Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
H-1 Yudha dan Weni.


__ADS_3

Sidang sudah selesai, keputusan hakim sesuai dengan apa yang Jason kehendaki. Sebenarnya bagi seorang Jason hukuman seperti itu sangatlah kurang mengingat dirinya tidak akan pernah memberi ampun pada musuh-musuhnya, namun ia harus menahan diri dan melakukan sesuai permintaan istrinya.


Untuk hukuman terhadap Bayu, Shirleen tidak tau menahu sebenarnya, jadi keputusan itu juga dianggap tepat oleh Jason meski dirinya ingin sekali menyiksa Pamannya itu sebelum menemui mautnya.


^^^"Lo di mana Junedi?"^^^


"Kenapa?"


^^^"Ada yang mau gue omongin sama anak-anak juga, kalau lo sempet kita tunggu di cafe lo!"^^^


"Iya!"


Jason menghembuskan napasnya pelan, Yudha sudah berada di Indonesia lagi, dirinya bahkan tidak mengetahui itu saking banyaknya masalah dalam hidupnya di beberapa hari ini.


Gegas Jason menuju cafenya untuk menemui para sahabat laknatnya itu, entah apa yang Yudha mau bicarakan padanya kali ini.


Dua puluh menit berlalu, Jason sudah sampai, dan ia langsung saja menuju tempat latihan band mereka, kali ini sepertinya Yudha memilih ruangan yang bisa menjaga privasinya, berarti ini adalah pembicaraan yang serius.


Ceklek, pintu dibuka...


Afik dan Angga juga sudah ada di sana, siap menyimak apa yang akan dibicarakan Yudha.


"Kenapa lo, kusut gitu?" tanya Jason, Yudha nampak menekuk wajahnya malas.


"Duduk dulu!" titah Yudha dengan masih lesu. Membuat ketiga sahabatnya yakin untuk prihatin.


Afik dan Angga saling pandang, sementara Jason tetap pada ekspresi kakunya.


"Dengerin gue..." ucap Yudha memulai pembicaraan.


Ketiganya tegang, wanti-wanti kalau memang telah terjadi sesuatu pada Yudha.


"Besok gue nikah!" ucap Yudha langsung.


Hening,


Hening,


Hening,


"Bwahahahaha... tapi prank!" Tawa Afik menggelegar, dia tidak percaya karena ada angin tapi nggak ada hujan tiba-tiba Yudha membicarakan perihal nikah, bukannya selama ini Weni selalu menolak jika Yudha mengajak menikah.


"Anjim, kira-kira dong, gue belum beli baju buat kondangan!" kali ini Angga, dia juga sudah bisa melawak karena sudah tersadar dari keterkejutannya.


Jason masih menyimak, dari wajah Yudha dia bisa melihat keseriusan meski nada bicaranya bercanda.


"Gue serius!" tegas Yudha.

__ADS_1


"Eh!"


"Yah si cebong, lo kagak ngeprank?"


"Enggak, gue serius, besok gue nikah!" jelas Yudha lagi.


"Selamat Men!" Jason mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat, sementara Afik dan Angga masih terbengong karena tidak percaya.


"Lo serius Yudha?" tanya Afik, mencoba meneliti wajah Yudha mencari ketidak seriusan di sana.


"Iya gue serius!"


"Selamat deh!" ucap Angga.


"Iya selamat, kenapa buru-buru, nggak ada masalah kan, si Weni nggak hamidun kan?" tanya Afik tanpa filter.


"Sialan lo, lo kata gue sebejat itu buntingin anak orang!" protes Yudha.


"Ya kali kan!"


"Kenapa Yud?" tanya Jason mulai serius.


"Heemm, Weni tiba-tiba dateng ke Jerman, dan bilang kalau dia setuju buat nikah sama gue, gue juga baru tau kalau Angel's W itu Butik punya dia, dan parahnya... Lo selama ini tau kan Ga, tapi nggak ada niat bilang ke gue kebenarannya, gue pikir Weni ya cuma karyawan biasa." jelas Yudha. Menatap tajam Angga, namun yang ditatap terlihat biasa saja, bodo amat.


"Bukan cuma gue kali yang tau, Junedi juga!" tak ingin disalahkan sendiri Angga membawa nama Jason juga.


"Jadi?" tanya Angga.


