Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Boleh saya peluk anda Tuan Muda.


__ADS_3

"Ikut aku" ucap Jason.


Roy pun mengikuti tuan mudanya itu, menuju tempat yang lumayan sepi di dekat rumah yang ternyata setelah Roy ingat, rumah itu adalah rumah orang tuanya Athar.


"Kau mengetahui sesuatu ?" tanya Jason, ia bertanya pada seseorang yang seakan sudah menunggu kedatangannya.


"Dia menusuk adiknya, dia benar-benar depresi hingga membuatnya kehilangan akal, saya melihat gerak-geriknya di beberapa hari ini, ia sering menyendiri dan menangis, tampaknya kehilangan anaknya membuat ia tertekan"


"Hemm, baiklah, lalu bagaimana keadaan Athar" tanya Jason.


Roy terperangah tidak percaya, benar sekali Athar kan saat ini tinggal dirumah orang tuanya. Bagaimana keadaan Athar, apa telah terjadi sesuatu dengan mantan suami nona mudanya itu, kenapa ia bisa tidak tau.


"Kritis, setelah di larikan kerumah sakit, kabar terakhir yang saya dengar Athar belum juga sadarkan diri dan lukanya juga serius"


"Hemmm begitu ya, apa ada saksi atas kejadian ?" tanya Jason lagi.


"Sebenarnya saya melihat semuanya, tapi Riska mengira saya sedang tidak dirumah"


"Ya sudah, kau tetap urusi tua bangka itu, biar Riska menjadi bagianku" ucap Jason.


"Roy pastikan kasus ini sampai ke pihak yang berwajib" ucap Jason menoleh kearah Roy.


"Baik Tuan Muda"


Sudah ku bilang, jangan pernah bermain denganku, di suruh tutup mulut tapi Athar sialan itu malah akhirnya tau dari mulutnya sendiri, aku paling benci orang yang tidak bisa dipercaya.


"Masuk" ucap Jason dingin.


Roy kemudian masuk ke dalam mobil mewah tuan mudanya itu.


"Ya Tuan Muda"

__ADS_1


"Kau tau, tadi Misca bermimpi, ia mengatakan Ayahnya akan pergi, begitu kuat batin seorang anak pada ayahnya kan" ucap Jason, ia mengingat lagi perkataan Misca, ia sudah berjanji bahwa tidak akan terjadi apapun pada Athar.


"Menurutmu aku harus apa ?" tanya Jason lagi.


Roy semakin menegang, jika ditanya soal pendapat untuk perihal masalah pribadi, ia mengaku angkat tangan, ia tidak bisa menyarankan ataupun memberikan pendapat apapun, ia takut salah langkah dan membuat Tuan Mudanya itu malah mengambil keputusan yang tidak tepat.


"Ah iya, pengantin baru sepertimu tidak akan tau masalah keluarga" ucap Jason, ia tersadar karena melihat Roy yang diam saja seolah bingung harus menjawab apa.


"Bu bukan begitu Tuan Muda"


"Lalu yang begitunya yang bagaimana ?" tanya Jason lagi.


"Saya hanya sedikit ragu untuk menjawab"


"Jawablah, aku bisa memilahnya, selama ini kau terlalu takut untuk menyampaikan sesuatu saat aku menanyaimu tentang masalah seperti ini, sering kuperhatikan, padahal aku menganggapmu sebagai teman, kadang aku tidak tau harus bertanya pada siapa, harus berbagi pada siapa, sehingga aku acap kali merepotkanmu dengan masalah-masalah pribadiku" ucap Jason, memang benar begitu baginya Roy bukan lagi hanya sekedar asisten pribadinya, ia adalah kakak, sahabat, bahkan orang yang dianggap bisa membantunya dalam segala hal, ia sebenarnya dangat menyayangi Roy hanya saja ia tidak bisa atau mungkin lebih ke tidak tau cara mengungkapkannya, bersikap tegas dan perfeksionis adalah jiwanya dan sudah melekat dengan kesehariannya, hingga kadang orang lain pun sulit mengartikannya.


Padahal selama ini Jason sangat kesepian, ia hanya punya Roy sebagai kaki dan tangannya ditambah ketiga curut yang kadang mewarnai hidupnya.


Pun dengan Shirleen, ia sering kali berdiskusi apa saja, tapi untuk masalah tentang Misca dan masa lalu Shirleen ia memilih pada Roy untuk membantunya bertukar pendapat, akan dibawa kemana penyelesaiannya.


