Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
MAMA...


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Yudha sudah memutuskan untuk mengambil cuti kuliahnya, tidak perduli lagi akan kuliah, yang terpenting baginya saat ini adalah orang tuanya, Mama!


Weni juga tidak ke mana-mana, sesekali dirinya meninjau Butik miliknya, hari-harinya Weni habiskan di rumah sakit, menemani Mama Wina yang sedang dirawat inap.


Mama Wina tidak bisa mencegah semua yang terjadi, saat ini saja yang dirinya butuhkan hanyalah putranya, jadi dirinya juga tidak bisa membayangkan jika Yudha sudah kembali ke Jerman dua hari setelah pernikahan seperti yang awalnya dirinya minta.


Mama Wina sangat kuat, tidak sedikitpun dirinya mengeluh, meski rasa sakit tidak bisa dirinya sembunyikan.


"Ma, makan dulu ya!" suruh Weni, istrinya Yudha itu membantu mertuanya makan, dengan tulus hati Weni merawat mertuanya.


"Wen, Yudha mana?" tanya Mama Wina, wanita paruh baya itu menyembunyikan sakit yang teramat.


"Mas Yudha sedang keluar Ma, sama suaminya Shirleen, ada apa? Biar aku telpon Mas Yudha!"


"Tidak apa!"


"Makan dulu Ma!" ucap Weni lagi, dan dibalas anggukan oleh Mama Wina.


Weni menyuapi makan Mama Wina, hari ini Mama Wina tampak berbeda, makan hanya sedikit tidak seperti biasanya, yang selalu mencoba menghabiskan makanannya.


"Mama udah kenyang Wen!" ucap Mama Wina.


"Ya udah, minum dulu Ma!"


Mama Wina meneguk satu gelas air minum itu hingga tandas.


"Mama mau tidur Wen." ujar Mama Wina.


Weni menyelimuti Mama Wina, dia dengan senantiasa menunggui Ibu dari suaminya itu.


"Apa tidak bisa lagi cara lain?"


Jason bertanya pada dokter spesialis onkologi di rumah sakit keluarga Adrian.


Dokter spesialis itu menggeleng, sayang sekali bukan dirinya hendak menyerah, namun rasanya dirinya tidak mungkin untuk melanjutkan.


Kondisi Mama Wina sangat memprihatinkan, namun dokter itu selalu saja salut dengan pasien kanker yang juga seorang dokter itu.


Meski sakit di punggung seperti patah tulang, meski tubuhnya pucat dan menguning, meski tiada tenaga lagi untuk bangkit, namun semangat wanita itu untuk sembuh sangatlah terlihat, tidak pernah mengeluh meski mereka para medis sangat memahami bagaimana penderitaannya.


"Tapi saya juga tidak bisa menaruhkan jika jalan operasi adalah baik untuk kali ini." jelas dokter tersebut.


"Komplikasi bisa saja terjadi, mengingat sudah banyaknya organ tubuh yang rusak terkena imbas sel kanker."


"Lalu?"


"Semua saya kembalikan pada keluarga, bagaimana baiknya bicarakanlah!"


Yudha menggeleng pelan, dirinya bangkit dan berlalu pergi tanpa permisi dari ruangan dokter.


Jason menyusul di belakang, kasihan sekali Yudha, namun Jason juga tidak bisa berbuat apa-apa, membuktikan bahwa benar adanya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, membuktikan bahwa dirinya bukanlah Tuhan.

__ADS_1


Angga dan Afik bergegas menuju rumah sakit, mereka juga beberapa hari ini selalu menyempatkan diri untuk menengok keadaan Mama Wina, namun tidak ada tanda-tanda akan membaik.


Saat Angga dan Afik datang Mama Wina sedang tidur, dan saat ini duo A itu sedang duduk di sofa menunggu kedatangan Yudha dan Jason yang Weni pun juga tidak tau ke mana perginya.


Ceklek, pintu dibuka,


Yudha langsung menghambur ke pelukan Weni, sementara Angga dan Afik hanya melongo dengan hati yang diselimuti ketakutan, ada apa?


Menoleh pada Jason, dan Jason hanya bisa tertunduk.


"Ada apa Mas?" tanya Weni hati-hati.


"Biarkan seperti ini, aku tidak tau harus bagaimana lagi?" ucap lirih Yudha.


Bagi Yudha jika menangis akan merubah keadaan mungkin sampai kering diperas air matanya pun akan ia lakukan, rasanya Yudha tidak sanggup, tidak akan sanggup.


