Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Mimpi Misca.


__ADS_3

"Ayaaahhh" teriak Misca, saat ia terbangun dari mimpinya.


Shirleen yang terbangun langsung saja memeluk putrinya itu.


"Kenapa sayang, kamu mimpi buruk" ucap Shirleen, tangannya mengelus elus rambut Misca yang tampak basah karena keringat.


"Minum dulu" ucap Jason, ia menyodorkan air pada Misca.


Ia juga spontan terbangun tadi karena mendengar teriakan Misca.


"Bun, ayah Bun" ucap Misca, kini gadis kecil itu sudah terisak.


"Kenapa sayang, nah kan pasti mimpi buruk ini" ujar Shirleen, ia lalu memeluk anak gadisnya itu.


"Kakak kenapa, hei cerita dong sama Papa" sambung Jason.


"Papa, papa... Ayah bilang Ayah mau pergi" ucap Misca, meski terisak Jason masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Misca katakan.


Jason lalu menggenggam tangan anak gadisnya itu. "Misca sayang, ayah pasti baik-baik saja"


"Papa, boleh kakak mau ketemu ayah"


"Iya besok yaaa" jawab Jason.


Jason lalu memeluk putrinya itu, mungkinkah telah terjadi sesuatu pada Athar sehingga anak sekecil Misca bisa merasakan ketidaknyamanan ini, batinnya.


Sementara Athar, ia masih juga belum sadarkan diri di ruang ICU, untung saja Delia secepatnya sampai lalu membawa Athar ke rumah sakit, kalau tidak nyawa Athar mungkin tidak bisa tertolong.


"Gimana ini bisa terjadi sih, coba jelasin gimana mungkin Athar bisa sampe ketusuk, jangan-jangan kamu mau bunuh dia yaaa" tanya Delia, sisa kemarahan yang masih baru yang ia simpan untuk Riska kini bertambah, ia melihat noda darah di tangan dan baju Riska, pasti apa yang menimpa Athar tentu ada kaitannya dengan Riska.


"Hiks Hiks" Riska hanya bisa menangis, ia ingat betul bagaimana Athar mencegahnya tadi.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, buat apa disesali Athar sudah terbaring lemah tidak sadarkan diri, dan semua itu karena ulahnya.


"Kamu puas kan..." Delia sangat marah, bahkan embel-embel kakak tidak lagi ia kenakan untuk memanggil nama Riska.


"Setelah Tiara lalu kenapa harus Athar, Aku nggak akan bisa maafin kamu kalau sampai terjadi sesuatu sama Athar" ancam Delia.


"Maafin kakak Del..." isak Riska, ia sudah memegang tangan adiknya itu, entah apa yang ia lakukan tadi hingga membuat Athar seperti itu, ia sepertinya memang sudah gila.


"Enggak, sebelum Athar sadar aku nggak akan bisa maafin kamu" ucap Delia yakin, ia benar-benar benci kali ini.

__ADS_1


"Dek kamu pasti kuat, ayok bangun dek" ucap Delia, ia memandang Athar lewat kaca dari ruangan itu, ia mulai mengingat masa kecilnya dengan Athar, ah adik bungsunya itu sudah dewasa, ia tidak bisa terima jika terjadi sesuatu pada kesayangannya itu.


"Dengan keluarga Athar Adiandanu ?" tanya Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Athar.


"Saya Dok, saya kakaknya" ucap langsung Delia.


"Saya juga Dok saya juga kakaknya" disusul oleh Riska.


"Lukanya sangat dalam, bahkan ada sedikit ususnya yang terluka, begini apa pasien mempunyai istri, pasien kehilangan banyak darah, sehingga kami butuh pendonor secepatnya, dan juga pasien akan di operasi jika bisa beri tau segera keluarga lainnya, terutama istri, supaya tidak ada kesalahpahaman di kemudian nanti.


"Operasi saja Dok, lakukan yang terbaik, istrinya sudah meninggal, dia hanya sendiri, jadi kami menggantungkan harapan pada dokter, selamatkan adik saya dok" ucap Delia.


