
Entah sudah berapa kilo perjalanan yang telah ditempuh Jason, dari kawasan hutan mereka kembali menapaki pedesaan, Jason bahkan tidak mengetahui kalau sesudah melewati jalan tanah merah tadi masih ada desa yang cukup luas setelahnya.
"Apa Mama tau tempat ini?" tanya Jason tiba-tiba.
"Enggak, Mama tidak tau." jujur Mama Mila.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mobil Jo di depan sana benar-benar berhenti, di rumah salah satu penduduk desa tang nampak sederhana.
Dinding rumahnya saja terbuat dari anyaman bambu, pelan Jason membuka pintu mobilnya disusul Mama Mila yang ikut keluar karena merasa kalau mereka sudah sampai.
Keduanya mendekati Jo, mengisyaratkan pertanyaan yang mungkin Jo juga sudah tau.
"Di rumah ini Tuan akan mengasingkan diri, Tuan juga menyamar menjadi orang biasa dan sebisa mungkin tidak dikenali, mari saya antar." ucap Jo.
Jason dan Mama Mila mengangguk bersamaan, mereka juga penasaran.
Tok tok tok, pintu di ketuk, tidak ada sahutan, rumah sederhana itu nampak sepi, entah dimana keberadaan penghuninya.
"Sepertinya Tuan tidak ada di rumah, kita tunggu saja, di bagian belakang rumah ini ada semacam tempat untuk beristirahat tanpa harus memasuki rumah, apa Nyonya dan Tuan Muda tidak keberatan jika kita menunggu Tuan sekalian beristirahat di situ?"
"Tidak apa Jo, aku berterimakasih banyak padamu, kau memang kebanggan suamiku, yang kau lakukan ini sudah benar meski harus mengingkarinya." ujar Mama Mila.
Kemudian Jo, Mama Mila, dan Jason pergi ke bagian belakang rumah, benar saja ada tempat yang begitu luas untuk mereka mengistirahatkan punggung dan seluruh badan yang lumayan lelah karena lamanya perjalanan.
"Saya akan mencari toko kelontong yang masih buka di sini, sekalian mencari makan, semoga saja ada warung yang buka sampai larut malam di sini." ujar Jo, malam semakin beranjak naik, diliriknya arloji yang melingkar di tangannya, 21:44, semoga keberuntungan berpihak padanya.
"Ya, semoga saja, kalau tidak maka kita semua akan menjadi santapan nyamuk malam ini." ujar Mama Mila.
Jason diam saja, dia mengeluarkan ponselnya, dilihatnya tidak ada satupun garis sinyal yang terpajang di bagian atas layar ponselnya, bagaimana caranya menghubungi Shirleen pikir Jason.
"Nanti, kalau saat sudah ketemu sama Papa, Mama harap kamu jangan mulai, bukannya Mama membela Papa, tapi setidaknya buatlah perjalanan jauh yang kita tempuh tadi tidak sia-sia." ucap Mama Mila.
Jason mengangguk, dirinya juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat sudah bertemu Papanya nanti.
Sudah hampir setengah jam berlalu, barulah terdengar derap langkah kaki orang menuju rumah, Mama Mila spontan berdiri, dirinya akan melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Jason juga mengikuti langkah Mamanya.
"Papa!" pekik Mama Mila, benar dugaannya, suaminyalah yang datang.
Jason semakin terdiam, langkahnya terhenti kala melihat kenyataan di hadapannya, benar Papanya dengan jambang tipis di sekitar pipinya, kumis yang di buat lumayan lebat, serta sarung sebagai pengganti celana.
Kalau dilihat sekilas mungkin orang lain tidak akan bisa mengenali, namun Jason adalah peneliti yang handal, dia bisa langsung mengenali Papanya meski hanya dalam satu bidikan mata.
"Ma, tidak seharusnya..."
"Pa, tidak, Mama tidak akan membiarkan Papa pergi, tidak ada yang akan kemana-mana di antara kita bertiga, baik Mama, Papa, ataupun Jason, Mama ke sini untuk menjemput Papa pulang, pulang ke rumah kita." jelas Mama Mila.
"Tapi Ma..."
