
"By..." panggil Jason, saat Shirleen dilihatnya melakukan pergerakan. Shirleen memang nampak membuka mata, lalu menatap blur wajah suaminya, Jason menggenggam erat tangan Shirleen.
"Bayiku!" pekik Shirleen spontan, matanya menatap perut yang terasa sakit, tentulah bekas sayatan operasi caesar membuatnya merasakan kesakitan meski hanya sedikit bergerak.
"Bayi kita sudah lahir, mereka selamat, terimakasih sudah berjuang, aku mencintaimu By!" ucap Jason, kemudian pria itu mengecup lembut kening istrinya.
Shirleen merasakan lega, air matanya menetes, tanpa dirinya menikmati proses melahirkan kali ini, si kembar sudah lahir dengan selamat dalam keadaan dirinya yang tidak sadar.
"Kau kuat sekali By, jangan tinggalkan aku!" lirih Jason.
Yang sebenarnya, Jason sungguh takut kehilangan Shirleen, melihat Shirleen yang mengalami pendarahan hebat, lalu tidak juga terbangun dari pingsan hingga selesai melahirkan, tentulah membuatnya berada dalam ketakutan.
"Jika aku masih di sini sampai hari ini, berarti aku tidak akan meninggalkanmu By, Tuhan masih menginginkan kita bersama." ucap Shirleen, mengingatkan bahwa ada atau tidak adanya dirinya di sisi Jason bukan bergantung dari kehendaknya, namun melainkan kehendak yang Kuasa.
"Aku takut sekali..." lirih Jason.
Rapuh, Shirleen belum tau tentang bayi laki-lakinya, tentang mimpi Jason yang membuat pemuda itu selalu diliputi rasa bersalah. Kali ini Jason mengatakan dirinya ketakutan bukan hanya takut akan berpisah dari Shirleen, namun takut akan bagaimana kehidupan kedepannya bayi laki-laki yang hanya berjarak lahir lima menit dari bayi perempuannya.
"Anak kita, mana?" tanya Shirleen, "Apa benar mereka kembar sepasang?"
"Iya benar, laki-laki dan perempuan." angguk Jason.
"Benarkah!" meski perutnya sakit, namun Shirleen tidak bisa menahan rasa bahagia yang tersemat di dadanya. Bayi kembar itu sudah lahir dari rahimnya, meski kali ini harus dengan cara operasi caesar.
"Boleh bawa mereka ke sini By?" mohon Shirleen.
"Iya nanti ya!"
Pak Adrian sedang melihat cucu laki-lakinya di ruang bayi, bayi mungil itu harus berada di inkubator karena kelainan jantung yang di deritanya.
__ADS_1
"Kasihan kamu sayang, tubuh mungilmu harus menanggung kesakitan."
Bayi mungil itu memang sedikit kesulitan untuk bernafas, hingga harus terpasang alat untuk menormalkan kerja jantungnya.
Bayi yang hanya lahir dengan berat 2,3 kg itu memiliki wajah mirip sekali dengan Shirleen, namun iris matanya sama dengan Jason, hitam dan tajam.
Memang benar, kembar fraternal tidak akan mirip antara satu dan lainnya.
Pak Adrian bisa melihat itu, bayi itu sedang menggeliat, mungkin merasa terganggu dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya, matanya menatap ke arah Pak Adrian, seolah meminta tolong. Hati Pak Adrian remuk redam, cucunya harus mengalami ini semua, mengapa tidak dirinya saja? Mengapa harus bayi sekecil itu? Yang baru saja melihat bagaimana rupa dunia namun seakan sudah diperkenalkan dengan kekejaman.
"Kau akan kuat, seperti Papamu, sampai hari inipun Jasonku begitu kuat."
Sudah hampir satu jam lamanya Pak Adrian berada di depan kaca ruangan itu, menatap cucunya tiada henti, meratapi nasib cucunya yang baginya kurang beruntung itu.
"Pa..." seru Mama Mila, membuyarkan lamunannya.
"Ya..."
Pak Adrian mengangguk, dirinya juga begitu khawatir tentang keadaan menantunya itu, yang sudah sangat berjuang untuk melahirkan generasi penerusnya.
Roy pulang sebentar ke rumah, untuk mandi lalu bersiap pergi ke kantor, mewakili rapat yang sebenarnya jadwalnya sudah ditunda dari dua jam yang lalu, Tuan Mudanya tidak akan masuk kantor tentunya.