"Ya baiklah kalau begitu, silahkan ke bagian administrasi, lalu carikan pendonor untuk pasien, golongan darahnya B positif"


Riska tertunduk lemas, Athar sedang berjuang mempertaruhkan nyawa, sementara ia tidak bisa melakukan apa, golongan darahnya juga berbeda dari Athar, seingatnya hanya ayahnya lah yang memiliki darah yang sama dengan Athar, heehh kakak macam apa aku ini pikirnya.


Delia segera menuju bagian administrasi, ia juga menghubungi saudaranya yang lain, untuk meminta bantuan darah yang sedang Athar butuhkan.


Ia juga menghubungi Rendi, untuk meminta bantuan mencarikan pendonor darah, sekalian juga untuk mengabarkan bagaimana kondisi Athar saat ini.


Jason tidak tinggal diam, tanpa sepengetahuan Shirleen ia menghubungi Roy untuk menemaninya ke suatu tempat.


Dasar Jason nggak ada ahlak, mau aku cekek, errghh gak bisa besok aja apa.


Shakira lebih lebih, selalu saja seperti ini, malam dulunya juga begitu, Jason memang sialan umpatnya.


"Aku harus pergi" ucap Roy meminta izin.


"Kemana ?" tanya Shakira.


"Aku juga tidak tau, tuan muda hanya bilang minta temankan, kau baik-baik dirumah sendiri. kunci semua pintu, aku memiliki kunci cadangan, jadi jika ada yang mengetuk pintu nanti maka jangan pernah dibuka, itu pasti bukan aku" ucap Roy menyampaikan nasehatnya sebelum pergi.


"Ya baikah, salam untuk bosmu itu, bilang padanya, mau nanya kalau motong ayam itu bagusnya di cekek apa di gorok" ucap Shakira, meski ia bisa berkata begitu hanya kalau tidak di dengar Jason.


Yang sebenarnya mana berani dia.


"Oke sayangku, nanti pasti akan aku sampaikan" ucap Roy mulai serius.


"Eeh jangan jangan, becanda doang aku, jangan terlalu dianggap serius" ucap Shakira. Tidak jangan sampai mulutnya yang asal nyablak malah membuatnya mendapat panggilan telepon lagi dari Jason.


"Jadi gimana" Roy sudah hampir selesai, ia tinggal memakaikan sepatunya.

__ADS_1


"Ya nggak gimana, kerja aja meski udah dini hari begini" ucap Shakira, ada terselip tidak begitu ikhlas dalam mengatakan itu semua.


"Cup" Roy mengecup singkat kening wanitanya itu, beruntung Shakira adalah istri yang pengertian, padahal lebih tepatnya bukan begitu, jelas saja bisa mengerti karena mereka berdua sama-sama takut dengan Jason.


"Aku pergi" pamit Roy.


"Ya baiklah"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Roy mulai merayapkan mobilnya, ia akan bertemu dengan tuan mudanya di suatu tempat, ia seperti mengenali tempat tersebut kala membaca share loc yang tuan mudanya berikan.


"Kenapa sepeti mengenalinya" gumam Roy.


Tak begitu lama, ia pun sudah sampai di tempat tujuan, Tuan Mudanya sudah menunggu disana, bukan salahnya kan kalau ia telat sedikit.


"Tuan Muda" sapanya.


"Heemm" singkat Jason.


Hening, Roy masih menunggu perintah.


"Kenapa lama ?" tanya Jason lagi.


"Saya..." ucap Roy terhenti, ia harus bilang apa, apa alasannya, haruskah ia mengatakan kalau saat tuan mudanya menelpon tadi ia sedang bercinta, ditambah lagi kejujuran bahwa tuan muda sangat mengganggu misalnya.


"Seorang Royand Zuhrizal tidak pernah telat, dia selalu tepat waktu, ini pertama kalinya yaaa, benar ternyata menikah memang bisa merubah pribadi seseorang, semoga saja kau tidak berubah dalam kinerja tugasmu, aku malas harus mengganti orang" ucap Jason.


Roy bergidik ngeri, padahal kesalahannya tidak seberapa, hanya telat saja, dan benar itupun yang pertama kalinya, ia melirik sekilas jam tangannya.


Cuma lima belas menit padahal....


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2