"Pa, ini anak Papa, Mama menceritakan semua, semuanya, tidak ada lagi yang kita sembunyikan, selama ini kesalahan kita adalah kurang terbuka satu sama lainnya, mencoba menyimpan rahasia, padahal hati kita tidak pernah selaras, jangan lagi Pa, Mama sudag menceritakan semuanya."
Pak Adrian tercengang, dengan istrinya yang menceritakan semuanya, itu berarti kemungkinan Jason untuk membalaskan dendam pada musuh keluarga Adrian juga semakin terbuka, dirinya tau bahwa jiwa yang sama dengan Tuan Abraham itu tidak akan tinggal diam, tidak akan membiarkan itu semua begitu saja.
"Sudah kukatakan jangan pernah lakukan Ma..."
"Kenapa?" tanya Jason. "Apa takut kalau aku akan mencincang hidup-hidup mereka semua?" tanya Jason.
Dirinya sebenarnya belum memikirkan pembalasan dendam, Jason akan menanyakan pada Papanya dulu, bagaimana kisah rumit itu, bagaimana kejamnya musuh dalam selimut itu, hingga dirinya bisa memutuskan penyiksaan bagaimana yang pantas para paman-pamannya dapatkan.
"Nak..."
"Ceritakan semuanya, atau aku akan menganggap hanya kau seorang yang bersalah!" ucap Jason.
"Nak..."
"Pa sudah, ceritakan saja, ceritakan semuanya, Jason pantas mengetahui semuanya, termasuk kematian Opanya..."
"Tidak ada yang perlu diceritakan, bukannya kau sudah tau sebagian ceritanya, mereka orang yang sangat kejam dan Fred sudah membalaskan kematian Opamu, bukannya kau sudah mengetahui itu."
"Sudahlah Nak, hiduplah damai, terima saja semuanya, aku tidak mau membalas dendam, ingat pesan Opamu, dan lagi pula Fred sudah membalas semuanya."
__ADS_1
Ujar Pak Adrian, jiwanya yang penuh kasih tidak bisa membiarkan jika harus ada pertumpahan darah lagi.
"Baik jika itu maumu, tetaplah berhati mulia dan biarkan mereka di sana dengan senang hati menertawakan kita, setiap kita bertengkar, setiap kita saling menyerang, ada tawa mereka yang menggema, sungguh hidup yang adil."
"Kau bisa mengorbankan hidup normal anakmu, tapi kau tidak bisa membalaskan dendam pada saudara-saudaramu, Adrian yang malang, aku kasihan padamu!"
"Nak, kau sudah tau semuanya, kalau bisa aku berkeinginan, bisakah kota kembali seperti dulu tanpa adanya balas dendam?" tanya Pak Adrian.
"Seperti kau yang telah berani mengambil keputusan dan memilih menggadaikan masa kecilku, aku di sini juga berhak atas pembalasan itu, akuntidak akan kembali pada kalian jika tidak adanya balas dendam, aku akan membuat mereka hancur sehancur-hancirnya atau hidup kalian yang akan aku hancurkan!"
Tangan Jason mengepal, rahangnya mengeras, masih ada setitik benci pada Papanya namun kini dirinya lebih lebih membenci keluarga dari Papanya.
"Nak..."
"Pa sudah, Mama yakin akan kemampuan putra kita, Jason pasti bisa membalaskan semuanya, meski Papa tidak ingin tapi cobalah hargai keputusannya."
"Heh," Jason memiringkan sudut bibirnya, "Jangan mendrama Adrian Cakrawala, dengar aku baik-baik aku tidak akan memanggilmu Papa jika kau masih sok suci seperti ini, sudah kukatakan kau adalah Papa yang buruk dan ternyata kali ini pun masih sama."
"Nak..."
"Jason sayang..."
Ucap Pak Adrian dan Mama Mila bersamaan.
"Nak, jiwa Opamu tidak akan tenang jika masih ada pertumpahan darah, Papa hanya tidak ingin mengingkari apa yang telah diamanatkannya."
Pak Adrian benar-benar dilema, entah keputusan apa yang akan dirinya ambil kali ini?
*
*
*
Like, koment, and Vote !!!
__ADS_1