
Hari sudah beranjak malam, Dareen masih was-was dengan reaksi Sri jika saja ia memberikan hadiah kecil seperti ini.
Ia merasa begitu bodoh, sudah setengah bulan menikah ia bahkan belum pernah memberi Sri satu hadiah pun, dan sekalinya memberi apa iya hanya jepitan rambut seharga sepuluh ribu ini batinnya.
Sri sedang berada di kamar, entah sedang apanya ia tidak memikirkan itu, yang jelas saat ini ia sedang bingung antara masuk atau menunggu Sri keluar dari kamar, atau sebenarnya ia belum punya nyali untuk menghadapi Sri langsung.
"Gue harus apa, gue harus apa ?" gumamnya cepat namun seakan tanpa suara, telapak tangannya sudah basah karena keringat, apa benar seorang Dareen saat ini sedang gugup.
"Fokus Dareen, toh nggak ada salahnya memberikan hadiah kecil kek gini, kan ini juga romantis"
"Tapi apa nggak terlalu murah"
Dareen berdebat sendiri, hingga suatu tepukan mendarat di pundaknya.
"Kamu belum tidur ?"
"Emmm belum Pak, sebentar lagi ?" jawab Dareen.
"Ini sudah malam, kamu nggak nemenin istrimu ?" tanya Pak Safar lagi.
"Iya Pak, aku hanya..."
"Kalau ada masalah rumah tangga antara kamu dan Sri, selesaikan baik-baik, bicarakan berdua dari hati ke hati, istilah gaulnya sih saling curhat saja, Bapak tidak bisa mengelak karena Bapak yang telah ingin menikahkan kalian padahal kalian belum tau bagaimana karakter masing-masing, akhirnya mungkin ada ketidak sesuaian, tapi coba bicarakan berdua, adapun kekurangan dan kelebihan Sri, kamu harus berlapang dada menerima, begitupun dengan Sri bukankah kita umat manusia tidak ada yang sempurna, walau kamu tidak menyadari tapi sebenarnya di mata orang lain mungkin kamu banyak sekali kekurangan dan kelebihan, pun di mata Sri tentang kamu" nasihat Pak Safar pada anaknya.
"Iya Pak" sahut singkat Dareen, ia begitu terenyuh, yah benar sekali selama ini ia hanya melihat kekurangan Sri tanpa berpikir mungkin juga selama ini Sri melihat kekurangannya namun tetap bisa menerima.
"Saat kau sudah bisa menerima Sri, bapak yakin kau tidak akan melepaskannya, karena Sri yang terbaik sehingga Bapak berani dan yakin mengambil keputusan untuk menikahkan kalian" ucap Pak Safar kembali menepuk pundak putranya.
__ADS_1
"Ya sudah, masuklah hari sudah larut malam, temani istri dan anakmu" lanjutnya lagi, kemudian berlalu masuk juga ke kamarnya.
"Iii iya Pak" gugup Dareen, ditambah dengan sepatah dua patah wejangan dari orang tuanya membuat Dareen semakin bertambah malu untuk menemui istrinya itu.
Kau tidak akan melepaskannya Nak saat kau sudah mengetahui yang sebenarnya. Pak Safar.
Apa Sri sehebat itu hingga bapak bilang dia yang terbaik, dia memang hebat sih penyabar, bicaranya selalu lembut, penuh perhatian, bisa jaga pandangan, tapi gue beneran gak ngerti kenapa bisa dia punya Fahira, apa dia korban pemerkosaan yah ? Dareen.
Dareen mulai ngawur, selama ini ia sering kali menebak-nebak mengapa Fahira bisa hadir di hidup Sri. Dari mulai mengira Sri adalah korban pemerkosaan, atau korban nikah muda lalu bercerai, dan yang lebih parahnya ia kerap kali berpikir Sri bukanlah wanita baik-baik dulunya, dan sekarang mungkin sudah taubat nasuha hingga menjadi luar biasa alim.
Langkah Dareen terhenti saat sudah berada di ambang pintu, ia agak ragu untuk masuk ke kamarnya, entah apa yang ia rasakan, malu, sedikit gengsi ditambah dengan gelisah mungkin lebih tepatnya seperti itu, percayalah ia sedang melawan semua itu demi hubungannya dengan Sri.