Weni mengusap punggung Yudha, mencoba memberikan ketenangan, karena suaminya hanya butuh rangkulan, tidak butuh pertanyaan, tidak butuh nasihat, bahkan mungkin suaminya itu juga tidak butuh solusi, entahlah Weni seakan sudah bisa membaca pastilah tidak ada jalan bagi kesembuhan mertuanya, meski Weni sangat tidak mau berpikiran buruk namun bayang-bayang Mama Wina yang mengatakan hidupnya tidak akan lama lagi selalu terngiang di benak Weni beberapa hari ini.


Ia akan menunggu kata yang terlontar dari Yudha.


"Mama akan sembuh kan yang?" tanya Yudha meski dirinya tidak yakin.


"Jika Mama dioperasi, Mama akan sembuh kan?" tanya Yudha sekali lagi.


Jason, Angga dan Afik mendekat, mencoba memberikan kekuatan untuk sahabat mereka itu.


"Yud, lo harus kuat." ucap Afik membelai lembut punggung Yudha.


Mama Wina terbangun karena merasakan tidurnya terganggu, dilihatnya ramai sekali anak-anaknya, ia mencoba tersenyum meski samar.


"Yudha..." panggilnya.


"Ya Ma!" Yudha langsung mendekat, menghapus sisa air matanya, mencoba untuk selalu kuat di hadapan malaikatnya itu.


"Mama nggak kuat lagi Nak!" keluh Mama Wina.


Ini adalah kali pertamanya Mama Wina mengeluh, kali pertama Mama Wina mengungkapkan perasaan terhadap sakit yang dideritanya.


"Mama harus kuat, Mama harus liat anak aku nanti, Mama harus jadi Nenek dulu, Mama nggak boleh tinggalin aku." Yudha memegang erat tangan Mamanya.


"Mama, kita masih ada jalan, operasi, Mama masih bisa di operasi, Mama pasti sembuh!" ucap Yudha penuh harap.


Namun hanya gelengan pelan yang bisa dibalas oleh Mama Wina.


"Mama nggak mau di operasi sayang, biar nggak usah."


"Weni..." panggil Mama Wina.


"Iya Ma!"


"Mama nggak kuat lagi sayang..."

__ADS_1


Weni mengangguk paham. "Mama..."


Mama, kalau Mama mau pergi, pergilah Ma. Aku ikhlas dari pada liat Mama menderita, aku sakit Ma liat Mama kayak gini, aku tau Mama nggak pernah ngeluh selama ini, tapi sebenarnya Mama sakit banget, sudah cukup Ma pura-puranya, aku ikhlas melepas Mama...


Jika Yudha sangat berharap Mamanya tidak akan pernah meninggalkannya lain halnya dengan Weni, wanita itu justru ikhlas melepas mertuanya, karena tidak tahan melihat derita yang dialami Mama Wina.


"Kalian mufakat, jangan sering berantem, saling menyayangi sampai akhir hayat..."


"Yudha..."


"Nanti pergilah ke Jerman, itu cita-cita Papa kamu Nak, Weni... temani Yudha yah, Berlin adalah kota penuh kenangan bagi Papanya, Yudha harus bersekolah di sana."


Weni mengangguk, apapun... Apapun akan dirinya lakukan, sebisa mungkin akan menepati janji.


"Aku nggak akan pergi Ma sebelum Mama sembuh, aku bakalan rawat Mama sampai sembuh di sini! Mama harus mau di operasi." ucap Yudha, tidak... dirinya tidak bisa menerima kenyataan.


Mama Wina menggeleng, "Jason, Angga, Afik, temani Yudha... Mama percaya sama kalian..."


Ketiga sahabat Yudha itu hampir serentak mengangguk. Rasanya menjadi Yudha tidak akan pernah kuat.


"Weni, jaga Yudha yah!"


Weni mengangguk lagi, istri Yudha itu mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Mama Wina, membisikkan dua kalimat syahadat, menuntun mertuanya untuk mengikutinya.


"Ayshadu An-la." ucap Weni.


"Ayshadu An-la..."


"Ilaha illallah."


"Ilaha illallah..."


"Wa Ayshadu Anna."


"Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah..."


"Aku ikhlas Ma, aku ikhlas Mama pergi, aku ikhlas melepas Mama, pergilah dengan tenang... Aku akan jaga Yudha, aku janji." bisik Weni pelan yang hampir tidak terdengar.


Pelan mata itu tertutup, seiring dengan layar elektrokadiograf yang menunjukkan bahwa jantung Mama Wina sudah berhenti berdetak.


"MAMA..."


Teriak Yudha menggema, Angga langsung menekan tombol darurat untuk memanggil para medis.


Bersambung...


*


*


*

__ADS_1


Like, koment, and Vote**!!!


__ADS_2