
"By, aku ke Weni dulu ya !" pamit Shirleen, ia ingin segera menyudahi kecanggungan ini, lebih baik ia heboh dengan Weni dari pada menunggui sang suami yang pastinya akan membuat telinganya semakin panas.
"Ya udah sana, kadonya udah dibawa ?" tanya Jason pada sang istri.
"Udah dong !" jawab Shirleen.
Sesampainya di kamar Weni, Shirleen langsung saja memeluk sahabat kentalnya itu, ia turut bahagia meski yang akan berlangsung sebentar lagi bukanlah pernikahan namun sungguh tetap saja Shirleen bahagia.
"Aku bahagia banget tau !" pekik Shirleen.
"Hehe, sesenang itu kamu ?" tanya Weni heran.
"Lah iya dong, harus senang, harus bahagia, sebentar lagi kamu akan menemukan pasangan hidup, aku yakin Yudha orangnya setia." kompor Shirleen, meninggi-nunggikan Yudha supaya Weni semakin yakin. Karena ia tau, dari mata Weni saja ia tau hari ini sahabatnya itu berbahagia sekaligus bersedih.
Jelas saja ia tau, besok tepatnya sore hari, Yudha akan kembali ke Jerman, mengejar mimpinya dan meninggalkan sahabatnya itu sendirian lagi, dengan sebuah hubungan, dengan sebuah ikatan pertunangan, yang masih bisa diputuskan kalau keduanya tidak sejalan, ah semoga saja Yudha memang ditakdirkan untuk Weni, sedari semalam ia terus saja berdoa dan berharap dalam hatinya, ia ingin Weni bahagia, sudah cukup dulunya ia merebut kebahagiaan Weni, untuk saat ini tolong, tolong sahabatnya itu harus bahagia.
"Semoga aja Len !" lirih Weni menyetujui. Berat ini sungguh berat baginya, yang pacaran bahkan sudah nikah saja lalu tinggal serumah masih bisa tergoda dengan wanita lain, apalagi dirinya yang terpisah jarak dan waktu, hanya komunikasi melalui udara yang mempersatukan ia dan Yudha, jika salah paham terjadi, jika mereka sudah tidak sejalan lagi, bagaimana jika salah satu dari mereka bosan lalu memilih meninggalkan, atau sama sama tidak lagi adanya kecocokan, bagaimana cara menjelaskannya, bagaimana caranya saling menggenggam tangan untuk sama-sama menguatkan, bagaimana ?
Itulah yang selalu mengganjal dihatinya, ikhlas itu tidak semudah apa yang terucap dari mulut kita, meski lidahnya berapa kali berucap ikhlas, namun sungguh hatinya tetap rapuh jua, ia hanya mencoba rela, bukan sudah rela.
"Wen, aku harap ini yang terbaik untuk kalian, semoga !" ucap Shirleen, tangannya menggenggam kedua tangan Weni yang nampak dingin, gugup pasti sedang melanda sahabatnya itu pikir Shirleen.
"Kamu beruntung Wen, bisa bertunangan lalu mengikuti setiap prosesnya, aku dua kali menikah selalu saja serba dadakan." ucap Shirleen membandingkan hidupnya, bukan apa-apa maksudnya hanya ingin membuat Weni sedikit bersyukur dan yakin serta teguh pada pendirian yang telah ia tetapkan untuk hubungannya dan Yudha.
"Tapi Jason ada di sisimu, dia jelas mencintaimu !" protes Weni, yang tidak terima dianggap lebih baik oleh Shirleen.
__ADS_1
"Wen, Yudha ninggalin kamu bukan semata untuk seneng-seneng, seharusnya kamu dukung dia, berpikir positif, kalau kamu udah negatif duluan gimana kedepannya, ini orangnya masih disini lho, belum kemana-mana." ujar Shirleen.
"Iya, aku kayaknya emang terlalu banyak berpikiran buruk tentang hubungan ini."
"Wen, setiap orang hubungan punya masalahnya masing-masing, kita hanya bisa berencana selebihnya Tuhanlah yang menentukan, begitu pun aku dan kamu, teruslah berusaha supaya Yudha akan selalu melihatmu saja, kalaupun usahamu nanti sia-sia seenggaknya kamu sudah berjuang untuk hubungan kalian, kamu berhak menentukan apa yang terbaik bagimu."
