Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Membuka Hati.


__ADS_3

Sementara di sebuah rumah,


"Bu, ini gimana, itu temannya Weni kok nggak pulang-pulang" tanya ayahnya Weni pada istrinya.


"Ya Ibu juga nggak tau Yah, kita nggak mungkin ngusir tamu kan"


Sejak pulang dari resepsi Jason dan Shirleen kemarin, Yudha belum juga pulang kerumah, Yudha memutuskan untuk tinggal di rumah Weni.


Weni yang tidak bisa berbuat apapun karena Yudha yang suka bertindak semaunya semakin frustasi saja.


"Kamu tuh ya, seenaknya aja, pulang sana" usir Weni.


"Gue cuma nginep di rumah pacar, emang gak boleh ?" jawab santai Yudha, ia menekankan kata pacar supaya Weni lebih jelas akan status mereka.


"Enggak, nggak boleh, aku malu, malu sama tetangga, malu sama orang-orang yang lewat semuanya noleh kesini, kamu nggak ada malunya duduk di teras, kamu itu ya benar-benar errggghhh" geram Weni, saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga, Yudha sudah mengalahkan pemilik rumah, ia dengan santainya nyemil keripik pisang sambil menonton TV.


"Gue ajakin nikah nggak mau, tenang aja, kalau udah nikah juga nggak bakal ada yang nyinyirin" ucap santai Yudha, ah menikah enak betul dia bilang begitu.


"Kamu..." Weni tidak bisa lagi berkata apapun.


Ia ingin pergi ke Butik, namun ia tidak ingin Yudha sampai tau kalau ia adalah bosnya, jadi ia mengurungkan niatnya.


"Kenapa ?" tanya Yudha saat Weni kedapatan tengah melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku nggak tau harus apa lagi" Weni seolah putus asa, kalau saja ia mempunyai nomor Tante Wina, mungkin ia akan segera menelpon Mamanya Yudha itu untuk menjemput anaknya yang tidak tau malu ini.


Bagaimana bisa anak sudah tidak pulang kerumah dua hari malah nggak dicariin.


Entah apa yang Yudha jadikan alasan untuk membohongi orang tuanya, Weni benar-benar frustasi menghadapi Yudha.


"Nikah yuk..." ajak Yudha untuk kesekian kalinya tanpa beban, ia menaik turunkan alisnya, sungguh tengil.

__ADS_1


"Hah, hei bocah, memangnya apa yang kau punya hingga dengan beraninya ngajakin nikah anak gadis orang" ucap spontan Weni, ia lupa kalau pemuda dihadapannya ini cukup kaya.


"Nggak banyak, paling adalah beberapa, tapi gue gak akan jabarin semuanya satu persatu, ntar dikira sombong lagi" ucap Yudha.


ia rasa cukuplah sebuah klinik tempat pertemuan pertamanya dengan Weni serta perkebunan kelapa sawit di daerah Kalimantan yang luasnya bukan main. Peninggalan Papanya itu ia rasa cukup hanya untuk menghidupinya dan Weni jika mereka benar-benar menikah.


"Itu punya orang tua kamu, aku nanya yang benar-benar kamu punya" tantang Weni.


Ia juga ingin melihat seberapa serius pemuda yang mengaku mencintainya di beberapa hari ini padanya.


"Aku sedang kuliah, dulu aku juga pernah mengurus bisnis almarhum Papaku, tapi sekarang aku harus kuliah, karena ranah bisnis pada saat sekarang ini bukan lagi seperti dulu, bukan lagi soal siapa pemiliknya maka ialah yang berkuasa, ada embel-embel gelar di belakang nama yang selalu saja orang perhitungkan" jelas Yudha, selama ini ia bukan seperti Jason yang merambah bisnis kemana saja, ia hanya meneruskan usaha keluarga.


Hidup hanya berdua dengan sang Mama, membuatnya harus berbagi tugas, selama ini Mamanya yang mengurus klinik, sementara ia mengurus bisnis perkebunan kelapa sawit keluarganya di Kalimantan, ia memang jarang turun langsung karena ia harus juga mengurus sekolahnya, namun ia tidak pernah tinggal diam, ia selalu mengawasi perkembangan bisnisnya.


