
Riana hanya bisa diam membisu saat melihat punggung suaminya yang semakin menjauh. Ini adalah tempat tinggal barunya, disinilah ia dititipkan, ia sebenarnya hanya sakit namun tidak gila, namun entah kenapa kadang ia bisa bertindak diluar kendali, berhalusinasi, merasakan takut, lalu tertawa, sudah persis seperti orang gila, walau ia menyadari gelagat aneh pada dirinya tetapi tetap saja ia tidak bisa menolak responnya, hal yang tidak pernah ia duga selalu saja terjadi.
Punggung itu semakin menjauh, air matanya mulai menetes.
Tega sekali kamu Mas, kamu tega....
Di sebuah cafe, saat jam makan siang.
"Kau melakukannya...?"
"Yah, mau bagaimana lagi, aku muak"
"Aku tidak janji kau bisa bernafas lega setelah ini"
"Kau tenang saja, aku bisa jamin tuan Muda pasti menyetujui rencanaku ini, tuan muda hanya melarang aku membunuhnya kan"
"Yah memang benar, tapi kau bekerja tanpa seizinnya atau aku"
"Bukan masalah selama hasilnya tidak buruk"
"Semoga saja, aku akan menjelaskan pada Tuan Muda nanti" Roy menghela nafas panjang, ia belum bertindak apapun karena belum adanya perintah dari tuan muda Jason, namun Shakira sudah lebih dulu bertindak, kini nasibnya sedang diperhitungkan.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya ?" Tanyanya lagi.
"Tidak ada, kau jelaskan saja dulu apa yang ku beri tau ini, lalu biar tuan muda merencanakan sesuatu lagi, ku harap ia membebaskanku, bilang juga pada Tuan Muda, aku rindu pekerjaanku" ucap Shakira sambil mengaduk-aduk ice coffenya yang sudah hampir habis, sehingga menimbulkan suara khas dari pertengkaran sedotan dan es batunya.
"Tapi mungkin aku akan mengajukan pengunduran diri, adegan aku yang hampir mati dicekik itu bisa dijadikan satu alasan bukan"
Roy mengangguk pelan, tidak diragukan lagi, Shakira memang berbakat, bolehkah nanti ia merekomendasikan Shakira di salah satu stasiun TV milik keluarga Adrian, barangkali saja ada tawaran main sinetron untuknya, peran antagonis misalnya. "Kau sungguh licik"
"Yah begitulah, seorang hacker memang selalu bermain dengan strategi" ucap Shakira tersenyum bangga.
"Kau tidak apa keluar lama seperti ini ?" tanya Roy lagi.
"Sudahlah jangan mengkhawatirkanku, aku punya banyak alasan jika Athar bertanya" jawab Shakira dengan pedenya.
__ADS_1
"Siapa yang mengkhawatirkanmu ?" ucap Roy, ia gemas sendiri, bagaimana pun ia hanya sekedar bertanya, tapi nampaknya Shakira salah paham dan terlalu tinggi berekspektasi.
Shakira memanyunkan mulutnya mendengar jawaban gebetannya ini, Roy memang susah diajak bercanda, apa karena keseringan berada dekat dengan tuan muda hingga membuat ia sulit untuk dimengerti seperti ini.
Shakira menghembuskan nafasnya pelan.
"Ya ya aku telalu banyak berharap" ucapnya kemudian.
Roy mengembangkan senyumnya, membuat Shakira kesal sepertinya akan menjadi hobi baru baginya. Shakira terlihat manis dengan wajah ditekuk seperti itu.
"Aku akan pergi, kau pulanglah, Tuan barumu itu pasti sedang mencarimu saat ini" ucap Roy yang sudah bangkit dari tempat duduknya.
"Enak saja, tuanku cuma Jason Ares Adrian, kau lupa aku merendahkan diriku seperti ini juga karena dirimu" ucap Shakira kesal.
Ia sungguh tidak habis pikir, Roy begitu menyebalkan dan sayangnya kenapa juga ia bisa suka dengan lelaki bermata sipit nan ganteng dihadapannya ini.
"Karena aku ?" Roy menunjuk dirinya.
Ah iya ia pernah mendengar perkataan tuan Mudanya, Shakira menyukainya, apakah itu serius. Roy kemudian mengubah ekspresinya, tujuannya ialah membuat Shakira lebih kesal lagi "bukannya kau yang memintanya sendiri ?"
"Ya ya ya Tuan Roy yang terhormat, sepertinya aku salah menggilaimu selama ini ?" Shakira menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka Roy ternyata tidak punya sedikit hati pun untuknya.