Pelan ia buka pintu kamarnya, dilihatnya Sri sudah tertidur di kasur lantai tempat biasa mereka berdua tidur, istrinya itu memang keras kepala semenjak Sri mengatakan ia takut akan dosa jika harus tidur terpisah, wanita itu bahkan rela tidur hanya beralaskan kasur lantai yang terpenting berdua bersama dirinya.
Sementara Fahira, terlelap di ranjang sendirian.
"Lo tuh cantik Sri, kalau aja gue tau masa lalu lo kenapa bisa sampe ada Fahira, mungkin gue adalah orang yang beruntung banget bisa nikah sama lo" gumamnya pelan berbicara pada Sri yang tengah terlelap.
Entah kenapa rasanya malam ini ia ingin berbagi isi hatinya dengan Sri, dan kesempatan baginya karena Sri sedang tertidur lelap, jadi ia tidak perlu mengedepankan malunya.
Sejujurnya ia belum siap sepenuhnya untuk meminta maaf pada Sri, meski ia sudah mengaku salah.
"Lo penyabar, meski gue udah jahat banget sama lo, udah bentak lo, kasarin lo, gak peduli sama lo, yaaa ampun terbuat dari apa sih ati lo" Dareen mulai mengoceh menanggalkan malu dan gengsinya.
"Sri kok lo bisa baik banget sih ? Kan gue jadi minder mau minta maaf"
"Sri, gue nggak tau kapan gue bisa nerima pernikahan kita, tapi sekarang gue udah mutusin buat nyoba nerima semua takdir yang udah di garisin bokap gue, eh salah yang udah di garisin Allah, salah kan gue grogi sih ngomong sama lo, ini aja lo nya merem gimana kalo lo bangun gak bakal sanggup kali gue bilang isi hati gue kek gini"
__ADS_1
"Duuhh cantiknya istri gue..." ucap Dareen pelan, malam ini nampaknya ia bertambah mengagumi Sri, ia hendak mengelus pipi Sri yang tengah berbaring menghadapnya, namun tangannya tergantung takut membangunkan Sri.
Ia hanya bisa kembali memandangi wajah istrinya, seulas senyum tak hentinya ia terbitkan.
"Mas Dareen kenapa kok mandangin aku kayak gitu ?" ucap Sri tiba-tiba, dan itu berhasil membuat Dareen terjungkal saking kagetnya.
Sri yang ia kira sudah tertidur lelap ternyata masih sadar dan mengetahui kalau ia sedang mencuri pandang.
"Kenapa sih Mas, aku cantik yaaa" ucap Sri percaya diri sembari menolong suaminya yang terjungkal akibat responnya tiba-tiba.
Sebenarnya Sri memang sudah tidur tadi, namun karena selalu merawat Fahira, bangun tengah malam layaknya seorang ibu siaga yang benar-benar begadang merawat bayi, ia tidak boleh mendengar atau merasakan pergerakan sedikit saja, ia terlalu peka hingga saat Dareen hendak berbaring disampingnya ia spontan terbangun.
"Lo lo belum tidur ?" tanya Dareen tergagap, malu tolong bawa Dareen ke lubang semut hingga ia tidak perlu melihat wajah Sri yang nampak menang melihat kekonyolannya.
"Aku terbangun saat Mas hendak berbaring disini tadi" ucap Sri santai, ia sudah mendengar semuanya, yah semuanya...
"Lo jadi lo..." Dareen tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, malunya sudah sampai ke ubun-ubun, tamatlah riwayatnya hari ini, Sri sudah mengetahui semua, Sri sudah mendengar seluruh ucapannya tadi.
Padahal ia butuh entah berapa banyak keberanian untuk mengatakan semua itu pada Sri secara langsung, tapi ternyata Tuhan membuatnya menjadi lebih mudah. Dareen tercyduk.
Sri mengangguk mantap, sementara Dareen hanya bisa menutup wajah masamnya, sungguh kegilaan macam apa yang telah terjadi padanya malam ini.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!