
Hari ini adalah hari ketiga semenjak kejadian Sri yang menabrak Dareen, dan hari ini juga adalah hari bahagia Jason, karena ia mengetahui kabar yang sangat melegakan baginya yang begitu gersang itu.
Ia sengaja mempersiapkan segalanya untuknya dan sang istri tercinta. Ia sudah menyuruh Roy untuk mengurus semuanya.
Senyum merekah tidak hentinya Jason sunggingkan, sebentar lagi pikirnya.
Shirleen sedang memainkan ponselnya saat ini, karena begitulah aktivitasnya saat pagi, Misca dan suaminya sudah berangkat sekolah, maka tinggallah hanya ia dan Jacob berdua dirumah yang besarnya bukan main itu, sementara Jacob bayi itu masih anteng tertidur setelah tadi habis berjemur, hari ini adalah hari panas pertama setelah dilanda hujan beberapa hari sebelumnya.
Namun tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan hitam yang sepertinya lewat depan kamarnya. Ia lalu berlari keluar kamar memastikan penglihatannya, anehnya saat ia mencoba menelusuri di sebagian rumah itu namun tidak ada siapa-siapa dirumahnya.
Ia kembali teringat Jacob yang sendirian dikamar, lalu ia bergegas menuju kamarnya. dilihatnya Jacob masih seperti posisi semula.
Ia takut seseorang masuk ke rumahnya dan ingin berniat jahat, namun kembali lagi ia pikirkan bahwa semua itu pastilah tidak mudah mengingat Jason pasti sudah menyiapkan segala keamanan dirumahnya, ya dengan pekerjaan Jason dulunya itu semua mungkin saja.
Tadi aku benar-benar melihat bayangan hitam.
Seketika Shirleen merinding, rumahnya nampak sepi, ia tidak takut hantu karena selama ini ia tidak pernah mengalami hal mistis, namun sekarang ia malah menjadi orang yang sangat penakut.
Ia lalu menelpon suaminya, dan mengatakan apa yang baru saja terjadi, Jason menenangkannya dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang harus ditakuti di rumah mereka.
Jason juga mengatakan ini masih pagi, dan kalaupun hantu seharusnya mereka berkeliaran pada malam hari.
Shirleen tampak kesal, suaminya itu malah terlihat bercanda menanggapi penuturannya. Ia lalu mematikan panggilannya,.
Ia jadi parno, bagaimanapun ini pertama kalinya bagi Shirleen.
Ia berencana mengunci dirinya dan Jacob dikamar sampai Ipah datang nanti, dengan rumah seluas ini, heehh membayangkannya saja Shirleen tidak sanggup.
__ADS_1
Dan hari ini juga adalah hari pernikahan Sri dan Dareen, Dareen hanya bisa tersenyum kecut saat ia diminta oleh kedua orang tuanya untuk menikahi Sri dengan alasan karena ia sudah bersentuhan seperti pada malam yang dianggapnya sial itu.
Sangat aneh namun itulah kenyataannya, Dareen pun sudah berapa kali mengajukan protes dan banding bak sudah menjadi tersangka saja dirinya, namun pihak hakim yang tak lain adalah bapaknya sendiri yang seakan menurut Dareen sangat menhakimi itu tetap saja pada pendiriannya juga bahwa tepatnya hari ini ia akan menikahi Sri.
Berbagai alasan untuk dipertimbangkan sudah ia coba untuk menolak pernikahan dengan dalih tanggung jawab tersebut. Tanggung jawab apanya coba bahkan ia sama sekali tidak melakukan apapun pada Sri saat malam itu.
Ia merasa orang tuanya sudah tidak menyayanginya lagi, ini sungguh pernikahan paksa menurutnya.
Pun dengan Sri, yang tidak bisa menyuarakan isi hatinya sedikitpun, pagi itu juga ia diminta Pak Safar untuk segera mengabari orang tuanya di kampung bahwa ia akan dinikahkan dua hari lagi, wajah Sri memucat saat itu bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu sedang malamnya tadi baru saja ia menelpon orang tuanya melepas rindu yang menggebu di dada tanpa pernah membicarakan tentang pernikahan.
Malu, sangat malu Sri harus mengatakan tujuannya dan meminta simbok dan bapaknya berangkat ke Jakarta menemuinya di rumah Pak Safar dan Bu Halima, seseorang yang akan menjadi mertuanya.