Shakira membuang muka, Ya Tuhan, apakah pria tampan memang suka semaunya seperti ini, dia dan Tuan Muda sama saja.
"Hei kau mikir apa ?" Roy mulai bersikap tegas, yang semata-mata ia lakukan untuk menutupi gelak tawa yang sudah akan berhamburan.
"Aku, tidak apa, tidak usah peduli, aku hanya memikirkan mengapa langit gak ada tiangnya" jawab Shakira asal.
"Apa kau sudah kehabisan pekerjaan, hingga bisa-bisanya memikirkan hal semacam itu, makannya Riana jangan kau lempar ke rumah sakit jiwa dulu, kau sudah kehilangan pekerjaan kan sekarang" ucap Roy dengan tatapan remehnya.
"Dan satu lagi, untuk apa juga aku peduli padamu ?" Roy tersenyum tipis, tapi sayangnya tidak dilihat oleh Shakira.
Ya ya, emang untuk apa juga dia peduli, Shakira Shakira. .. laki-laki menyebalkan ini yang kau sukai, heh tidak etis sekali.
Entah mahluk apa dihadapanku ini, aku tidak butuh kerjaan semacam itu, duitku banyak, sangat banyak malah, tujuh turunan pun cukup untuk menghidupi pewarisku.
__ADS_1
Apa dia tidak sadar, aku melakukan semua ini untuknya, bisa bisanya ia mengacuhkanku seperti ini. Sial.
"Ya sudah aku pergi dulu, kau silahkan kalau masih mau disini" ucap Roy, ia berlalu pergi meninggalkan Shakira dengan wajah merah seperti hendak mencabik-cabik mangsa. Seumur hidup ia tidak pernah diperlakukan seperti ini.
Royand Zuhrizal, kau benar-benar mengujiku...
Ia menatap punggung Roy yang semakin menjauh, seringnya terlibat pekerjaan yang sama ia kira Roy merasakan hal yang sama dengannya, tapi tidak cinta ini ternyata benar-benar sepihak.
Tadinya ia begitu bersemangat bertemu gebetan hatinya, tapi setelah kejadian ini ia bahkan malas untuk liburan liburan yang selalu ia tunggu. Bali hanya tinggal kenangan, terbang bersama udara sekitar saat Roy bilang untuk apa peduli padanya. Entah kenapa rasanya sakit sekali.
Apa ia sedang ditolak secara tidak langsung.
Haruskah ia move on.
Hari-hari pun berlalu, sudah satu minggu saja setelah Riana diantarkan Athar kerumah sakit jiwa. Ia sedang duduk sendiri di kursi roda. Dokter dan perawat disana juga heran, kadang kondisi pasiennya satu ini sangat memprihatinkan, tapi kadang juga ia bersikap sangat waras.
Ada satu perawat khusus yang di sewa Athar untuk mengobati Riana di rumah sakit jiwa, ia datang saat akan membersihkan koreng di wajah Riana, pagi dan sore.
Bisik-bisik mulai ia dengar, ia sudah menyangka, tadinya ia ingin dikamar saja, tapi sudah beberapa hari ini ia tidak keluar, ia hanya ingin sekedar menghirup udara segar, pergantian udara yang memang sangat bagus untuk pernafasannya.
Dikamarnya sangat pengap, hanya sebuah ruangan kecil dengan kasur yang muat untuk satu orang, nakas disebelahnya, lemari kecil, kamar mandi, sudah itu saja, tidak ada jendela, tidak ada AC ataupun kipas angin. Entah sampai kapan ia akan menikmati hidup disini.
Tatapan risih dan tak bersahabat dilayangkan penghuni rumah sakit jiwa ini padanya, sungguh siapa yang menyangka, sebagian yang menatapnya jijik adalah perawat disini, apa jiwanya tidak sekuat jabatannya, melihat dirinya saja harus bergidik seperti itu. Dimana mereka tinggalkan gelar yang sangat mereka banggakan itu.
Ia menjalankan kursi rodanya menuju kamar, sayangnya ia masih tau diri, kalau saja ia adalah Riana yang dulu sebelum tertimpa sakit aneh semacam ini, jangan pernah menatapnya seperti tadi, ia tidak akan sesegan ini.
Kembali ke kamar pengap ini lagi, gara-gara wajah sialan yang tak kunjung sembuh, ia jadi harus berdiam diri di kamarnya, kaki buntung, wajah buruk rupa, apa lagi yang bisa ia harapkan.
Suaminya pun meninggalkannya, sudah lengkap bukan.
Bersambung...
*
*
__ADS_1
*
Like, koment, dan vote.