
"Dimana Jason?" tanya Pak Adrian pada Shirleen, dirinya sudah berada di rumah anaknya itu, sejak tadi dirinya sudah puluhan kali menelpon putranya itu, namun nihil, Jason mengabaikan panggilannya.
"Suamiku belum pulang Pa, ada apa?"
"Tidak ada!" ucap Pak Adrian, ia sudah duduk di sofa tamu meredam amarahnya, tidak, jangan sampai dirinya melepaskan amarahnya dihadapan Shirleen, itu tidaklah baik.
Shirleen segera ke dapur untuk membuatkan mertuanya itu minum, sembari pikirannya terus memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Namum samar ia dengar suara dari ruang tamu, suara orang bertengkar, ia yang saat itu baru saja selesai membuat kopi gegas berlari menuju sumber suara.
Dan benar saja, Papa mertuanya itu memang sedang bertengkar, dengan siapa? Tentu saja dengan suaminya yang sepertinya baru saja pulang dari kantor.
"Aku ke sini bukan untuk memintamu membatalkan kerja sama itu, bukan, karena bagiku mungkin dengan cara begitu kau bisa luas hati membalaskan dendammu pada kami..." jelas Pak Adrian sembari menatap nyalang Jason, namun sayang sekali yang ditatap seakan tidak perduli.
Jason masih tetap saja pada pendiriannya, ia tidak menyangka bahwa Papanya sudah berada di rumahnya kali ini, entah apa yang akan dilakukan Papanya itu, membeberkan segala kelakuan buruk dirinya pada sang istri, heh Shirleen tidak akan terhasut seperti dulu, kami sudah berjanji untuk saling percaya satu sama lainnya, pikir Jason.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Mamamu?" tanya Pak Adrian dengan bentakan, awalnya dirinya tidak akan marah karena cukup tau diri kalau Jason tidak menyukainya, namun karena puluhan panggilan telepon yang diabaikan serta beberapa pesan suara maupun teks ia kirimkan, dan Jason sama sekali tidak menjawabnya, ia kalut, apa lagi sang istri sedang terbaring lemah di rumah sakit saat ini.
"Kau tidak berperasaan, dendammu sudah membuatku menggila, aku memang mengakui bahwa aku yang telah menghancurkan hidup normalmu, tapi jika kau terus saja seperti ini, maka dendammu lah yang akan menghancurkanmu lebih dalam lagi." ucap Pak Adrian, matanya syarat akan kesedihan namun juga amarah yang berkobar.
"Kau mengancamku?" tanya Jason, ia tersenyum menang.
"Aku tidak mengancammu, karena itu bukanlah suatu ancaman, aku sudah mengakui kesalahanku, namun kau juga masih keras hati..."
"Keras hati? Heh, bukan keras hati namun hatiku yang mengeras, kau tau apa bedanya, kau lah yang membentuk hati ini menjadi sebuah batu!" potong Jason.
__ADS_1
"Apa dengan membuat kami sengsara kau akan merasa puas?"
"Setidaknya!"
"Kau memang berhati batu, bukan karena aku, bukan karena kami, namun karena dendammu!"
"By, sudah By..." Shirleen menggenggam tangan suaminya, berharap pertengkaran itu akan mereda, "Sudah Pa, katakan saja apa tujuan Papa ke sini, sudah jangan begini, tidak ada yang menyukai pertengkaran, kalian orang tua dan anak, tolong, hentikan semua ini." ucap Shirleen.
Beruntung Jacob dan Misca sedang tidak berada di lantai bawah.
"Ow Pak Adrian yang terhormat, entah kau sadar atau tidak dengan apa yang baru saja kau ucapkan, jangan lupa, dan kalaupun kau lupa aku bisa mengingatkanmu lagi."
"Aku Jason Ares Adrian, satu-satunya keturunanmu yang sudah sangat kau tunggu kehadirannya sejak sepuluh tahun lamanya, namun aku juga adalah seseorang yang sudah kau hancurkan hidupnya sedari umurku delapan tahun, kau mau tau bagaimana caranya aku menjalani hidup penuh penekanan itu, atau kau mau aku menjabarkan hari-hari terburukku, masa-masa kelamku, apa perlu aku mendiskusikan padamu bagaimana aku saat itu sangat berharap perhatian dan kasih sayang kalian, namun apa yang aku dapatkan, kau memberiku semua buku-buku itu, kau memberiku semua pembelajaran yang sama sekali tidak aku sukai, yang sama sekali aku tidak tau mengapa aku berbeda dari para anak lainnya di luaran sana. Kau merenggut kebahagiaanku, kau merenggut hidup normalku sejak hari itu, lalu bagaimana caranya aku masih bisa bersyukur mempunyai orang tua sepertimu?"
