
Afik sedang menunggui Jason bekerja, dia saja yang melihat itu lelah tak tertahankan, sementara yang dilihatnya Jason baik-baik saja seakan menikmati.
Shakira sudah pulang, ia disuruh Jason pulang untuk beristirahat, perjalanan dari Korea Selatan ke Jakarta lumayan pegal pastinya. Jason tidak sekejam itu, lagi pula Shakira juga sudah di istirahatkan olehnya semanjak tidak ada lagi drama rampok merampok.
Shirleen sedang tidur, efek obat selalu saja membuatnya mengantuk.
"Shutt, shutt, bosen nih, lo mau pesen apa, gue mau order makanan ini?" tanya Afik pada Jason.
"Serah lo!" sahut Jason.
Lalu Afik memesan beberapa makanan cepat saji dan beberapa cup ice cream.
"Heh Junedi, bayi ganteng belum kesini yaaa?" tanya Afik menanyakan Jacob.
"Bekum, gak gue suruh, biar Ipah aja yang urus, nanti kalau Ilen udah bener-bener pulih baru deh gue kasih." jawab Jason.
"Emang bini lo bisa jauhan sama bayinya." tanya Afik.
"Heeh, sebenarnya nggak sih, tau mau gimana lagi, lo nggak liat tuh banyak banget alat yang ditempel-tempekin, nanti kalau Ilen udah rawat biasa aja baru gue suruh abang kesini!" jawab Jason lagi.
"Abang?" tanya heran Afik.
"Iya, mulai beberapa hari kemaren gue sama bini gue manggil Jacob itu Abang aja panggilannya, kan bentar lagi punya adek." jelas Jason.
"Heemm, ya juga yaaa, umur belum setahun udah jadi abang aja tuh bayik, maju bener bapaknya."
"Enggak maju gue, siapa bilang, kalau maju doang gak bakalan jadi kali." ucap Jason, ia memiringkan sedikit sudut bibirnya.
"Lah terus udah tek dung itu bini apa namanya kalau bukan maju?" tanya Afik.
"Ya maju mundur dong, gue kalau maju doang gak maju mundur juga gak bakalan jadi benih kali." jelas Jason tanpa malunya.
"Sialan lo!" umpat Afik, ia melemparkan pulpen ke wajah Jason, bisa-bisanya otak sucinya terkontaminasi oleh ucapan gak ada akhlak Jason.
"Lah emang bener kan, apa salahnya?" tanya Jason dengan tanpa dosa.
"Lo...arrrgghh!" geram Afik.
"Makanya nikah sono, biar bisa maju mundur tanam-tanam benih" tantang Jason.
"Sialan lo Junedi, awas aja lo kalau gue udah nikah!" ucap Afik.
"Yee, nggak ada awas-awasnya kali, gue kalau lo nikah sekarang juga gak bakalan ngaruh sama gue, tetep aja gue yang menang sekali jleb dapet dua malah, nah lo satu aja belum." ucap Jason tanpa filter.
"Sarap lo, dasar sinting."
__ADS_1
"Eh Junedi, lo serius mau kuliah online taun ini?" tanya Afik lagi, yang sebenarnya adalah ingin mengalihkan pembicaraan, dari pada dirinya kena makan terus oleh Jason.
"Hemmm!" singkat Jason namun kali ini diiringi dengan anggukan.
"Lo satu kampus kan sama gue dan Angga?" tanya Afik lagi.
Jason mengangguk lagi.
"Junedi, enak nggak sih nikah muda?" tanya Afik lagi, ia sedang gabut jadi ya mewawancarai Jason saja kerjaannya."
Jason mendelik, ia menatap serius Afik.
"Lo serius nanya apa cuma sekedar bertanya?" tanya Jason balik.
"Ya kali aja bisa jadi referensi motto hidup gue." alasan Afik.
"Haahh," Jason menghela nafasnya, "Gue udah pernah jawab pertanyaan kek gini waktu kemaren-kemaren, dan jawabannya tetap sama, tergantung bagaimana kita menyikapinya saja." jelas Jason.
"Ehe, gue udah lupa sama jawaban lo detilnya, tapi kalau lo males jawab jangan dijawab juga nggak papa kali." ucap Afik.
"Nah berarti lo cuma sekedar bertanya, nggak ada kerjaan, temenin Bunda gih sono dari pada nungguin gue sama bini gue, ganggu aja tau nggak lo." ucap Jason.
