Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Kesal Rara (Angga dan Rara)


__ADS_3

"Siapa?" ketus Rara, namun gadis sungguh ingin mengetahui.


"Temen!" jawab Angga jujur.


"Temen apa temen?" sindir Rara.


"Yah temen lah, gimana mau jawab gak ada pilihan lain."


"Heh." dengus Rara kesal.


"Kamu cemburu?" tanya Angga.


"Enggak!"


"Cemburu bilang aja kali!" goda Angga.


"Enggak, siapa yang cemburu?" elak Rara.


"Hilih!"


"Apa?"


"Dasar cewek!" umpat Angga.


"Apa?"


"Gada!"


Apa sih susahnya ngakuin? Gengsi digedein, mending tete*!


Hening,


Hening,


Hening,


"Ngapain masih di sini?" tanya Rara membuka kembali percakapan, atau lebih tepatnya perdebatan.


"Ya nungguin kamu kerja, nanti dianterin kan pulangnya!" jawab Angga.


"Gosah!" ucap Rara ketus, dirinya sedang kesal, Angga tidak mengerti perasaannya.


Apa benar dirinya hanya selingkuhan selama ini?


Siapa wanita itu?


Dasar Angga playboy, seharusnya gue emang nggak pernah suka sama dia.


"Ra..." panggil Angga.


Rara tidak menjawab, namun gadis itu menoleh dengan delikan tajam.


"Kamu kenapa sih?" tanya Angga, dirinya mulai serius.


"Ga papa!" masih ketus.


"Kalau ada masalah bilang, ngomong, apa maunya, biar aku tau, biar aku bisa ngerti!" ucap Angga. Dirinya mencoba menahan gejolak ingin mengumpatnya, mulut level bon cabe yang biasanya bikin nyelekit di hati sebisa mungkin ia rem.


"Dasar cowok!" umpat Rara hampir tidak terdengar, namun Angga menyimak dari gerakan mulut Rara.


"Salah aku apa sih?" tanya Angga lagi.


Angga, cowok yang terkenal playboy karena seringnya gonta-ganti pacar dalam kurun waktu tiga bulan itu nampaknya harus menghadapi kenyataan susahnya mengerti wanita saat dirinya benar-benar merasa suka dan tertarik akan lawan jenis.


Rara, gadis yang telah berhasil membuat Angga jatuh cinta hanya karena sebuah kesederhanaan.

__ADS_1


Apa adanya, pekerja keras, terlebih gadis itu menyenangkan dan bisa membuat Angga nyaman saat mereka bersama, sebab alasan itu Angga mempertahankannya. Namu. sifat Rara yang selalu ingin dimengerti kadang membuat Angga sedikit kesulitan, dirinya tidak pernah benar-benar cinta, maka bisa dibilang ini adalah pengalaman pertamanya.


"Banyak!" ketus Rara.


"Hah!" heran Angga, perasaan dirinya sudah menjadi pacar yang begitu pengertian, antar jemput kek supir, apa yang Rara mau, yah walau selama ini Rara tidak banyak maunya sih, tapi Angga sebisa mungkin untuk menurut.


Lalu, apa lagi?


"Kok banyak sih! Apa coba?"


"Ya banyak!" Rara membereskan barang-barangnya, membersihkan meja resepsionis karena sebentar lagi dirinya akan pulang.


"Misalnya?" selidik Angga.


"Ya mikir!"


"Dasar cewek!" umpat Angga.


"Apa?" tiba-tiba garangnya Rara mulai keluar, Angga bergidik ngeri. Apa dirinya akan selalu kalah jika dengan Rara?


"Jadi mau kamu apa?" tanya Angga. Masih mencoba sabar, namun jika Rara masih sulit dipahami, entahlah bagaimana jadinya.


"Gada!"


Angga mengepalkan tangannya, meninju angin yang masih betah bersliweran di bumi.


Salah apa dirinya? Apa karena sudah banyak gadis-gadis yang patah hati karena diputuskan olehnya? Sehingga sekalinya benar-benar pacaran dirinya harus dapat cewek modelan Rara, garang dan tukang ngambek. Kalau udah marah, jurus andalannya terserah, ditanya mau apa, bilangnya nggak ada, gak usah, ya Tuhan ampunilah hamba!


"Ra..." panggil Angga lagi.


"Apa sih?"


"Kamu mau kita gimana?" tanya Angga, sebisa mungkin dirinya mencoba serius, berharap Rara tidak menyepelekan sikapnya.


"Nggak gimana gimana! Urus aja itu pacar kamu!" kesal Rara.


