Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Bebas.


__ADS_3

"Jadi lo mau gue ngelakuin apa?" tanya Jason, saat ini ia dan Angga sedang menjumpai Afik di kantor Polisi, bagai sudah menjadi tawanan, Afik bahkan tidak diperbolehkan untuk pulang, padahal disini sudah jelas siapa yang salah.


Afik tidak menjawab, hanya tersenyum smirk menandakan ia menyetujui apapun yang Jason perbuat nanti.


"Lo mau ngapain rencananya?" tanya Angga.


"Gue? Nggak ngapa-ngapain, gue males berbuat apapun, biarin aja dia disini," ucap Jason, ia menepuk pundak Afik pelan, "Lo keknya lebih betah disini ya." ucapnya lagi.


"Lo jangan gila Junedi!" ucap Angga.


Jason melangkah keluar ruangan, dengan sudah melihat wajah Afik ia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Junedi, woy bangsat lo, itu si Afik gimana?" umpat Angga, ia menahan paksa tangan Jason karena tidak percaya Jason bisa meninggalkan Afik sendiri disini.


"Lo nggak liat gimana sedihnya Bunda, hei gue ke rumah lo tadi biar bisa bebasin Afik, tapi lo malah... Lo bahkan nggak ngelakuin apapun selama disini." lanjut Angga.


"Gue nggak terima, ini bukan salah Afik, masa iya dia harus nanggung kesalahan yang sebenarnya bukan dia dalangnya, dan cewek itu, yang seharusnya nanggung semua yang terjadi, malah dikenakan status yang sama dengan Afik, ini gila gue nggak terima."


Angga kalap, Angga benar-benar putus harapan, Jason seseorang yang dapat dipercayai olehnya akan bisa melawan hukum, malah dengan tanpa rasa bersalah meninggalkan Afik, tidak ini bukan harapannya, bukan keinginannya.


Dilihatnya lagi wajah Bundanya Afik yang sedang terisak ditemani sang pembantu.


Jason tidak perduli, ia tetap saja berlalu pergi.


"Lo kok biarin Junedi pergi, terus lo gimana?" tanya Angga pada Afik yang dari tadi tetap dalam mode santainya.


"Ya biarin aja kali, terserah dia." ucap Afik.


"Fik lo tau nggak sih apa yang bakal lo adepin, penjara Fik tiga bulan, ancur nama lo jadi mantan napi ujungnya, lo sadar nggak sih?" geram Angga.


"Ya biarin aja sih Ga, biarkan mengalir seperti air." ucap Afik tenang.


Dari kejauhan seorang wanita sedang menuju kearahnya, dengan mata sembab datang menghampirinya.


"Lo kok nggak ada takutnya?" tanya Zarin, ia berbicara agak terisak, sungguh sebenarnya bukan karena takut di penjara tapi melainkan karena ancaman keluarga Wirawan yang mengatakan akan membatalkan pertunangannya dan Davin, lalu secara otomatis pengobatan Ibunya juga harus terhenti jika itu terjadi, sayangnya ia tidak bisa menarik kelakuannya saat di Bar semuanya sudah terjadi.

__ADS_1


"Heh, lo cewek nggak tau diri, udah ditolongin juga, napa lo nggak bilang aja sih kalau Afik nggak terlibat, kalau mau di penjara jangan ngajak-ngajak temen gue dong." ucap Angga, ia sungguh geram melihat Zarin yang menghampiri Afik, baginya semua ini salah Zarin.


"Gue disini juga nggak tau apa-apa yaaa, gue juga nggak mau dia terlibat disini, tapi sayangnya nggak ada alasan untuk itu, kesaksian para pengawal itu malah bisa memperjelas semuanya, gue juga nggak bisa apa-apa." bela Zarin pada dirinya, memang benar ia tidak ada niatan sedikitpun untuk menyangkut pautkan Afik pada masalahnya, namun mau bagaimana lagi, luka-luka di wajah dan memar di beberapa bagian anggota tubuh membuktikan segalanya.


Dan Afik, ia tertuduh dan tidak bisa mengelak.


"Ga udah!" lerai Afik.


"Udah gimana coba, lo... Arggghh." Angga sungguh frustasi.


"Noh lo liat nyokap lo diujung sana, lo tega gitu?"


"Ini semua karena lo cewek bar-bar, jadi cewek sadis banget." Angga menatap nyalang Zarin.