Orang Tua Sri sangat terkejut, bahkan Dwi mengabarkan kondisi terakhir simbok yang sempat pingsan sesaat setelah mendengar kabar darinya yang ingin menikah.
Sri semakin merasa bersalah, ia merasa dirinya selalu menyusahkan orang tuanya. Semua ini salahnya yang sudah memilih merantau dan meninggalkan orang tuanya, karena dengan dirinya merantau masalah seakan selalu datang padanya tiada akhir.
Hari ini, ia dan Dareen resmi menikah, pernikahan paksa yang tidak bisa dihindarkan. Dareen tidak mengerti mengapa Ibu dan Bapaknya nampak senang melihat penderitaannya yang harus menikah dengan Sri yang ia duga janda anak satu itu.
Menikah muda saja tidak pernah terbayangkan olehnya apa lagi menikahi seorang janda, sungguh itu sama sekali bukan pilihan hidupnya.
Sri terus saja menunduk saat kerabat mulai berdatangan menghadiri acara resepsi pernikahannya.
Tidak banyak yang diundang, karena pernikahannya dan Dareen sangat sederhana dan hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja.
Lain halnya dengan Dareen yang nampak menampilkan wajah tidak bersahabatnya, sungguh pasangan pengantin yang aneh, mungkin merekalah pasangan pengantin yang sangat tidak bahagia atas pernikahan mereka.
Dareen terus saja menatap tajam Sri setiap kali pandang mata mereka bertemu, dan Sri selalu saja menundukkan pandangannya karena ia cukup tau dan tidak bisa berharap banyak, Dareen pasti sangat membencinya.
__ADS_1
Setelah acara selesai, mereka berdua mencoba beristirahat dikamar, Sri sudah pindah ke kamar Dareen karena sudah sah menjadi istrinya, sedang kamar yang ditempatinya dan Fahira waktu itu di huni simbok dan Bapaknya.
"Mas Dareen, mau mandi pakai air hangat ?" tanya Sri hati-hati.
"Mas Mas Mas, emang lo pikir gue Mas lo apa, udah gak usah disiapin gue bisa mandi dan nyiapin semuanya sendiri" angkas Dareen. Percayalah ia masih belum bisa menerima pergantian status yang sangat tiba-tiba baginya itu.
"Tapi Mas..."
"Tapi, heh simpan tapi lo itu, emang lo pikir lo itu siapa hah, gue nggak pernah bayangin ataupun apalah yaaa, gue bener-bener gila bisa nikah sama lo tau" Dareen langsung memotong ucapan Sri, ia tidak membiarkan Sri berbicara apapun, ia begitu malas mendengar Sri berucap.
"Mas..." ucap Sri lirih.
"Jangan panggil gue Mas bisa nggak sih, gue bukan Mas lo" bentak Dareen.
"Dareen, izinkan aku mendapatkan surgaku, aku hanya ingin menjadi istri yang baik, tidak masalah jika kamu belum bisa menerima pernikahan ini, karena akupun sama, tapi status kita sudah sah sebagai suami istri, akan sangat tidak pantas jika aku memanggilmu dengan nama seperti ini, maafkan aku jika sudah membuatmu menikah denganku, tapi tolong percaya ini juga bukan mauku" Dengan lembut Sri memegang tangan suaminya itu, meski Dareen belum bisa menerimanya dan ia pun belum juga mencintai Dareen, namun baginya disini ia adalah seorang istri, dan ia sangat menghargai sebuah pernikahan, sebuah ibadah yang harus selalu ia jaga, walau bagaimana pun kini Dareen adalah suaminya.
"Lepasin tangan gue, lo jangan cari kesempatan yaaa" ucap Dareen "Minggir gue mau mandi" bentaknya lagi.
"Astagfirullahaladzim, kuatkanlah hati hambamu ini ya Allah untuk selalu berada dijalanmu, bukalah hati suami hamba, izinkanlah hamba menjemput ridho suami hamba" lirih Sri, ia berharap pernikahannya ini adalah sekali seumur hidup dan untuk selamanya, meski saat ini belum ada cinta diantara keduanya namun besar harapannya ia dan Dareen bisa segera menerima.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1