"Makasih ya Len, kamu selalu ada saat aku butuh." ucap Weni.
"Wen, hei bukankah kita sama, bahkan rasanya aku yang selama ini selalu nyusahin kamu, dengerin curhatan aku, maaf ya." ungkap Shirleen.
"Udah, sekarang apanya yang bekum siap, aku bantu, bentar lagi kan waktunya ?" tanya Shirleen.
"Udah siap kok, tinggal nunggu dipanggil aja." jawab Weni.
"Semangat, senyum dong, duh bahagianya..." goda Shirleen.
Sementara dilain tempat,
"Kamu sudah siap kan Yud ?" tanya kak Dimas ?.
"Udah kak !" yakin Yudha.
"Baiklah, Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakkatuh."
"Puji syukur hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita sekalian sehingga kita dapat bertemu, berkumpul dan saling silaturahmi pada hari yang berbahagia ini dalam keadaan sehat wal'afiat."
__ADS_1
"Selamat siang Bapak, Ibu dan segenap keluarga yang kami hormati. Terima kasih kami ucapkan telah berkenan menerima kami sekeluarga dengan baik. Perkenankanlah saya Aiman Raditya untuk menyampaikan tutur kata mewakili orang tua dari Ananda Yudha Razki Pratama, untuk menyampaikan secara resmi maksud dan tujuan kedatangan kami ini."
"Pada hari ini, kami hadir di tengah-tengah keluarga Bapak, Ibu, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal lebih dekat antara satu dan lainnya. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan hajat dari putra tunggal kami yaitu Yudha Razki Pratama, putra kami sudah saling mengenal dengan putri Bapak/Ibu yang bernama Gweni Kirana."
"Dan untuk itu, putra kami Yudha Razki Pratama akan menyampaikan niat tulus untuk melamar putri Bapak dan Ibu, kepada Ananda Yudha Razki Pratama kami persilahkan."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hadirnya saya disini untuk meminta restu Bapak dan Ibu serta seluruh keluarga, baik dari pihak saya maupun dari pihak Gweni Kirana, teruntuk Gweni Kirana, pekan ini adalah pekan saat-saat kita bersama, saling mengenal, saling mencoba memahami, meski pemikiran kita kadang tak sejalan namun kita siap mencobanya mencari solusi dan saling memperbaiki, Wen hari ini aku berada di hadapanmu menyatakan bahwa aku sangat mencintaimu, begitu menginginkan kita bersama, mengharapkanmu yang akan selalu ada di waktu suka maupun duka, jika kelak kita ditakdirkan memang untuk bersama, Gweni Kirana maukah kau menikah denganku ?" ucap Yudha lantang, nampaknya ia begitu bersemangat.
"Saya Gweni Kirana, menyatakan bersedia dan mau menerima lamaran Yudha Razki Pratama." dengan bergetar akhirnya kata-kata itu berhasil juga ia ucapkan tanpa kesalahan, sangat sedikit dibandingkan apa yang diucapkan Yudha, namun rasanya sangat sulit ia hafal.
Prok prok prok, riuh tepuk tangan mengiringi prosesi saat Yudha dan Weni saling bertukar cincin tunangan, ah tidak ada yang lebih bahagia dari ini saat ini yang dirasakan Yudha dan Weni.
Keduanya terlibat saling tatap, dua anak manusia yang tengah dilanda cinta saat ini memang terlihat sekali keromantisannya.
"Mudah-mudahan Bapak dan Ibu berkenan untuk meridho'i niat putra kami dengan menerima lamaran ini. Hanya inilah yang dapat kami utarakan kepada Bapak dan Ibu, tak lupa kami sekeluarga mohon maaf apabila dalam penyampaian maksud dan tujuan ini ada tutur kata yang kurang berkenan di hati. Begitu pula hantaran hari ini yang ala kadarnya sebagai bentuk wujud keseriusan hati kami."
"Saya akhiri, Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakkatuh." ucap Om Radit mengakhiri.
Mama Wina di sudut sana nampak menangis haru, ia teringat moment pertunangannya dengan almarhum sang suami, Yudha mirip sekali dengan suaminya, dengan berani dan tanpa kecanggungan anaknya itu mengatakan niatnya.
Anakmu Mas, dia sudah dewasa...
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...