"Saudara Muhammad Al-Fikram ?" ucap salah satu petugas kepolisian yang tadi sempat meminta keterangannya.


"Kenapa Pak?" tanya Afik.


"Anda diminta masuk ke ruangan." ucap Pak Polisi lagi.


"Anda..."


"Saya Abangnya Pak." potong Angga cepat.


"Tapi..."


"Saya sepupu dekatnya, udahlah Pak saya mau ikut pokoknya, nih bersih gada senjata apapun, saya cuma mau denger kelanjutan kasus ini, itu saja." jelas Angga, ia bahkan sudah menggeledah sendiri tubuhnya, memastikan dan memperlihatkan bahwa dirinya memang hanya akan membawa badan saja ke ruangan itu.


"Ya sudah!" ucap Pak Polisi pada akhirnya.


Angga dan Afik memasuki ruangan, jika Angga sudah tidak sabar bercampur tegang deg-degan, lain halnya dengan Afik, ia malah lebih bisa bersantai seperti saat ia dimintai keterangan tadi, ia yakin dan bisa menjamin akan hidupnya sendiri.


"Lo santai banget, disini yang punya masalah siapa sih sebenernya?" tanya Angga.


"Oke, langsung saja, saudara Muhammad Al-Fikram, anda sudah bisa pulang saat ini juga, dan mengenai perihal kasus penganiayaan saudara Davin Azka Wirawan dan kedua pengawalnya, para korban sudah memperjelas dan menyatakan bahwa segala yang terjadi hanya kesalahpahaman saja."

__ADS_1


"Hah?" Angga melongo tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar, sementara Afik cuek saja.


"Tidak hanya itu, nanti keluarga Wirawan akan menyatakan permohonan maaf secara resmi mendatangi rumah saudara Muhammad Al-Fikram, atas tuduhan yang mereka buat." jelas Pak Polisi itu lagi.


"Apa ada lagi?" tanya Afik, ia makin berani saja, tidak ada lagi yang harus ia takutkan.


"Dan yah, untuk saudari Zarinda Risya, dia juga akan dibebaskan dari tuduhan, saudara Davin Azka Wirawan sudah memutuskan untuk menempuh jalan damai atas apa yang telah menimpanya ia juga sudah bisa dengan hati lapang memaafkan."


"Untuk hal lebih lanjut, bagaimana nantinya saya serahkan pada kedua belah pihak, yang pasti dapat saya putuskan bahwa kasus ini tidak akan dibawa ke jalur hukum."


"Terimakasih Pak, terimakasih atas kerja samanya." ucap Afik, ia menyalami Pak Polisi tersebut namun dengan ekspresi wajah yang masih biasa saja.


"Sama-sama senang bekerja sama dengan anda, anda sangat kooperatif dalam penyelidikan, tampak tenang dan yah memang seharusnya seperti itu."


Angga dan Afik lalu dipersilahkan keluar ruangan dan silahkan untuk pulang, Angga masih belum percaya apa-apaan keadaan bisa berbalik dalam hitungan menit saja.


"Bun..." Panggil Afik pada Bundanya yang masih terus saja mengusap air mata yang jatuh.


"Gimana sayang, apa sudah ada keputusan, apa bisa diringankan dan cari jalan keluar supaya kamu nggak di penjarain?" tanya Bundanya Afik, sedari tadi ia juga memikirkan bagaimana anaknya bisa terbebas dari segala tuduhan, sedang pengacaranya saja sudah tidak bisa membantu, karena keluarga Wirawan ternyata menggunakan kekuasaannya, sayang sekali.


"Ayo kita pulang!" ajak Afik dengan senyuman.


"Pulang?" tanya ulang Bundanya.


"Iya, kita pulang, udah selesai urusannya dan kita udah bisa pulang, jadi ayo kita pulang!" ajak Afik lagi.


Bundanya langsung saja memeluk putranya haru, "Apa maksudnya, apa maksud kamu, kamu dibebaskan dari tuduhan?" tanya Bunda Afik sekali lagi untuk benar-benar memastikan.


"Sudahlah Bun, kan udah aku bilang, Bunda jangan terlalu khawatir." ucap Afik.


"Kok bisa sih!" gumam Angga yang masih belum juga mencerna dengan baik apa yang baru saja terjadi.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2