
"Lho kamu kenapa By ?" tanya Shirleen saat Ben membawa suaminya kerumah dengan wajah yang sudah nampak pucat.
"Nona, bisa tunjukkan dimana kamarnya ?" tanya Ben.
"Ya sudah ikut saya !" ucap Shirleen.
Ben lalu membawa Bosnya itu ke kamar, ia permisi untuk pulang setelahnya pada Shirleen dan juga pada Bosnya yang tampak masih setengah sadar.
"By, hei kamu kok panas banget ini !" Shirleen mengambil handuk kecil dari lemari untuk mengompres tubuh suaminya.
"Haus By !" ucap Jason lirih.
Shirleen memberi suaminya minum, bulir keringat terlihat jelas, sebenarnya apa yang terjadi, apa karena kelelahan Jason sampai demam parah seperti ini pikir Shirleen.
Ia memberikan obat untuk Jason setelah memberikan sedikit sup jagung dan kepiting yang ia buat cepat dibantu Ipah, tidak lama suaminya itupun tertidur.
Athar sudah mengetahui dari Delia bahwa Riska terjerat dua kasus dan berakhir di sel tahanan, nanti senin depan adalah sidang pertama kakaknya itu, jika untuk masalahnya mungkin saja ia bisa membantu paling tidak meringankan, Delia sudah mendiskusikan semuanya pada Kepolisian, berkata bahwa dia dan pihak yang menjadi korban tidak akan memperpanjang masalah, tidak akan menuntut atau memberatkan pihak terlapor, namun untuk masalah Tiara sepertinya masih berat, Rendi juga sudah mengurus semuanya, mantan suami kakaknya itu juga tidak mau mantan istrinya di penjara, namun nampaknya keringanan tidak berlaku untuk kasus yang dialami Tiara, sudah dilibatkan juga saksi dan tersangka lainnya, sebanyak kabar yang Athar dengar setidaknya kakak sulungnya itu dipidana dengan pidana penjara paling singkat tiga tahun, Athar sungguh tidak pernah membayangkan ini akan terjadi pada kakaknya.
"Kak Del, apa tidak ada cara lain ?" tanya Athar pada Delia yang juga nampak termenung memikirkan bagaimana nasib Riska.
"Tidak ada Thar, Mas Rendi juga sudah bicara dan mengatakan bahwa Kak Riska sedang depresi saat melakukannya, namun entahlah semua itu tidak bisa menjadi alasan untuk pembelaan diri Thar." jelas Delia.
"Aneh juga ya !" gumam Athar.
"Kok aneh ?" tanya Delia.
"Aku ingin liat saksi dari penusukan yang terjadi padaku, aku yakin sekali malam itu tidak ada saksi kejadian, tapi kenapa bisa ada laporan begitu, kalau untuk masalah Tiara kita selama ini tidak pernah memperpanjang, cukup dalam ruang lingkup kita saja, mengapa tiba-tiba ada laporan semacam itu, siapa yang melapor, siapa saksi kejadian, kak Del merasa ganjal nggak sih ?" ucap Athar, karena baginya pasti ada seseorang dibalik semua yang terjadi.
"Aku nggak tau Thar." ucap Delia.
"Kak Del sama yang lainnya gak ada lapor atau bicara yang berhubungan dengan kasus kak Riska pada orang lain kan selama ini ?" tanya Athar.
"Ya enggak lah, meskipun waktu itu aku benci tapi aku nggak akan setega itu lah yah, palingan cuma mas Ilham, ya wajar lah suami istri, gak tau deh kalau yang lain tapi kayaknya enggak mungkin deh Thar."
"Haaah." Athar menghela nafasnya berat, mengapa kakak sulungnya harus mengalami derita seperti ini.
__ADS_1
Riana penyebab segalanya, Ibunya yang telah membawa Riana masuk kedalam rumah tangganya, dan wanita ular itu jualah yang sudah menghancurkan keluarganya, begitupun dengan keluarga kakak sulungnya, Mas Rendi berkhianat kemudian Kak Riska tidak terima lalu depresi, yah semua yang terjadi adalah salah Riana.
Meski ia tidak ingin melakukannya, mengutuk seseorang yang telah meninggal dunia, namun rasanya ia tidak bisa untuk tidak melakukan itu.
