
Jason tidak tau lagi bagaimana cara agar ia tidak marah dengan kecemburuan ini. Ini adalah jalan satu-satunya, mengerjai kekasih cantiknya itu mungkin bisa menghilangkan sedikit kekesalannya.
Dengan bertelanjang dada ia bangkit menuju kamar mandi, mengagumi hasil karya kekasihnya didepan cermin, ia tertawa geli mengingat ekspresi Shirleen tadi. Benar saja kemarahannya kini lumayan mereda.
Ia mengambil beberapa foto tubuhnya yang sudah seperti macan tutul bermotif bibir merah menyala, bahkan ia juga nampak mengacak rambutnya sebelum siap berselfi ria. Sungguh ia sudah seperti habis dijelajahi oleh tante-tante mesum dengan penampilannya yang seperti itu.
Ia memasang wajah memelas terbaiknya, dan cekrek cekrek ini akan sangat menyenangkan untuk dijadikan ancaman untuk Shirleen nantinya.
Puas, Jason sangat puas.
Ia keluar dari kamar mandi tanpa membasuh hasil karya kekasihnya itu, mengambil baju kaos santainya yang pernah ia simpan di lemari kamar Shirleen kemudian mengenakannya.
Jason menaik turunkan alisnya, Shirleen masih terlihat kesal. Ia mendekati Shirleen yang duduk di tepi ranjang.
"By... kau ganas sekali" Jason berucap memelas.
Shirleen menoleh kearahnya dan mengkerutkan keningnya, sungguh benar jika ada yang mengatakan Jason adalah manusia kurang waras di dunia ini.
"Lihatlah, kau membuatku seperti ini" Jason membuka sedikit bajunya lagi. sehingga terlihat lagi maha karya kekasihnya itu.
Shirleen meneguk salivanya kasar, tidak itu bukan kemauannya.
Kenapa disini seolah aku yang habis menyerangnya, bukannya itu tadi permintaannya.
"Tapi tadi kan kau yang menyuruhku By..." ucap Shirleen pelan, itu malu sekali rasanya.
"Aku ?"
__ADS_1
"Tapi aku tidak menyuruh kau menurut kan"
Alamak, hentikan perdebatan bodoh ini, bukannya jelas-jelas mata setanmu tadi seperti hendak menusukku.
Bagaimana mungkin aku tidak menurut, kau bahkan mengancamku dengan bibit unggulmu segala.
Itu bukan keinginanku, dasar bocah tengil awas saja kau nanti.
"Heh heh, aku yaaa" ucap Shirleen canggung masih dengan rasa malu yang sudah sampai diubun-ubun. Ia mencoba tersenyum menghilangkan rona merah diwajahnya.
Jason mengangguk pasrah, seolah dirinya benar-benar telah menjadi korban keganasan Shirleen.
Disebuah rumah yang biasanya nampak sepi, kini tiba-tiba saja menjadi ramai karena kerumunan yang terjadi.
Nampak seorang wanita paruh baya sedang merasakan kesakitan luar biasa, membuat anaknya yang baru saja melayangkan pertengkaran dengannya panik tak terelakkan.
Sesampainya disana, ia langsung marah dan memojokkan kesalahan pada sikap ibunya, ia menyayangkan tindakan ibunya itu yang selalu saja tidak menyukai Shirleen sedari dulu, ia membela Shirleen habis-habisan didepan ibunya, dan mengatakan kalau ibunyalah penyebab kandas rumah tangganya.
Bahkan segala yang diderita Riana juga ia salahkan pada Ibunya, ia sadar ia juga andil dalam penghianatan ini, ini tak sepenuhnya salah Riana, namun jika ibunya tidak merencanakan perselingkuahannya, ia tidak akan bertemu dengan sosok Riana. Ia tidak akan kehilangan Shirleen saat ini.
Ibu Athar yang terpancing emosi karena anaknya yang seakan terus memojokkannya, tanpa sadar mengumpati Shirleen dan menjelek-jelekkan Shirleen di depan Athar.
Namun naas maksudnya untuk membela diri justru malah akan membahayakan hidupnya.
Chip yang telah bersarang diotaknya nampak bekerja dengan efektif, secara otomatis melumpuhkan kerja otaknya.
Ia langsung kejang seketika, ambruk seperti orang terkena stroke, Ibu Athar kini sudah membuktikan apa yang diucapkan Tuan Muda Jason memang tidak boleh dianggap remeh. Kini apa yang paling ia hindari, apa yang sangat ia takutkan terjadi sudah dengannya.
__ADS_1
Sudah diperingatkan pada hari itu, jangankan untuk mengumpat memaki Shirleen, memikirkan hal buruk tentang Shirleen pun jangan pernah lakukan.
Namun apalah daya pertahanannya runtuh karena tidak tahan dengan emosi yang menguasai perasaannya, Athar anaknya memojokkannya atas apa yang terjadi dalam biduk rumah tangga putranya itu, Athar terus membela Shirleen dan ia pun tanpa sadar melakukan perlawanan.
Kini Athar memegangi tubuh Ibunya yang sudah ambruk, mulut ibunya pun tidak lagi berbentuk pada umumnya.
"Bu, Ibu maafin aku Bu" Hilang sudah rasa kesal terhadap Ibunya kini malah berganti tangis yang memilukan.
Apa yang telah aku lakukan, aku membuat ibu seperti ini.
Sesal, Athar sungguh menyesal. Ia pikir gara-garanya lah ibunya sampai terkena stroke seperti ini, ia menyesal telah membentak ibunya.
Ia segera mengangkat tubuh ibunya melewati kerumunan para tetangga yang berbondong ingin melihat apa yang terjadi pada ibunya, ia membawa ibunya kerumah sakit, durhaka sekali rasanya ia telah menyakiti perasaan ibunya hingga sang ibu berakhir seperti ini.
Sungguh tanpa ia ketahui, kenyataannya sang Ibu mengalami itu semua bukanlah karena pertengkarannya. Namun ada sosok iblis licik tengah tersenyum menyeringai mengamati apa yang sedang terjadi pada hidupnya, yang pastinya bukanlah sebuah kebetulan itu.
Hidupnya sedang menjadi permainan gila dari seorang Jason Ares Adrian.
Bersambung...
*
*
*
Like, koment. dan vote yaaa
__ADS_1
Happy reading** !!!