Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Hentikan semua ini.


__ADS_3

"Nah sekarang giliran siapa?" tanya Ben pada kedua tawanan yang tersisa.


Keduanya menggeleng cepat, tidak ada yang mau menyerahkan diri terlebih dahulu pada bahaya, meski sebenarnya mereka juga tidak bisa menolak.


Sedari tadi mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pengikat pada tubuh mereka, namun nihil ikatannya terlalu rumit untuk dibuka.


"Bagaimana jika Ibu Erniawati, yang telah sangat berani menantang nona kami tadi." tanya Ben, membuat Erni bergidik ngeri.


Mulutnya masih di lakban, sungguh menyedihkan untuk bisa mengucapkan meminta ampun saja ia tidak bisa.


"Sraaakkk." lakban yang menutupi mulut Erni pun dibuka.


Erni begitu ketakutan, entah apa yang akan terjadi padanya.


"Saya mohon, tolong, tolong lepaskan saya!" ucap Erni memelas.


"Melepaskanmu?" tanya Ben.


"Aku begitu hanya kesal saja, Shirleen selalu mendapatkan yang terbaik, dia menghancurkan hidupku, dari masa sekolah dulu pun sama, aku hanya iri padanya." jelas Erni beralasan.


"Hanya iri, bagaimana bisa, heh aku sudah menyelidiki semua tentangmu, Shirleenku memang pantas dipuja, dia memang baik hati, tidak ada sedikitpun niat untuk bersaing denganmu, tapi kau malah menganggapnya begitu, bahkan kau menuduh segala yang terjadi pada rumah tanggaku kini adalah ulah kami, keterlaluan sekali kau." ucap Jason, ia tertarik mendekat karena mendengar pengakuan Erni tadi.


"Asal kau tau, ja*ang itu sudah lama berhubungan dengan suami tuamu itu, hanya kau saja yang tidak tau, kau pikir suamimu itu orang yang setia hah, kau pikir kau sudah cukup segalanya hingga dirinya tidak akan berpaling?" ucap Jason.


"Tapi kau dengan tidak tau malunya menyalahkan Ilenku, mungkin kau sudah tau alasan mengapa kau dibawa kesini, jadi Ben tidak perlu menjelaskan lagi kan!"


"Tuan, Tuan Muda, maafkan saya, saya berjanji akan menghilang dari hidup Ilen, saya berjanji akan menerima segala yang terjadi terhadap hidup saya, tapi tolong lepaskan saya, saya tidak akan mengganggu Ilen lagi." ucap Erni, ia sudah terisak.


Pria disampingnya tampak ketakutan sekaligus bingung, dia disini karena apa, Jason Ares Adrian, seorang pria yang telah membuka maskernya itu kini berada di dekatnya, ia rasanya tidak punya masalah dengan si Tuan Muda.

__ADS_1


"Maaf, dengan apa yang kau teriakkan tadi di cafe istriku, begitu, apa aku harus memaafkanmu? tanya Jason penuh kebencian.


Jason bukan orang yang mudah perduli, atau iba pada seseorang, ia hanya luluh pada Shirleen, selebihnya tidak, ia tidak suka merasa kasihan.


"Bos, katanya mau aku saja, nanti berdosa lho..." sial Ben masih sempatnya mengingatkan, ia kan jadi terbayang wajah Shirleen.


"Kau lanjutkan, aku tidak mau tau buat mereka menyesal telah berani bermain-main dengan orang-orangku." ucap Jason, ia kembali ke tempat duduknya, ingin melanjutkan tontonannya.


"Baik Bos!" ucap Ben.


"Kira-kira apa yang terjadi padamu, menurutmu?" tanya Ben lagi pada Erni.


"Dilihat dari apa yang sudah kau lakukan dengan Nona kami, sepertinya kau harus mendapatkan balasan yang agak lebih dari yang nona kami dapatkan yaaa."


"Tidak tolong jangan Tuan, kasihanilah saya, saya berjanji akan melakukan apapun untuk Tuan, untuk Tuan Muda, saya berjanji, ampunilah saya, saya akan pergi jauh, kalau perlu saya akan mengasingkan diri supaya tidak melihat keberadaan saya lagi, saya berjanji tolong lepaskan saya." Erni sudah sangat ketakutan, ia membayangkan apa yang terjadi pada pria bernama Davin tadi, kejadian yang sangat membuatnya ngilu, dan itu terjadi dihadapannya, benar-benar terjadi, ia telah membuktikan bahwa seorang Jason Ares Adrian memang tidak suka disentuh hidupnya, jangankan menyentuh hidupnya, bermasalah dengan orang-orangnya saja diusahakan jangan.


