Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Meminta restu.


__ADS_3

"Wen, aku..."


"Pergi..."


Entah kenapa rasanya sakit sekali, saat seseorang memperlakukanmu dengan baik namun sayangnya karena dengan alasan tertentu.


Pun dengan Weni yang merasa kalau ia hanya dijadikan sebagai pelampiasan oleh Yudha, dari cara Sarah dan Yudha berbicara ia tidak bodoh, pastilah keduanya pernah memiliki hubungan.


Terlebih Yudha kembali mencuri ciuman darinya, ia yakin sekali Yudha melakukan itu semua hanya untuk memanas-manasi Sarah, heh cinta, persetan dengan semua itu, baginya Yudha sudah sangat keterlaluan.


"Wen..."


"Pergi !" bentak Weni.


"Gue nggak bakalan pergi, sebelum lo maafin gue" tegas Yudha, ia sudah memutuskan bahwa Weni adalah seseorang yang akan mengisi kekosongan di hatinya, terlebih karena ia sadar ia juga bersalah.


"Hah, sejak kapan kamu peduli akan kata maaf, dengar jangan pernah menjadi baik, kalau buruk ya buruk aja, karena kamu itu orang yang gak pernah mau kalah dan gak pernah peduli" Weni memiringkan sudut bibirnya "Dan ya satu lagi, suka bertindak semaunya" tambahnya masih sempat menambahkan.


"Terserah lo mau ngomong apa, pokoknya gue nggak akan pergi sampai lo maafin gue"


Shirleen saat ini sudah berada jauh dari kota, ia tampak familiar dengan jalan yang mereka lalui ini namun ia tidak bisa berpikir akan kemana ia dibawa pergi.


"By kita mau kemana sih, besok itu kita mau dipajang, jangan aneh-aneh deh" ucap Shirleen.


"Sebentar lagi sampai" ucap Jason.


Sampailah mereka pada sebuah pemakaman yang berada di sebuah Desa.


"By ini..." ucap Shirleen tak percaya, bagaimana bisa Jason tau segalanya tentang ia.


"Kamu lupa, kamu belum meminta restu mereka"


Shirleen tersenyum penuh haru "Iya By, terimakasih sudah mengingatkan, mereka orang baik, aku masih selalu saja rindu jika berada disini" lirih Shirleen sembari memeluk suaminya.


"Yuk" ajak Jason.

__ADS_1


Mereka pun lalu menuju makam orang-orang yang kata Pak Haris berharga bagi Shirleen.


Dua hari yang lalu, Pak Haris mertuanya itu datang menemuinya di Kantor, bercerita tentang masa kecil Shirleen hingga remaja, ada tangis bahagia dan juga sesak Pak Haris perlihatkan sepanjang bercerita sebanyak yang ia dengar.


Flashback.


"Putriku sangat cantik, sedari kecil dia adalah kebanggaan kami, kebanggaan paman dan bibinya" ucap Pak Haris.


"Paman dan Bibi ?" tanya Jason.


"Iya kalau sempat, bawalah ia ke makam Paman dan Bibinya orang-orang yang juga sangat berharga baginya, dulu mereka sebenarnya asisten rumah tangga kami, ah tidak Hanya Bu Neneng yang bekerja, kau tau Sekar ?"


"Iya iya, pembantu dirumah Papa kan" ucap Jason.


"Iya" Pak Haris mengangguk membenarkan "Lebih tepatnya bukan dikatakan pembantu, dia sudah ku anggap seperti anak sendiri apa lagi semenjak kematian kedua orang tuanya" jelas Pak Haris.


"Shirleen biasa memanggilnya Mbak Sekar" ucap Jason.


"Iya, mereka sudah sangat dekat sedari kecil, begitu pun dengan orang tua Sekar, mereka sangat menyayangi putriku Shirleen" Pak Haris mulai bercerita bagaimana indahnya masa kecil Shirleen dulu, kebersamaan mereka yang telah menganggap orang tua Sekar seperti keluarga mereka sendiri. Jason juga sedikit menyambungkan karena ia pernah diceritakan Shirleen bagaimana waktu ia remaja biasanya ia akan meginap di rumah Pamannya yang bekerja di perkebunan teh milik keluarganya.


"Bi Neneng dan suaminya, sangat berharap bisa melihat Shirleen menikah namun apa daya musibah itu lebih dulu terjadi dan merenggut nyawa mereka" tetes air mata sudah jatuh dari sudutnya.