Sedang Roy menganggap segala apa yang menyangkut Tuan Mudanya itu harus sangatlah sempurna, sehingga ia begitu takut untuk memberikan wejangan apalagi sampai harus ikut andil menyertakan pendapatnya tentang masalah pribadi Tuan Mudanya, ia merasa tidak pantas dan seperti terlalu lancang, padahal Jason benar sungguh-sungguh bertanya sebagai adik dan kakak, bukan sebagai anak buah dan Tuan Muda.


Kalau saja untuk urusan bisnis, ia bisa dengan sangat mudah menjawab segala pertanyaan apapun itu.


"Tuan Muda" Roy seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, itu berarti apakah namanya sudah menempati di sebagian hati Tuan Mudanya, sungguh ia terharu.


"Memangnya begitu sulit pertanyaanku ini hingga kau pun tidak mampu untuk menjawab, kau sampai menangis begini, haaahh" Jason menghela nafasnya berat. "Baiklah lain kali aku tidak akan bertanya yang beginian lagi padamu, aku takut kau berpikir terlalu keras, baru segitu saja sudah menangis, dasar lemah" gerutu Jason, karena ada setitik air mata yang menggenang di pelupuk mata Roy, ia bisa melihat itu, mungkin saja saat ini Roy sedang terharu.


Ah dasar mental yupi, baru dibuat seperti ini saja sudah menangis.


"Sudahlah, malu sama badanmu yang berotot itu, nangis seperti anak perawan saja" ucap Jason, ia juga bingung dimana letak kesalahan kata-katanya hingga membuat Roy bersedih seperti itu.

__ADS_1


Kasar memang, namun bukannya Roy sudah terbiasa dengan sikap kasarnya, ia rasa empat tahun bukan waktu yang singkat untuk membiasakan diri.


"Tuan Muda, saya akan mengabdikan diri di seumur hidup saya pada Tuan Muda, terima kasih, terima kasih sudah menganggap kehadiran saya, saya merasa lancang karena selama ini telah menganggap tuan muda sebagai adik saya, namun ternyata Tuan Muda begitu baik, maafkan saya yang tidak mengerti, anggaplah saya sebagai seorang sahabat atau sebagai kakak, saya Royand Zuhrizal siap melakukan apapun untuk Tuan Muda"


*Tuan Muda, s*aya berjanji akan menjaga anda seperti saya menjaga nyawa saya.


"Eehh" Jason termangu, kenapa malah seperti ini kejadiannya.


Kalau sudah begini, gue harus ngapain ?


"Boleh saya memeluk Tuan Muda ?" tanya Roy hati-hati. Ini adalah kali pertamanya ia meminta hal yang macam-macam pada Tuan Mudanya selama ia mengabdikan diri.


"Kau sudah gila ya, apa tidak cukup kehangatan yang Shakira berikan hingga kau masih juga tertarik padaku ?" ucap spontan Jason tidak nyambung, ia tidak tau bagaimana cara menyikapi seseorang yang tengah terharu, apakah ia harus bersikap welcome atau malah menghindar, jadilah ia bersikap seperti orang bodoh yang tidak mengerti.


"Hiii, kau ajaib sekali" ucap Jason sembari bergidik ngeri.


Roy tertunduk lesu, bagaimana pun menurutnya ia yang salah, karena saking senangnya dan terharu, ia malah menganggap kebaikan Tuan Mudanya itu terlalu berlebihan.


Melihat Roy yang tertunduk, Jason malah merasa bersalah, bukankah ia sangat keterlaluan, hanya peluk saja bukan masalah besar kan, apa lagi tadinya mereka sudah mengakui bahwa mereka sudah seperti kakak dan adik.


Tapi bukankah sangat aneh menurutnya berpelukan sesama laki-laki, pernah sekali saat waktu itu papanya juga meminta peluk darinya, tapi kan itu pelukan seorang ayah yang menyesal, ia juga waktu itu bersikap dingin tanpa ekspresi karena hatinya masih diliputi benci, dan untuk Roy, saat ini ia harus bersikap seperti apa ? Tidak mungkin kan harus mengabaikan seperti saat ia di peluk papanya tempo hari, setidaknya bisakah membalas dengan usap sedikit bahunya untuk menenangkan pria disampingnya ini, ah tidak tidak itu terlalu menggelikan untuk dia yang gentle ini.


"Eehmm..."


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2