
Athar tak henti-hentinya mengusap foto Shirleen, ia terlihat begitu sangat berantakan saat ini, wajahnya pucat, matanya sembab sebab tak hentinya menangis. Tak apalah seorang lelaki menangis, karena tidak ada lagi yang mampu ia lakukan untuk mempertahankan hubungannya dengan Shirleen.
Semenjak pos mengantarkan surat yang berisikan sidang perceraian pertamanya dengan Shirleen, ia begitu terpukul padahal inilah buah dari perbuatannya yang telah berani bermain api.
Namun hidup tetap berjalan, ia harus tetap menghadapinya.
Sebuah panggilan telepon menyadarkan lamunannya, ternyata Riana menelpon, Athar pun langsung mengangkat panggilan istri keduanya yang sebentar lagi akan menjadi istri satu-satunya itu.
"Hallo Mas, kamu dimana ?" Terdengar suara Riana dari seberang sana.
"Dirumah, kenapa ?" Athar nampak tidak bersemangat menjawabnya.
"*Aku sudah didepan rumah kamu Mas, tapi aku ketuk-ketuk dari tadi gak ada jawaban, aku capek nih nunggu"
"Kamu didepan rumah, iya sebentar lagi aku turun"
"Iya cepetan yaaa*"
Athar segera memperbaiki penampilannya yang acak-acakan, ia tidak ingin terlihat habis menangis karena Riana sangat tidak menyukai Shirleen, ia tidak ingin menambah masalah jika Riana melihatnya menangisi hubungannya dengan Shirleen.
Ia lalu turun dari kamar dan membukakan pintu rumahnya.
Nampak Riana yang cemberut karena kelamaan menunggu.
"Kamu ngapain aja sih mas didalem sampai nggak denger aku gedor-gedor pintu rumah kamu" Omel Riana.
"Aku tadi ketiduran, lagi gak enak badan, ini aja nggak kerja" Alasan Athar, namun ia tak sepenuhnya berbohong, ia memang izin tidak masuk kantor hari ini karena memang tidak enak badan akibat ulahnya yang menyiksa diri tidak makan beberapa hari. Ia begitu kehilangan sosok istrinya Shirleen.
__ADS_1
Riana pun langsung menempelkan punggung tangannya didahi Athar, memang agak panas menurutnya, dan Riana pun percaya karena Athar juga nampak pucat.
"Kamu uda makan Mas ?" Tanya Riana.
"Belum, gak ada selera" Jawab Athar.
"Ih kamu gimana sih, untung aku kesini, ya udah aku order bubur dulu buat kamu" Riana pun lalu memesan bubur via online.
"Mas duduk deh, aku punya sesuatu buat kamu..." Riana menarik tangan Athar menuju sofa, ia sangat begitu antusias saat ini.
"Ada apa ? Kamu juga kenapa nggak minta aku buat jemput aja sih, kenapa pergi sendiri dari Bandung ke Jakarta ?" Tanya Athar pada madunya itu.
"Iiih, dengerin dulu, aku itu ada alasan tau, aku punya kejutan buat kamu" Riana pun kemudian memegang tangan suaminya dan membawanya menyentuh perutnya yang masih datar.
"Aku hamil Mas..." Riana sangat senang bisa menyampaikan kejutan untuk suaminya secara langsung.
"Iya beneran, aku uda cek kemarin dirumah sakit, Mas sekarang kan kamu udah mau cerai nih sama si Shirleen, aku boleh yaaa tinggal disini, aku mau dekat kamu terus, gak mau jauh-jauh" Manja Riana.
"Emm, iya udah boleh, aku seneng dengernya, kamu jangan capek-capek yah jaga kesehatan jangan telat makan, buat anak kita" Athar kembali bisa tersenyum mendengar kehamilan Riana.
Kini suami yang telah berkhianat dan madunya itu berpelukan, selamat mereka kini tak perlu lagi bersembunyi dari istri sah yang saat ini sedang menanggung penderitaan.
Shirleen saat ini sedang bertemu dengan Pak Hendra, karena Pak Hendra tadi menelpon ingin bertemu katanya ada yang ingin disampaikan perihal perceraiannya dengan Mas Athar.
Misca ia titipkan dibutik Weni, ia sebenarnya sedikit banyak sudah mengetahui apa yang akan disampaikan Pak Hendra, makannya ia tidak mengajak Misca ikut, ia takut menangis lagi didepan Misca karena perasaannya yang begitu sensitif saat ini.
"Shirleen, perceraianmu sudah sampai ditahap ini" Pak Hendra memberikan surat berisi sidang pertama perceraianya dengan Athar "Bapak harap kamu baik-baik saja, kamu harus tegar nak" Pak Hendra mengusap bahu Shirleen, ia sudah menganggap Shirleen seperti anaknya, keluarga Julian sudah banyak berjasa baginya.
__ADS_1
"Iya Pak, aku sudah bulat" Shirleen meyakinkan.
"Shirleen, kemarin Bapak bertemu dengan papamu, ia memintamu untuk pulang, papa dan mamamu sangat merindukanmu Shirleen" ucapan Pak Hendra mampu membuat mata Shirleen memanas.
"Pulanglah Nak" lanjut Pak Hendra lagi.
"Katakan pada orang tuaku Pak, aku juga rindu, aku baik-baik saja disini, dan untuk pulang akan aku usahakan nanti" Shirleen tertunduk mengatakan itu.
"Bapak kan tahu hubunganku pernah tidak baik dengan orang tuaku, aku masih malu untuk menunjukkan mukaku didepan mereka Pak" Shirleen mulai terisak.
"Aku usahakan pulang secepatnya, tapi tidak sekarang, katakan itu pada papa dan mama" Shirleen lalu beralih pergi, ia kini berlari menuju mobilnya, tangisnya pecah saat itu juga.
Sungguh ia sudah sangat rindu, enam tahun ia meninggalkan rumah orang tuanya demi lelaki yang kini menghianatinya.
"Mama Papa, Shirleen rindu..." Batin Shirleen.
Bersambung...
*
*
*
***Hai readers, dukung karya ini dengan like, koment, dan vote juga yah...
Semoga terhibur dengan ceritanya***...
__ADS_1