Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Sudah hentikan II.


__ADS_3

Masih berlanjut, pergulatan sengit itu nampak semakin panas, Riska tetap memejamkan mata, walau gendang telinganya serasa mau pecah.


"Tolong hentikan, tuan muda..." Riska mengiba, ia sudah tidak sanggup.


Jason tidak peduli, ia bahkan sesekali tertawa bersama Roy dan beberapa pengawalnya.


"Tuan Muda, hentikan aku mohon..." tangis Riska pecah, dengan sisa tenaganya ia memohon, ia tidak pernah membayangkan dalam hidupnya akan melalui hal semacam ini.


"Bentar lagi selesai, lo gak mau nonton sampai habis, lihatlah mereka begitu lihai melakukannya" ucap Jason, ia gemas sendiri melihat Riska yang nampak tertekan. Ia yang begitu menyukai jerit tangis manusia mana mungkin menyudahi ini begitu saja.


"Sudah tuan muda..." memohon dan terus memohon, hanya itu yang bisa Riska lakukan.


"Lihatlah, lo harus lakuin gaya seperti itu untuk referensi service lo nanti, jangan mau kalah sama ******" Nampaknya Jason ketularan Afik si mulut cabe, dengan tidak tau malunya ia mengatakan itu.


"Gue bahkan bantuin lo belajar bagaimana cara membuat suami senang, bukankah itu ide yang cukup efektif"


Heh, dasar Tuan Muda, aku tidak sudi lagi melayani seorang pria yang telah berkhianat. Riska.


"Ini tidak gratis ya, lo harus bayar bantuan gue ini nanti" lanjut Jason lagi.


Jason menyeringai, membuat otak wanita disampingnya ini menjadi tidak beres cukup menyenangkan juga ternyata. Bermain dengan mengguncangkan jiwa nampaknya cukup menarik sebagai referensi pilihan menyiksa rivalnya nanti. Tinggal pilih mau main fisik atau mental, keduanya sama-sama ada sensasi tersendiri bagi seorang Jason.


Selesai, video itu akhirnya berhenti di menit ke 51:22, durasi yang cukup untuk berolahraga ditambah pemanasan.


"Mau filenya, gue bisa salin ini buat lo, tenang yang ini free" tawar Jason pada Riska yang matanya sudah memerah dari tadi, cairan bening itu tak hentinya keluar, dan kini nampak sudah memanas lagi.


"Cuih, aku tidak sudi, sekarang tolong lepasin aku tuan muda" ucap Riska, persetan dengan vidio itu, ia hanya ingin bebas, pulang dan mencabik-cabik suaminya.


"Lo yakin, padahal gue kira lo bakal butuhin ini" Jason memainkan flashdisk ditangannya, lalu ia melemparnya ke arah Roy, dengan sigap Roy menangkap bukti perselingkuhan itu.


Jason mendekati Riska, ia benar-benar akan menawarkan kerja sama.


"Lo harus bayar semuanya" ucap Jason, membiat Riska menegang.


"De deengan apa ?" ingin Riska menolak, kenapa juga ia harus membayar, bukankah disini ia yang paling dirugikan, ia sudah sangat tersiksa dari tadi, namun pikiran dan mulut yang tidak sinkron sayangnya membuat ia lebih memilih mengatakan itu.


"Jauhi Shirleen"

__ADS_1


"Ii iiya Tuan Muda, aku sudah berjanji, aku tidak akan menampakkan diri lagi dihadapan kalian" jawab Riska cepat, huftt untunglah hanya itu yang harus ia bayar pikirnya.


Kalau benar begitu, sumpah ia tidak akan mau bertemu dengan Shirleen lagi, kalaupun nanti harus bertemu ia berjanji akan menghindar, sudah cukup penderitaan ini.


"Lo kenal wanita di vidio itu siapa ?" Tanya Jason yang sontak membuat darah Riska berdesir hebat, ia benci pertanyaan ini.


Tidak ada sahutan walau wajahnya menunjukkan kemarahan, sayang sekali ia hanya bisa tertunduk.


"Jangan bilang perselingkuhan ini dengan adek lo itu, karena jika dia tau dia akan kembali mengejar Shirleen"


Riska mengangguk, turuti maka semuanya akan aman, begitu saja pikirnya.


"Selebihnya, gue rasa lo tau harus bertindak apa"


"Kalau suatu hari lo butuh ini, temui dia" ucap Jason memperlihatkan flashdisk laknat itu lagi sembari menunjuk Roy, kemudian berlalu pergi.


"Urus dia !" ucap Jason pada Roy, pelan tapi pasti punggung itu menghilang dari pandangan Riska. Tinggallah Riska dengan kehancuran hatinya.