"Adalah aku, yang selalu bermimpi hidup dengan kesederhanaan, meski susah mendapatkan uang namun mungkin tidak begitu susah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya."
"Jason, kau harus mengerti, Papa melakukan itu demi dirimu, bagaimana jika Papa tiba-tiba tiada, musuh kita adalah orang dekat, mereka bisa tau apa kelemahan kita hanya dengan mengedipkan mata saja, dan Papa tidak mau itu terjadi." sanggah Pak Adrian.
"Apapun itu Adrian Cakrawala, kalau aku jadi kau, aku tidak akan mengorbankan hidup anak-anakku, tidak akan pernah, sekalipun aku harus mati membusuk di depan musuh, namun setidaknya aku selalu memberikan kesan yang baik selama aku berada di dekat anak-anakku."
"Kau tau kenapa?"
"Karena menjadi orang tua itu tidak mudah!"
"Dan yang kau lakukan padaku dulu, tidak akan pernah dilakukan oleh orang tua yang benar-benar sudah siap menjadi orang tua, kau pecundang, kau egois, bukan aku, tapi kaulah bajingan yang sebenarnya."
__ADS_1
"Kau tidak manusiawi!"
Jason puas sekali mengungkapkan isi hatinya, ia masih bisa bersikap santai, apa lagi ada Shirleen yang sedang memegang lembut tangannya.
Pak Adrian terduduk.lemas, setiap kata yang diucapkan Jason terasa begitu menusuk menembus jantungnya, kalau boleh ia berpulang hari ini, rasanya dirinya ingin pergi saja meninggalkan dunia, ia tidak sanggup menghadapi kemarahan Jason.
"Aku tau aku salah, dan kau, kau tidak akan semudah itu memaafkan, tapi tolong, aku tidak akan memintamu untuk menyukaiku, bahkan aku tidak akan memintamu untuk menerimaku sebagai seorang Papa yang baik lagi, tidak, benarlah apa katamu, sungguh benar apa yang kau ucapkan, begitu sakit hatimu hingga kau bisa begitu benci padaku, aku mengerti, pasti tidak mudah jadi kau."
"Aku ingin mengatakan, bahwa di seumur hidupku, aku sangat menyayangimu, bukan hanya semata-mata kau satu-satunya keturunanku, tapi aku memang sangat menyayangimu, mungkin saja caraku mengungkapkannya yang salah, aku tidak pandai berekspresi seperti Papa pada umumnya, mengungkapkan kecintaanya pada anak-anaknya, aku bukanlah Papa yang baik sebab itu aku bisa melakukan semua itu padamu." Pak Adrian berucap sembari air matanya sudah mengalir.
"Kalau ada cara untukku menebus segala kesalahanku padamu akan aku lakukan, apapun itu, meski aku harus mati di tanganmu."
"Tapi tolong, seorang Ibu tetaplah seorang Ibu, dia yang melahirkanmu, dia yang menyapihmu, dia yang pertama melihat perkembanganmu, dia yang selalu memberikan lantunan suara merdunya untuk menjagamu terlelap, tolong jangan benci Mamamu Nak, dia tidak akan sanggup melihat seseorang yang sangat ia sayangi mencampakannya, wanita selalu nampak kuat menyembunyikan kegundahannya hanya untuk membuat sebuah keluarga supaya tetap harmonis, namun kau juga harus tau wanita itu sangat rapuh, apalagi menyangkut tentang anaknya."
"Papa akan pergi dari kehidupan kalian, jika memang itu yang kau inginkan." Pak Adrian menatap nanar putranya, lalu beralih pada menantunya, "Shirleen, bawa suamimu ke rumah sakit keluarga kita, Mama sedang sakit di sana, badannya panas, Mama demam tinggi dan terus saja meracau memanggil-manggil putranya, mungkin kalau kalian ke sana Mama akan segera sembuh, dan juga tolong sampaikan salam Papa untuk Mama, Papa akan pergi, jauh dan mungkin tidak akan kembali lagi, jaga Mamamu, lakukan tugas Papa setelah ini, apa kau bisa berjanji?" tanya Pak Adrian, mata Jason membulat mendengar kenyataan Mamanya sedang berada di rumah sakit.
"Tidak usah mengkhawatirkan tentang pemberitaan keluarga kita, papa akan mengurusnya, keluarga kita akan baik-baik saja meski tanpa kehadiran Papa."
"Deg deg deg deg..."
Jantung itu berpacu, nafas itu semakin memburu!
*
*
__ADS_1
*
Like, koment, and Vote !!!