shirleen adalah orangnya.
Orang yang kehadirannya selalu Jason harapkan, yang selalu Jason tunggu. Kakak cantiknya.
Shirleen nampak bingung, ia tidak mengerti kemana arah perkataan Jason.
"Iii iya By, aku kan memang milikmu, lalu ?"
ucap Shirleen sampil nyengir tidak jelas, keadaan macam apa ini sebenarnya.
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, dan vote
Hapy reading***...