"Dulu aku sebenarnya menyesal karena tidak mengizinkan Shirleen dan Athar menikah, mereka sangat ingin melihat Shirleen menikah namun bagiku Athar bukanlah orang yang tepat untuk mendampingi putriku" lanjutnya.


"Setelah kepergian mereka, aku pernah akan mengizinkan Shirleen menikah dengan Athar, namun kami mempunyai masa lalu dengan ayahnya Athar, sehingga sayang sekali aku tidak bisa menukar kebahagiaan putriku untuk ketenangan Paman dan Bibinya di sana"


"Aku tetap pada pendirianku, Shirleen tidak akan menikah dengan Athar, tapi nyatanya sekitar berapa bulan pernikahan itu tetap terjadi, Shirleen kami menjadi pembangkang karena telah dibutakan oleh cinta"


"Karena paman dan bibinya jualah pelan-pelan aku bisa ikhlas, aku dan istriku selalu menguntit hidup Shirleen di beberapa bulan usia pernikahan mereka, aku lihat putriku tak lama hamil, jujur ada bahagia saat aku melihatnya bahagia, namun tetap saja aku masih belum bisa menerima pernikahan putriku"


"Saat itu aku juga tau Athar memperlakukan Ilenku dengan baik, jadi ku putuskan, biarlah mereka hidup damai berdua, tanpa kami ini yang selalu mengharapkan putri kami kembali"


"Tapi ternyata keputusanku salah, saat kau membawa Ilenku kembali hari itu, aku merasa telah gagal menjadi seorang ayah, bukan hanya aku bahkan Mamanya juga merasa seperti itu, kami telah gagal menjadi orang tua, kami tidak bisa menyelamatkan kebahagiaan putri kami"


"Sekarang, Ilen sudah menikah denganmu, aku menggantungkan harapan besar padamu nak, sekali lagi orang tua ini akan berucap, jika kamu merasa Ilenku sudah tidak menarik lagi, atau pertengkaran antara kalian tidak bisa diselesaikan lagi, jangan sekali-sekali kamu membentaknya, jangan pernah perlakukan ia dengan buruk apa lagi sampai mengasarinya, bawa dia padaku, selama aku masih ada aku sanggup menerimanya bagaimanapun keadaanya, meski ia bersalah ataupun tidak"

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu Pa, aku juga berharap pernikahanku dan Shirleen selalu dilimpahkan kebahagiaan" ujar Jason, pesan seorang ayah yang begitu dalam, dua kali ia mendengar pernyataan itu dari Papanya Shirleen, namun masih saja menggetarkan hatinya, ia seolah mempunyai beban yang berat atas pernikahannya.


"Semoga saja Nak"


"Jika sempat, hari ini atau besok, bawalah ia ke makam paman dan bibinya, mintalah restu, aku yakin mereka pasti hidup damai disana"


"Iya Pa, akan aku bawa Shirleen ke sana"


"Terimakasih Nak"


"Iya Pa"


Flashback off.


"Paman, Bibi, Ilen sudah menikah, ini suami Ilen, namanya Jason, ganteng kan, kalau Paman dan Bibi masih ada pasti kalian sangat senang, dia selalu saja bisa membuat orang yang berada di dekatnya bahagia" ujar Shirleen berbicara pada makam yang sepertinya beberapa hari kemarin pernah ada yang mengunjungi, terlihat dari bunga yang ditebar masih baru.


"Ternyata Ilen dan dia sudah dipertemukan sedari kecil, semoga saja kali ini dia memang jodohnya Ilen, Ilen tidak mau gagal lagi Paman Bibi, Ilen nggak mau ngecewain Papa sama Mama" tangis Shirleen luruh jua, saat ia mengingat bagaimana kecewanya orang tuanya atas pernikahannya dengan Athar.


Shirleen mengusap air matanya, mencoba tegar, ia selalu saja begitu merasa dirinya begitu jahat.


"Sudahlah By, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri" ucap Jason menenangkan sang istri sembari mengusap bahu yang sudah mulai berguncang itu.


"Terima kasih sudah menjaga Ilen dulu, terima kasih sudah memberikan yang terbaik untuk Ilen, Ilen sudah menikah, Paman dan Bibi pernah memimpikan untuk melihat Shirleen menikah kan, semoga Paman dan Bibi tenang di Surga, bahagia di sana, Ilen selalu sayang kalian"


Jason memeluk istrinya itu, tangis Shirleen pecah, ternyata begini rasanya, sungguh ya Tuhan ia sangat rindu.


Paman, Bibi, Ilen rindu...


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2