"Lo ngusir gue?" tanya Afik sembari menatap tajam Jason, tapi yang ditatap sayangnya tidak gentar sedikitpun.
"Seharusnya lo ngerasa sih." ucap Jason, namun ia kembali acuh dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Udah ditemenin juga, bukannya makasih, heh dasar tega!" umpat Afik.
Jason tidak bergeming, setelah terang-terangan mengusir Afik, bodo amat.
Namun berhubung keduanya sama-sama mempunyai sifat tidak peduli, Jason yang pada dasarnya memang cuek sedang Afik lebih ke tidak tau malu, keduanya tetap bertahan.
Afik menuju kulkas untuk mengambil beberapa minuman dingin dan buah untuk cemilan, terserah apa.kata Jason dirinya tidak perduli.
"Makan aja Pak, anggap aja rumah orang!" sindir Jason saat Afik meletakkan satu cup buah anggur dan tiga botol minuman kemasan dingin di meja.
"Kalau mau bilang aja Pak, gak usah malu-malu, saya bisa ambil lagi." lawan Afik bagai tidak ada tersindir sedikitpun.
"Dasar nggak ada akhlak." gumam Jason.
Sementara di bagian negara lainnya.
Yudha sedang dilanda penasaran luar biasa karena Weni sedari tadi tidak mengangkat panggilannya, apa yang harus ia lakukan, apakah Weni mulai jenuh dengan hubungan mereka kala Yudha mendapati sosial media milik tunangannya itu aktif sekitar satu jam yang lalu, sudah selama tadi ia menghubungi Weni namun tidak jua ada kejelasan sedang apa dan dimana tunangannya itu.
Kalau begini bagaimana dirinya bisa fokus kuliah dan cepat menyelesaikan kuliahnya, tiap hari Weni membuat ulah, Weni mulai abai dengan panggilannya.
__ADS_1
"Sedang apa dia?" gumam Yudha.
Ia memutuskan menghubungi Afik atau Angga, saat ia menelpon Afik panggilannya langsung saja diangkat.
^^^"Hallo, orang Jerman, ada apa telpon, kangen ? Belum juga seminggu."^^^
"Hahaha, bisa aja lo, lagi dimana lo?"
^^^"Lagi di rumah sakit gue, nemenin si Junedi jagain bininye."^^^
"Hah, Rumah Sakit! Kak Ilen sakit apa, si kembar nggak papa kan?"
^^^"Tau sakit apa, tadi gue tanya katanya sempet drop sih, lo nggak baca berita pagi ini, orang viral juga."^^^
"Oh, jadi gimana sekarang?"
"Gue belum ada liat berita pagi gini."
^^^"Ya gak papa sih, nyante aja, udah agak baikan tinggal pemulihan."^^^
"Oh, apa Weni udah tau yaaa?"
^^^"Udah, bini lo juga tadi udah jenguk bareng mertungkat lo."^^^
"Ah udah tau berarti dia, kirain belum tau."
"Lama nggak dianya disitu?"
^^^"Lumayan, tapi udah pulang katanya harus kerja, kenapa, emangnya lo belum see hay sama bini lo pagi ini?"^^^
"Belum gue agak sibuk pagi ini soalnya."
^^^"Oohh,"^^^
Lalu Yudha mengalihkan panggilan suaranya menjadi panggilan vidio, Afik langsung saja menjawab, dan menampilkan muka tidak tau dirinya itu, tak lupa Jason yang memang sang CEO dengan segudang pekerjaan gak selesai-selesainya.
"Lagi ngapain sih Junedi, kerja mulu?" tanya Yudha dari seberang sana.
"Cari cuan Men!" jawab Jason, namun sama sekali tidak melirik Yudha.
Lalu Afik dan Yudha mengobrol apa saja tidak memperdulikan Jason, sejenak hati Yudha bisa sedikit melupakan kegundahannya, ingin sekali ia menanyakan Weni pada Afik, atau menyuruh Afik untuk pergi ke tempat Weni bekerja dan memberikan informasi seputar tunangannya itu, tapi ia rasa jangan dulu, ia rasanya hal seperti itu terlalu berlebihan akan hubungannya, biarkanlah Weni menikmati hari, ia juga masih ada Angga, Afik dan Jason sebagai penyemangatnya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...