Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Deal ?


__ADS_3

"Kenapa Nak?" tanya Mama Mila kala melihat putranya itu nampak diam sedari tadi.


"Aku sudah memutuskan untuk tetap membalas mereka, tapi dengan caraku!" ujar Jason.


"Nak, bisakah kita sudahi ini!" bujuk Pak Adrian lagi.


"Aku tidak akan menyiksa mereka, aku tidak akan melakukan sesuatu pada mereka!" ucap Jason, seringai lolos dari bibirnya.


Pak Adrian frustasi, haruskah dirinya mengingkari janji pada mendiang Papanya.


"Nak!"


"Jangan menghalangiku, menjadi jahat itu perlu kala keluarga kita disakiti."


Pak Adrian terduduk di kursi, pria paruh baya itu menghembuskan nafasnya pelan, baiklah dirinya akan mendukung apapun kemauan anaknya.


"Hanya jangan ada pertumpahan darah, itu saja kan?" tanya Jason.


"Lalu mari kita buat mereka membayarnya dengan air mata yang setelah tumpah maka tidak akan bisa dihentikan."


Sekilas bayangan almarhum Tuan Abraham tercetak jelas di raut wajah Jason, Pak Adrian bisa melihat itu.


"Nak, apapun yang kau lakukan buatlah mereka sadar akan kesalahannya, dan bukannya membuat dendam semakin besar, Papa ingin kau sudahi ini apapun caranya." ungkap Pak Adrian menyatakan keinginannya.


"Bukan urusanmu!" tegas Jason.


"Kalau kalian masih ingin di sini silahkan nikmati saja bulan madu kalian, aku akan pulang, istriku sudah menunggu di rumah." ucap Jason pada kedua orang tuanya.


Kemudian Jason berlalu pergi, dirinya akan membicarakan perihal keinginannya membalas dendam itu pada istrinya. Entah Shirleen akan setuju atau tidak namun dirinya akan mencoba menjelaskan.


Lamanya perjalanan membuat Jason sampai di kota saat matahari sudah mau tenggelam. Jason mengetuk pintu, dirinya sudah rindu pada anak-anak dan istrinya.


Ipah membukakan pintu, dilihatnya Tuan Mudahnya nampak lelah, dirinya ingin menanyakan apa yang telah terjadi namun merasa bukan urusannya jadi dirinya diam saja.


"Dimana istriku? Kenapa kamu yang membukakan pintu?" tanya Jason.


"Nona sedang menyusui Abang Tuan Muda, Abang dari tadi rewel terus, mungkin karena tidak melihat Tuan Muda seharian kemarin." jelas Ipah.


"Ya sudah kalau begitu."


Jason lalu bergegas menuju kamar, dirinya juga rindu putranya itu.


"By..." ucapnya ketika membuka pintu.


Shirleen yang masih terus menenangkan Jacob spontan menoleh kala mendengar suara yang amat dirinya rindukan itu.


"By..." sahut Shirleen.


Jason langsung saja memeluk istrinya, dirinya tau pasti istrinya sedang dilanda kekhawatiran karena ponselnya yang tidak bisa dihubungi dari kemarin.


"Aku takut terjadi sesuatu padamu By... Bagaimana, apa Papa sudah ketemu?" tanya Shirleen.


"Sudah, di sebuah desa terpencil. Dia menyamar menjadi orang biasa!" jawab Jason.

__ADS_1


"Ah syukurlah!" ucap Shirleen.


"By, bagaimana anak-anak, bagaimana mereka?" tanya Jason sembari tangannya mengusap lembut perut buncit Shirleen.


"Nih!" Shirleen memberikan Jacob pada suaminya, dan benar saja bayi itu langsung diam tidak rewel lagi saat sudah dalam dekapan Jason.


"Anak kamu banget!" ujar Shirleen.


"Tadi aja marah-marah, sekalinya udah liat Papa aja langsung diem."


"Iya dong, kan anak Papa, jagoan Papa ini." ucap Jason.


Setelah Jason menidurkan Jacob, dirinya menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya, nanti setelah selesai mandi dirinya akan mengutarakan niatnya pada Shirleen.


Shirleen menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Jason keluar dari kamar mandi, melihat Shirleen tersenyum ke arahnya.


"Kenapa By?" tanya Jason.


"Magrib yuk!" ajak Shirleen.


Jason tersentak, ah iya dirinya melupakan ibadah sholat lima waktunya, bahkan dari kemarin dirinya sudah banyak bolong sholat.