"Ya itu, gue nikah besok, sekalian resepsinya, dan dua hari setelah nikah gue balik ke Jerman bawa Weni." jelas Yudha lagi.


"Sekali lagi selamat ya, semoga lo bahagia sama pilihan lo, Weni emang baik sih, makanya bisa akrab banget sama Shirleen." ucap Jason.


"Istri lo mungkin belum tau, lo bisa kasih tau nanti." ucap Yudha.


"Iya, tapi gue nggak yakin sih, calon bini lo itu heboh banget tau, gue nggak yakin Shirleen nggak tau."


"Hahaha, iya juga sih!"


"Gila sih Yud, gercep juga lo!" ucap Angga.


"Ya gue emang udah pernah berapa kali ngajakin Weni nikah, lo tau lah, enggak tau kenapa tiba-tiba Weni berubah pikiran sampe datangin gue ke Jerman."


"Nggak mau jadi perawan tua dia!" ejek Afik.


"Iyalah jangan sampe kalah sama bininya Junedi, anak aja udah mau empat, padahal kan seumuran, lo harus ngalahin Junedi, satu tahun satu anak." ucap Angga menambahkan.


"Gila lo, lo pikir bini gue si oren." protes Yudha.

__ADS_1


"Alah lagu lo, padahal kalau udah jadi, demen banget dah bikin lagi." sindir Angga, matanya menatap Jason penuh ejekan.


"Apa lo?" tatap nyalang Jason.


"Junedi udah buktiin kekuatan pil laknat, buktinya noh dapet dua langsung, lo mau nggak?" tanya Afik.


"Pegel ginjal gue dengernya, masa iya Junedi?" tanya Angga yang nampak masih meragu.


"Gue nggak main pake yang begituan, bibit gue unggul banget, itu murni kekuatan si perkasa gue langsung cetak dua!"


"Sialan lo, jadi beneran lo buang pil laknat itu?" tanya Yudha.


"Enggak masih ada, kenapa lo mau?"


"Enggak, gue juga nggak butuh, gue yakin kali sama kekuatan gue."


"Anjim, lo berdua bahas apa sih, gue masih polos woy di sini!" ucap Angga, padahal dirinyalah yang tadi menanyakan.


Sementara di suatu tempat,


"Weni, jangan ngeyel deh, kamu ini mau nikah besok, bajunya sewa aja yah!" ucap Ibunya, anak gadisnya itu sedang menjahit baju kebaya untuk nikahannya besok, sementara Weni baru saja sampai tadi pagi.


"Bu, baju resepsi okelah sewa, aku setuju, tapi ini baju nikah aku, aku mau yang khusus buat aku." ucap Weni beralasan.


"Ini nih bener kalau ada orang bilang, tukang rumah nggak punya rumah, tukang baju nggak punya baju, mau selesai kapan Weni?" tanya Ibunya lagi.


"Udah, pokoknya Ibu terima beres aja, aku yakin ini nanti malam selesai kok!"


"Weni, kamu harus istirahat sayang!" ucap Ayah Weni, ia mengerti pernikahan anaknya akan dilangsungkan besok, dan anak gadisnya itu pastilah ingin sesuatu yang spesial, terlebih mereka berharap pernikahan ini hanya untuk satu kali seumur hidup, mana mungkin Weni tidak memberikan kesan dan kenangan pada pernikahannya.


"Ayah... Ibu... Ini pernikahanku, aku sudah memimpikan ini sangat lama, saat aku menikah aku akan mengenakan kebaya rancanganku sendiri, aku harap kalian bisa mengerti." ucap Weni, ia memang sangat memimpikan itu, cita-citanya menjadi seorang designer sudah terwujud, lalu apa salahnya dia bermimpi demikian.


Dengan tangannya ia akan membuat kebaya yang indah, dan akan ia simpan sebagai kenangan, rencananya Weni juga akan membuat gaun untuk resepsi pernikahannya, tapi mau bagaimana lagi dengan keadaan yang serba mendadak begini itu sudah tidak mungkin ia buat.


"Ya sudah, kalau kebaya rancanganmu nggak jadi, Ibu udah siapin cadangannya, jadi jangan dipaksain yah!" ucap Ibunya Weni sembari mengusap lengan anaknya.


"Iya Bu!"


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, and Vote !!!

__ADS_1


__ADS_2