Hari sudah sore saat Jason terbangun dari tidurnya, dilihatnya sekeliling tidak ada siapapun dikamarnya, kepalanya sudah tidak seberat tadi namun badannya masih saja dingin ia rasakan, padahal jika dari luar suhu tubuhnya masih panas.
"Kau sudah bangun By ?" tanya Shirleen saat ia sudah memasuki kamarnya, tadi Ipah hendak pulang karena memang sudah waktunya, namun Shirleen mencegahnya dan meminta Maidnya itu untuk menginap malam ini, lalu ia menyerahkan Jacob pada Ipah, ia akan mengecek kondisi suaminya lagi.
"By kok aku rasanya nggak nyaman ya ?" keluh Jason.
"Apanya ? Tidak nyaman bagaimana ?" tanya Shirleen.
"Hoeekk, hoeekk." Jason berlari ke kamar mandi, ia sungguh tersiksa, satu mangkuk kecil sup kepiting tadi sudah habis ia muntahkan, sehingga saat ia mencoba memuntahkan isi perutnya lagi malah kesakitan yang ia dapatkan.
"By !" ucap Shirleen, ia memijit pelan tengkuk suaminya.
"Aku nggak kuat By, dari tadi muntah terus, perutku sakit !" keluh Jason.
"Kita kerumah sakit ya !" usul Shirleen.
"Nggak, nggak usah !" tolak Jason.
"Aku gak mau, kamu aja yang rawat yaaa !"
"Tapi By !"
"By... Please !" mohon Jason lagi membuat Shirleen memilih mengalah.
"Ya udah semoga cepet baikan, ini gimana badan kamu kan masih panas, terus kepalanya gimana masih berat ?" tanya Shirleen.
"Kepalanya udah mendingan sih, cuma aku dingin rasanya, kek mau menggigil !"
"Nanti aku bawain bubur kesini, kamu makan terus minum obat lagi !" ucap Shirleen.
"Ya udah !"
__ADS_1
Jason kembali berbaring, rasa mual itu kembali menyerang, mungkin karena ia tidak terlalu banyak mengisi perut hingga asam lambungnya naik atau bagaimana Jason hanya bisa menerka-nerka, karena menurutnya selama ini ia tidak ada masalah dengan asam lambung.
Ini sungguh diluar kendalinya, ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut, kakinya terasa dingin.
"By, ayo makan dulu !" suruh Shirleen, ia datang lagi dengan membawa semangkuk bubur dan juga segelas air putih.
Jason menurut saja, ia mengambil bubur yang Shirleen berikan dan segera melahapnya, ia tidak mau perutnya kosong, sungguh sakit kalau diajak muntah lagi. Dalam seharian ini sejak tadi pagi dikantor ia sudah tidak tau lagi berapa kalinya ia muntah.
"Nah sekarang minum obatnya !" pinta Shirleen saat Jason sudah menyelesaikan makannya.
Segera Jason mengambil obat dan langsung meminumnya.
"Kau mau kemana By ?" tanya Jason, saat Shirleen sudah bangkit dari tempat tidur.
"Aku mau naruh ini, kenapa ? Apa kau menginginkan sesuatu ?" Shirleen menunjuk nampan yang berisi mangkuk dan gelas kotor.
"Taruh saja disitu, bisa elusin kepala aku By !" pinta Jason manja.
Shirleen mengurungkan niatnya, ia menaruh lagi bekas Jason makan tadi di atas nakas, dan hendak mulai membelai lembut kepala sang suami.
"Kamu kenapa sih ?" tanya Shirleen heran, apa.suaminya kalau sedang demam memang seperti ini yah pikir Shirleen.
Tidak ada jawaban, Jason nampak anteng saat kepalanya di elus begitu dan jujur saja ia mulai mengantuk.
Kalau rasa tidak nyaman itu berangsur membaik maka ia akan mudah saja tertidur, seperti kali ini.
Shirleen yang melihat Jason sudah nampak tertidur menyeringit heran karena ini belum sampai lima menit dari suaminya itu minum obat, namun Jason sudah tampak pulas.
"Cepat sekali, padahal aku bukan memberinya obat tidur ?" heran Shirleen.
Badan Jason masih sedikit panas semoga saja cepat turun harap Shirleen.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!