"Kenapa?" tanya Rara, tatapan tajam bagai hendak membunuh ia layangkan pada Angga.


"Gak kenapa-kenapa? Tadi tuh Afik, kamu tau dia?" tanya Angga, dirinya mencoba memaklumi sikap Rara. Cemburu sudah menguasai hati, padahal Rara hanya cemburu buta. Mana mungkin dirinya dan Afik... Ah Angga masih normal kali biarpun kadang otaknya sering belok.


"Hemmm!"


"Dia tadi telpon, bahas undangan artis yang ngundang kami di podcast, mau tanya biar lebih apdol jangan sampai mutusin sepihak." jelas Angga.


Wajah Rara memerah, apa benar begitu kenyataannya?


"Kenapa masih nggak percaya?" tanya Angga.


"Kalau nggak percaya, biar aku telpon Afik lagi, lagian ditanya cemburu susah banget ngakuinnya!" sindir Angga.


"Aku nggak cemburu ya!" elak Rara, dirinya malu bukan main.


"Dih ngelak!"


"Apa?"


"Gak papa, kalau nggak cemburu apa namanya, baper ngena di hati?"


"Ih, Angga!" kesal Rara, malu, kesal, dan rasa takut kehilangan bercampur jadi satu.


"Apa sih calon pacar?" goda Angga lagi.


Mata Rara melotot, dirinya mulai tidak suka dengan panggilan Angga yang begitu nanggung.


Udah disayang-sayang tapi masih nggak ada status, wanita butuh kepastian, bukan digantung kek jemuran, Bang!

__ADS_1


Rara tidak perduli, dirinya sudah selesai berbenah dan akan berpamitan untuk pulang, karyawan lainnya juga nampak sama, sedang berkemas menutup Butik.


"Weni mana sih yang?" tanya Angga.


Telinga Rara semakin memanas, apa lagi ini panggil 'Yang'.


Namun anehnya gadis itu tetap menanggapi, "Ke Jerman!" jawab Rara.


"Hah, seriusan? Nyusul si cebong?" tanya Angga.


"Enggak, nyari onta bunting kali!" jawab Rara asal, lagian Angga sudah tau jawabannya masih juga nanya.


"Yeee, ditanya serius juga!"


"Iya, ngunjungin tunangannya, emangnya apa lagi?"


"Heh, kirain bisa tahan, taunya belum juga sebulan, udah disusul aja." gumam Angga.


"Ga, gak usah ribet deh sama hubungan orang, hubungan diri sendiri aja nggak beres!" sindir Rara.


"Gak beres apanya? Beres kok, kita makin mesra aja buktinya!" bela Angga pada argumennya.


"Lah nggak nyadar dia!" gumam Rara.


Dasar Angga nggak peka!


Udah telpon Kak Weni Kak?" tanya Rara pada salah satu seniornya.


"Udah, katanya kalau udah jam setengah sepuluh, tutup aja!"


"Oh, kalau gitu, aku pulang duluan yah!" pamit Rara.


"Ah iya Ra!" sahutnya.


"Daahh semua!"


"Daahh!"


Angga menggenggam tangan Rara, begitulah keduanya, tidak canggung lagi menunjukkan kemesraan, orang mengira keduanya memang sudah berpacaran, tapi kenyataannya hubungan mereka bahkan stuck di temen tapi bucin. Baik Rara ataupun Angga.


"Kemana nih?" tanya Angga.


Rara masih kesal, bagaimana bisa Angga bersikap biasa saja? Setiap hari seperti ini, apa hubungan mereka memang tidak perlu diperjelas?


"Nggak tau!" jawab Rara. Sejujurnya dia ingin membicarakan perihal hubungannya pada Angga, namun dirinya juga bingung, masa iya wanita harus memulai duluan.


"Ya udah, ayok naik, kita ke suatu tempat sebentar ya!" tawar Angga.


Rara mengangguk, kemanapun asal bersama Angga dirinya rela. Bahkan jika Angga mengajaknya menikah detik ini juga Rara pun mau.


"Udah siap calon pacar?" tanya Angga lagi.


"Iya!" jawab Rara di belakang.


Calon pacar, benci banget gue levelnya nggak naik-naik.


Motor Angga pun melaju, entah apa yang Angga pikirkan, namun satu yang pasti Rara sedang tidak baik-baik saja perihal hubungan mereka, apa karena dirinya kurang romantis yah pikir Angga.


Nanti ajalah gue tanyain, bicara heart to heart kali aja nih cewek kurang dibucinin!


Bersambung...


*


*

__ADS_1


*


Like, koment, and Vote !!!


__ADS_2