"Udah bisa jadi imam?" tanya Shirleen.


"Insyaallah!" yakin Jason.


Takut salah, itu adalah cobaan paling utama untuk menjadi muslim yang lebih baik.


"Alhamdulillah, pelan-pelan pasti bisa kan, semangat Papa!" ucap Shirleen saat mereka sudah selesai sholat magrib.


"Iya By!" ucap Jason.


"By, sini deh aku mau ngomong." pinta Jason, dirinya masih menggunakan sarung, karena masih menunggu waktu isya.


"Ada apa?" tanya Shirleen.


"Aku mau nanya sesuatu sama kamu!" ucap Jason.


"Tanya apa?"


"Ini tentang aku dan keluargaku, yah tentang kita juga, maafkan aku bukan maksudku untuk membuatmu kecewa atau apapun, ini hanya pemikiranku, mungkin menurutmu aku egois tapi aku tidak bisa menahannya."


"Hemmm, sepertinya aku tau apa yang dimaksud, ini masalah Papa kan?" tebak Shirleen.


Jason memejamkan matanya, kemudian mengangguk perlahan.


"Jadi kau mau melakukan apa?" tanya Shirleen lagi.


"By... katakanlah aku seseorang yang buruk, tapi..."


Tok tok tok, pintu tiba-tiba diketuk.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara Misca dari luar sana, "Bunda, Papa, boleh Kakak masuk?" tanyanya.


"Masuk saja Kak." sahut Jason.


"Papa... Kakak kangen!" pekik Misca girang kala dirinya sudah membuka pintu. Gadis kecil itu langsung saja menghambur ke pelukan Jason.


"Papa juga kangen Princessnya Papa ini, gimana dapat juara nggak?" tanya Jason antusias.


"Hemmm," Misca tersenyum menang, lalu mengangguk mengiyakan.


"Wah, jadi apa ini permintaannya?" tanya Jason kemudian.


"Eemm, apa yaaa! Papa mau ngabulin permintaan Kakak kan tapi?" tanya Misca.


"Eemm, kalau Papa bisa pasti Papa kabulin dong!"


"Bunda juga ya!" ucap Misca menoleh ke arah Bundanya.


"Kalau Papa setuju Mama juga setuju." jawab Shirleen.


"Papa, boleh Kakak minta uang Papa sedikit, biar nggak banyak Kakak juga mau minta uang Bunda, Kakak mau beli sepatu baru untuk teman Kakak, dia anaknya baik cuma kemarin beberapa hari yang lalu Kakak pernah denger dia kena marah sama Ibunya karena minta sepatu baru, padahal sepatunya udah jelek banget Bunda, kan wajar dia minta." ucap Misca.


Shirleen mengangguk paham, begitupun Jason, hanya sebuah sepatu ternyata.


"Tapi Kakak juga nggak bakalan dapet uang itu langsung, kalau Kakak mau dapetin uangnya Kakak harus kerja dulu, gimana?" tanya Shirleen.


"Kerja? Kakak kan masih kecil, kerja apa?" tanya Misca heran.


Shirleen sebenarnya bisa saja langsung memberikan uang yang Misca minta, berapapun bahkan lebih pun dirinya mampu, namun Shirleen ingin melihat berapa peduli hati putrinya itu terhadap sesama.


"By, kamu apaan sih?" bisik Jason, namun Shirleen tidak perduli.


Pun juga supaya Misca lebih bisa menghargai sesuatu nantinya, bahwa jika ingin mendapatkan sesuatu itu baik itu berupa uang atau apapun harus rela berkorban.


"Besok kan Kakak udah mulai libur, jadi tiap pagi tugas Kakak bantuin Bi Ipah siram tanaman di kebun, selama satu minggu, nanti kalau udah satu minggu Kakak bisa gajian dan uangnya bisa buat beli sepatu teman Kakak itu." terang Shirleen.


"By, jangan gitu, kasih ya kasih aja, kamu apa-apaan sih?" Jason sedikit tidak setuju, bagaimana pun dirinya selalu mendapatkan uang begitu mudah sedari kecil, baginya uang untuk membeli sepatu hanya sebagian kecil dari kekayaannya, mengapa harus membuat anaknya bersusah payah.


"Oke!" ucap Misca setuju.


"Deal?" tanya Shirleen.


"Deal Bunda!"


Jason melongo, bagaimana Misca bisa setuju tanpa adanya beban pikirnya.


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2