"Sayang..." panggil Roy pada sang istri.
Shakira tidak ditemukannya di kamar, entah ke mana perginya sang istri, setahunya Shakira bukanlah orang yang mudah bergaul dengan tetangga.
"Sayang..." panggilnya lagi.
Langkah Roy menuju taman belakang, semenjak menikah sebenarnya Shakira tidak pernah mengunjungi taman belakang, namun entah kenapa langkahnya kali ini membawa Roy ke situ, untuk memastikan saja atau memang ada sesuatu di taman belakang.
__ADS_1
"Shakira..." gegas Roy menghampiri istrinya yang tengah duduk di taman belakang, tidak peduli dengan panas yang menyengat. Tatapan Shakira kosong, gelagat yang aneh menurut Roy, selama mengenal Shakira, gadis yang terang-terangan mengatakan menyukainya, gadis yang seolah telah putus urat malunya jika menyangkut tentang Royand Zuhrizal, sebanyak yang Roy tau Shakira adalah gadis yang periang jika bersamanya, hidup dengannya adalah impian Shakira, begitu yang pernah Roy dengar terucap dari bibir manis istrinya saat Shakira tiada henti mendekatinya dulu.
"Hey, sayang... Kenapa?" tanya Roy lembut. Pria itu membawa Shakira duduk di bangku taman, dibawah pohon mangga yang cukup rindang. Pohon mangga itu tengah berbunga, kala ditiup angin seperti ini bagai bunga sakura yang gugur, beterbangan, mendarat lembut di rambut hitam panjang milik Shakira.
"Aku hanya ingat dia Roy, seharusnya aku bahagia Nona Shirleen melahirkan, tapi aku masih mengingat dia, aku tidak bisa melupakannya Roy, dia sudah bahagia kan, padahal dia sudah bahagia kan di sana?" lirih Shakira, tatapan matanya masih saja kosong, menatap lurus kedepan tertuju pada bebatuan yang seakan lebih menarik baginya dari pada wajah Roy kali ini.
"Sayang, hey, Dia udah di Surga, Dia adalah titipan dan bisa diambil kapan saja, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri sayang, kita masih bisa membuatnya, kalau perlu kita juga program bayi kembar biar bisa samaan sama Nona Shirleen." ucap Roy, niatnya hanya satu, untuk menghibur Shakira supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Tidak ada senyuman, hanya ******* panjang yang bisa Shakira balas untuk segala perkataan Roy, di dadanya masih sesak setiap kali mengingat itu. Mengingat Dia yang sudah pergi, bahkan sebelum keberadaannya diketahui.
Dengan pasti Roy memeluk istrinya, mencium manja puncak kepala Shakira, hati Roy juga sama pedih teriris, namun dirinya mencoba kuat.
"Sayang, jangan bersedih, mungkin Tuhan menitipkan Dia hanya sebagai pelajaran untuk kita, pelajaran supaya kita lebih berhati-hati, jangan gegabah, kita akan segera mendapatkan penggantinya, berdoa saja pada yang di-Atas, meminta padanya, Allah itu maha pemurah sayang." nasihat Roy pada Shakira.
"Ini adalah ujian sabar bagi kita, setiap manusia itu selalu ada aja ujian sabarnya, begitupun kita, jadi jangan bersedih, jangan berkecil hati." lanjut Roy lagi.
"Aku hanya merasa kehilangan sayang." ucap Shakira. Kepalanya mendongak, matanya menatap Roy, wajah suaminya itu selalu menenangkan.
"Rasa kehilangan tentu ada, namun berlarut-larut dalam kesedihan itu juga tidak baik lho, tidak diperbolehkan dalam Islam, sayang harus ikhlas, rela, dengan begitu di sini, di hati kita akan lega dengan sendirinya kalau kita sudah bisa ikhlas merelakan."
"Kemudian, hidup kita akan menjadi lebih baik, coba dulu yaaa."
Roy memberikan nasihat untuk Shakira yang tentunya sangat-sangat minim ilmu agama itu, mengecup bibir Shakira, ******* lembut ranumnya, "Aku mencintaimu Shakira, kita akan hadapi ini bersama, ada aku, suamimu!"
Bersambung...
*
*
__ADS_1
*
Like, koment, and Vote !!!