Ia diantar oleh para pengawal Jason saat hari sudah subuh, ia keluar dari mobil, dan ingin masuk kerumah menyalurkan kemarahan yang sejak tadi ia tahan.


"Segala yang terjadi hari ini apapun yang bersangkutan dengan Tuan Muda, lebih baik anda lupakan, tutup mulut karena Tuan Muda selalu mengawasi setiap tawanannya, tidak percaya, coba saja jika sudah siap meninggalkan hidup normal anda"


Riska paham, baiklah ia akan tutup mulut, toh tidak terjadi apapun padanya selain diculik, namun kini mentalnya sudah rusak serusak rusaknya. Dari tadi suara laknat dan vidio itu terus berputar menghantuinya, ia pasti sudah tidak waras saat ini.


Ia masuk, suaminya nampak tidak tidur menungguinya pulang, ia tidak perduli, melihat wajah suaminya membuat penghianatan itu makin terngiang dikepalanya. Pandangan penuh kebencian dilayangkannya.


"Dari mana saja kamu ?" tanya Rendi yang merasakan kelegaan istrinya sudah pulang.


"Dari mana aku ?" Riska menunjuk dirinya "Dari melihat seorang penghianat yang nampak senang sekali bermain dengan ******" ucap Riska penuh kekecewaan, nafasnya yang naik turun menandakan ada lahar kemarahan yang siap ia tumpahkan.


"Apa maksud kamu ?" Tidak mengerti, Rendi mengerutkan keningnya.


"Hotel San*ika, kamar 115, durasi 51:22, masih tidak mengerti ?"


Rendi terhenyak mendengar penuturan Riska,membuat ia mengingat samar kejadian beberapa bulan lalu. Namun dengan cepat ia mengubah mimik wajahnya, anggap saja itu tidak pernah terjadi dan ia tidak mengetahui.


"Apa itu, aku tidak mengerti !" kilah Rendi.

__ADS_1


"Aku ingin bercerai..."


Duaaarrr bagai petir yang menyambar tubuhnya, ucapan Riska berhasil membuatnya kaku.


"Hei, apa-apaan kamu, kenapa tiba-tiba bilang begitu, aku salah apa ?" Rendi menampilkan wajah bingung, seperti ia benar-benar polos.


"Riana, wanita itu, sudahlah Mas, akui saja, aku hanya ingin kita bercerai"


"Riana ? Riana apa, Riana istrinya Athar, ada apa dengan dia ?" sungguh Rendi memang punya bakat akting yang mumpuni.


Geram dengan tingkah sok polos suaminya, Riska semakin menggila, ia sudah siap mengibarkan bendera perang.


"Kau selingkuh, dengan Riana, dihotel melalukan hal menjijikan, masih belum mengerti arah pembicaraanku ?" Riska berteriak dihadapan suaminya, ini kali pertama baginya bersikap lancang dihadapan sang suami, kemarin ia masih menjadi istri yang penurut.


"Riska, apa apaan ini, kamu menuduhku ? Untuk apa aku selingkuh darimu ?" Rendi mencoba menenangkan istrinya hendak memegang lengan istrinya itu.


"Untuk apa, heh seseorang kadang juga tidak punya alasan kalau sudah tergoda dengan ******" ucap Riska.


"Riska sayang percaya sama Mas, Mas tidak pernah selingkuh darimu..." bela Rendi, percayalah bersamaan dengan rayuannya, jatungnya justru berdegup kencang, dari mana istrinya mengetahui semua ini pikirnya.


"Berhenti, jangan menyentuhku lagi, jangan memanggilku begitu, itu sangat menjijikan" Riska menutup telinganya, hal yang sangat ingin ia lakukan saat di ruangan bawah tanah tadi, bayang bayang suaminya bermain gila dengan Riana kini terpatri jelas di hadapannya. Suara-suara laknat itu bersahutan bagai kaset kusut yang terus memutar ulang, semakin membuatnya gila.


Sayang, heh bahkan suaminya juga memanggil Riana dengan sebutan sayang sebanyak yang ia dengar tadi. Bohong, kata-kata cinta itu semuanya bohong.


"Tidak, tidak, pergi, pergi" Riska mencoba menghalau bisikkan-bisikkan yang ia dengar memenuhi rongga telinganya, matanya terpejam, tangannya menghalau sembarang arah, lagi lagi mentalnya terganggu.


"Pergi, pergi..."


Ia berlari menuju kamarnya, berharap suara-suara laknat itu tidak mengikutinya.


Flashback off.


Bersambung...


Like, koment, dan vote seiklasnya lah yaaa...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2