
Lisa kini terbangun dari tidur panjangnya, ia merasakan sakit dibagian intinya.
Ia melihat sekeliling, lalu ia pun teringat dengan apa yang terjadi.
Ia tersenyum puas, akhirnya ia akan mengandung benih Jason, ia berharap segera hamil lalu akan meminta pertanggung jawaban dengan idolanya itu.
Katakanlah Lisa gila, namun ia memang begitu tergila-gila dibuat Jason.
Ia merapikan pakaiannya yang berantakan, ia mencari jalan keluar dan menemukannya, dilihatnya tidak ada satu orang pun yang berada di ruangan itu, ia pun sampai pada villa keluarga Adrian, sepi tidak berpenghuni walau villanya tampak rapi.
Ia berjalan menuju pintu utama Villa, tidak terkunci, aneh sekali. Mencoba lagi ia melihat sekelilingnya, sepi tiada orang selain dirinya di villa itu.
Lisa keluar dari villa itu menuju tempat ia memarkir mobilnya siang kemarin, ah benar mobilnya masih disitu. Semuanya aman saja.
Ia melajukan mobilnya pulang kerumah, ia sungguh bahagia saat ini.
Disisi lain Riana tiada hentinya menangis menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Sayang, ini pasti gara-gara minuman hamil kamu ini !" Tiba-tiba Athar mengutarakan kecurigaannya.
"Aku nggak tau, tapi kok bisa gitu ?" Riana menyahut, ia kini terbaring lemah, tubuhnya menggigil, mukanya pucat, tidak ada perubahan sama sekali dengan kondisi kesehatannya walaupun ia rutin mengkonsumsi obat dokter.
"Ya bisa aja kan, pasalnya semenjak kamu mengkonsumsi minuman ini, banyak penyakit yang berdatangan ke tubuh kamu" Athar makin yakin dengan kecurigaannya.
"Aku akan ke labor, dan menanyakan produk ini palsu atau tidak, aku takutnya kau membeli minuman yang palsu, harganya murah kan kamu bilang" Lanjutnya lagi.
"Katanya sedang promo, tapi cobalah cek, mana tau memang benar kita bisa menuntut kan" ucap Riana yang sedang meringkuk dibawah selimut.
Lalu Athar pergi kerumah sakit, dan memberikan minuman itu pada dokter yang biasanya ia berkonsultasi, ia menjelaskan bahwa istrinya mengalami berbagai penyakit setelah meminum minuman ibu hamil ini.
Para staff laboraturium pun mengambil sampel minuman tersebut untuk mengeceknya.
__ADS_1
Diluar dugaan, hasilnya produk minuman itu positif asli. Mereka juga kaget dan antusias siapa tahu bisa bertemu dengan sales yang menawarkan produk minuman ini secara promo, produk minuman sehat untuk ibu hamil baik yang sedang program hamil ini banyak sekali diminati masyarakat. Hanya saja sayang sekali harganya relatif mahal.
Athar pun harus menelan kecewa, ia tidak bisa menemukan jawaban kenapa tiba-tiba istrinya diserang penyakit mematikan seperti itu.
Ia harus kembali kerumah. Riana hanya sendirian dirumah.
"Udah gak bisa masak, gak bisa ngapa-ngpain, penyakitan lagi, nyusahin aja tau kamu jadi orang"
"Kamu pikir aku mau menderita kayak gini, eh nenek lampir aku sumpahin kamu juga bakal menderita kayak aku, beraninya ngata-ngatain aku"
Athar yang baru sampai rumah pun dikejutkan dengan suara gaduh yang ternyata pertengkaran Ibu dan istrinya itu.
Ia segera masuk kedalam untuk melerai keduanya.
"Bu, tolong Riana sedang sakit, mengertilah ia juga sedang hamil" ucap Athar.
"Athar, apa-apaan kamu, ibu dengar kamu mengambil cuti, Athar kamu itu baru naik jabatan, kamu mau posisi kamu diambil orang karena kamu terusan cuti seperti ini ?" Tanya Ibunya Athar.
"Alah dasar emang wanita nyusain, udah sakit kayak gini, nggak bisa ngasilin duit, kamu kuras juga duit anak saya, kamu pikir saya nggak tau kamu ngabis-ngabisin duit anak saya belanja barang-barang mahal, sekarang malah kamu sakit duitnya juga bakalan habis buat ngobatin kamu, dasar pembawa sial" Ucap geram Ibunya Athar.
"Bu, sudahlah, Riana sedang sakit, kalau ibu tidak ingin membantu merawatnya tidak apa, tapi jangan lagi mencacinya" ucap Athar menenangkan Ibunya.
"Heh, aku nggak bakalan sudi ngurusin wanita penyakitan kayak dia" Ibunya Athar membuang muka.
"Athar, ibu kesini mau minta uang sama kamu, ibu mau belanja, jangan cuma istri kamu ini yang kamu kasih duit terus, ibu juga mau duit hasil naik jabatan kamu" lanjut Ibunya Athar lagi.
Athar pun yang malas berdebat memberikan lima lembar uang seratus ribu pada ibunya.
"Kok segini sih, ini cukup buat apaan, dua juta" pinta ibu Athar lagi.
"Nanti aku transfer sisanya" Ucap Athar, ia benar-benar pusing, ia hanya ingin hidup damai, kondisi Riana saat ini sudah menguras kerja otaknya, jangan ditambah lagi dengan masalah ibunya. cukup sudah baginya.
__ADS_1
Ia berharap ibunya segera pergi dari rumahnya, supaya ia tak perlu bertengkar dengan ibunya, karena dari dulu berhadapan dengan ibunya membuat emosinya naik kalau lama-lama.
ia hanya tidak ingin durhaka pada orang tua yang tinggal satu-satunya itu.
Ibu Athar pun berlalu pergi meninggalkan rumah anaknya.
Ia sama sekali tidak perduli dengan kondisi mantu barunya itu.
Persetan dengan wanita pembawa sial itu, aku mumet sing penting belanja. Batin Ibunya Athar.
Riana nampak marah setelah kepergian mertuanya itu, baginya semenjak ia sakit ia jadi tidak bisa hura-hura menikmati uang suaminya itu, dan kini suaminya itu malah memberikan uang kepada mertuanya, hatinya panas saat ini.
Ia diam saja, tidak mau lagi tersenyum pada Athar suaminya.
Athar yang menyadari perubahan sikap istrinya itu hanya bisa mengelus dadanya, ia tidak bisa melakukan apa-apa, memberi pengertian pada Riana, sayangnya Riana bukan Shirleen yang mau mencoba menerima begitu saja.
Tiba-tiba saja ia ingat Shirleen, wanita yang pernah ada dihatinya.
Benarkah dia juga menghianatiku, sebenarnya aku masih tidak percaya. Batin Athar.
Bersambung...
*
*
*
***Hai readers, jangan lupa like, koment, dan vote yah...
Happy reading*** !!!
__ADS_1