"Aku tidak akan mau jika kamu tidak punya apa-apa dari hasil keringatmu sendiri" tantang Weni lagi.


"Heh, lo yakin ?" tantang Yudha balik.


"Ya, buktikan kalau kamu bukanlah anak manja, yang hanya mengandalkan bisnis orang tuamu untuk menopang hidupmu" jelas Weni menggebu, ah kenapa tidak ia lakukan dari kemarin, Yudha pasti akan menyerah pikirnya.


"Bukan matre, tapi realistis, zaman gini mana ada orang yang mau hidupnya diajak susah" sindir Weni.


"Baiklah, kalau begitu anggap saja gue sedang bekerja dengan orang tua gue, gue akan minta gaji ke mereka setiap bulannya, lo setuju" saran Yudha lagi bicara seenaknya, duh mengapa rasanya berdebat dengan Yudha tidak ada gunanya pikir Weni.


"Enggak, itu bukan suatu hal yang mandiri kalau masih bergantung pada orang tuamu" ejek Weni.


"Kalau misalkan gue dapet pekerjaan di Jerman, apa lo mau gue ajak nikah ?" tanya Yudha, baiklah ia akan memberikan Weni sebuah pilihan.


"Enggak juga" ucap Weni cepat.


"Kenapa berani menantang jika pada akhirnya tidak akan pernah mau" ucap Yudha mulai serius.

__ADS_1


"Yudha, menikah itu bukan hanya perihal menyatukan dua anak manusia, menyatukan kamu dan aku, bukan" ucap Weni, ia ingin sekali lagi memberi pengertian pada pemuda yang katanya menggilainya itu.


"Menikah itu perihal cinta, saling menerima, meski bagaimanapun keadaannya, dan aku, aku tidak bisa menerima kamu..."


"Karena lo belum cinta sama gue kan, Wen gue nggak mau denger, tiap kali lo bilang kek gitu hati gue sakit, gue nggak mau jadi temen lo, meskipun lo bilang lo bisa sayang sama gue sebagai teman, enggak, tolong jangan paksa gue" ucap Yudha langsung saja memotong wejangan Weni.


"Yud, kamu nggak akan ngerti" sanggah Weni.


"Yang sebenarnya nggak ngerti itu lo, lo yang nggak bisa nerima, lo nggak mengerti bahwa menahan perasaan itu sulit, lo nggak tau apa-apa selama ini, cinta cinta cinta, lo hanya berpatok pada satu kata itu, pernah nggak lo nyoba ngeliat dari sudut pandang gue, kalau aja pernah, gue yakin lo nggak akan terus-terusan nolak gue, meski lo belum bisa tapi seenggaknya kasih gue kesempatan" ucap Yudha, ia mulai terpancing untuk mengeluarkan unek-uneknya.


"Yud..."


"Apa gue salah ? Kita nggak pernah tau pada siapa kita akan jatuh cinta, gitupun Jason dan kak Shirleen, mereka berbeda tapi kalau aja lo bisa nerima gue seperti Kak Shirleen nerima Jason, semuanya mungkin bisa kita jalanin sama-sama, buktinya mereka baik-baik aja, kak Shirleen juga sepertinya mencintai Jason" ungkap Yudha.


Weni tercengang, apa yang dikatakan Yudha memang ada benarnya.


Kita memang nggak pernah tau pada siapa kita akan jatuh cinta, begitupun ia yang pernah sangat mencintai Athar namun tidak mungkin bisa bersama, Athar memilih Shirleen, dan lalu ia memilih memendam rasa itu sendirian.


Bertahun-tahun, ia mencoba melupakan Athar, namun tidak bisa, kita tidak pernah bisa memilih akan pada siapa kita jatuh cinta, salahkah atau tidak itu bukan hak kita untuk menentukan.


Tidak ada yang salah pada rasa, dia bisa datang dan pergi kapan saja, begitupun ia mungkin saat ini ia bisa mengatakan kalau ia belum mempunyai perasaan terhadap Yudha, namun bagaimana dengan hari esok atau lusa, bulan depan atau satu tahun kemudian, bukankah ia tidak bisa memastikan semua itu kalau ia belum mencobanya.


Kuncinya hanyalah satu, ialah...


Membuka hati !


Kini, haruskah aku lakukan ?


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!


__ADS_2