"Apa ya, kalau misalkan mulut busukmu itu aku jahit saja, apa kau mau?" tanya Ben, ia sebenarnya hanya menakuti Erni saja, karena buka. itu yang ia ingin lakukan, sesuai permintaan Bosnya, mungkin membuat Erni menjadi babu dirumah suaminya bisa memberikannya sedikit pelajaran, tapi tunggu dulu, menyenangkan juga sepertinya sedikit bermain-main, Ben mulai kecanduan setelah berhasil menumbangkan Davin tadi nampaknya.


"Biar tidak sembarangan mengatai dan menuduh orang." ucap Ben lagi.


"Tidak Tuan, kumohon, hiks hiks, tolong lepaskan saya." air mata itu mengucur deras, Erni tidak mampu lagi menahan ketakutannya sehingga yang bisa ia lakukan hanya menangis, bahkan ia sudah merasakan basah di celananya akibat mengompol, sungguh ia benar-benar takut saat ini.


"Seperti bau pesing, kau mengompol yaaa?" tanya Ben, "Aisshh kau mengotori kursi panas kami, pencemaran udara dan lingkungan ini juga tidak akan bisa kumaafkan." ucap Ben sembari memakai lagi maskernya.


Jason sedikit tertawa di pojok sana, sungguh ia lumayan terhibur.


"Maafkan saya Tuan, saya menyesal melakukannya." ucap Erni, bagaimanapun ia tidak bisa mengontrol apa yang terjadi, semua terjadi begitu saja, refleks karena saking takutnya.


"Kau mau kuberi vidio aslinya nggak perselingkuhan suamimu?" tanya Ben, ia bertindak sok akrab lagi.

__ADS_1


"Tidak Tuan, tidak perlu, saya sudah menerimanya, tolong lepaskan saya." ucap Erni.


"Benarkah, berhati lapang sekali anda." ujar Ben, nadanya dibuat sedikit menyesal karena Erni beranggapan begitu.


Erni diam, ia sungguh tidak bisa menerima semua itu, namun kewarasannya berada di ruangan ini sangat penting, masalah suaminya dan si ja*ang biar nanti saja ia urus, saat ini lakukan apa saja supaya bisa dikasihani, agar ia bisa keluar dari tempat menakutkan ini.


Ben memberikan sebuah flashdisk pada Erni, namun karena Erni tidak bisa mengambilnya maka Ben berinisiatif untuk memasukkan flashdisk itu ke kantong kemeja Erni saja.


"Aku sudah sangat berbaik hati, kau bisa menyimpannya untuk berjaga-jaga, meski menjijikan tapi siapa tau flashdisk itu bisa membantumu dikemudian hari."


"Iya Tuan." ucap Erni gugup, lalu apa lagi nantinya.


"Baiklah mari kita mulai eksekusinya." ucap Ben, ia menuju lemari mengambil sesuatu, Erni mendongak, dadanya sesak kala melihat benda apa yang diambil Ben. Serangkaian alat bedah, ya Tuhan apa bibirku memang akan dijahit, tidak tolong siapapun tolong hentikan permainan gila ini, Erni membatin dalam hatinya.


Ben mulai memakai sarung tangan di kiri dan kanan, ia melirik Erni sedikit, nampak peluh sudah mengucur deras di wajah wanita itu.


Ben memiringkan sudut bibirnya, ia cukup puas.


Melangkahkan kakinya mendekat menuju Erni lagi, "Ada pesan terakhir sebelum mulutmu tidak bisa lagi berucap?" tanya Ben, "Hahahaha."


"Tidak Tuan, tolong jangan lakukan, tolong kasihanilah saya." hanya itu yang bisa Erni ucapkan, ia tidak bisa mencari kalimat apapun lagi sebagai pembelaan, ia hanya ingin tolong hentikan semua yang terjadi.


Braaakk...


"HENTIKAN SEMUA INI!"


Jason terkejut, kala mendapati seseorang yang baru saja membuka pintu dengan keras.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2