
Riska tertunduk lesu, badannya lemas saat mendengar kabar duka kematian Ibunya yang disampaikan Athar, ia tidak bisa mengungkapkan betapa sedih hatinya, bahkan dirinya belum sempat meminta maaf, meminta maaf karena sempat membenci Ibunya, sempat menyalahkan Ibunya karena menganggap Ibunyalah penyebab perceraiannya.
"Aku ingin ikut Thar, tolong, kamu bisakan bantu kakak." pinta Riska.
Athar mengangguk, dirinya pun paham apa yang tengah dirasakan kakak sulungnya saat ini.
Athar mencoba bicara dan bernegosiasi untuk Riska, setelah banyaknya pertimbangan petugas kepolisian pun menyetujui untuk Riska hadir di pemakaman Ibunya, dengan syarat harus tetap adanya pengawasan dari pihak kepolisian, Athar pun tidak keberatan begitu pula Riska, ia tidak akan berniat kabur, dirinya pasti akan bertanggung jawab atas segala perbuatannya dengan menjalani sisa hukumannya.
Sementara di rumah sakit, Roy sengaja datang ke rumah sakit untuk memberitahukan kabar duka kematian Ibunya Athar pada Tuan Mudanya, namun tentu tanpa sepengetahuan Nona Mudanya.
"Ada apa Roy?" tanya Jason yang baru saja membukakan pintu untuk Roy.
" Selamat sore Tuan Muda, boleh kita bicara sebentar." pinta Roy.
"Masuklah!" suruh Jason.
"Bolehkah tidak disini?" pinta Roy lagi.
Sebenarnya tidak ada salahnya jika ia langsung saja memberitahukan berita itu pada Tuan Mudanya, namun Nona Muda mereka sedang tidak tidur saat ini, jangan sampai Nona Mudanya menaruh curiga karena jika di lihat dari mana pun dirinya tidak ada hubungan sama sekali dengan mantan suami Nona Mudanya itu. Lalu jika ia tiba-tiba mengabarkan nanti ia akan kesulitan menjawab dari mana datangnya informasi seperti itu, lagi pula seorang Roy tidak pernah bertindak gegabah, jika bisa dibicarakan terlebih dahulu dengan Tuan Mudanya mungkin itu lebih baik.
"Baiklah!" ucap Jason menyetujui, lalu ia menoleh ke arah istrinya, Shirleen terlihat mengangguk, Shirleen memang seperti itu tidak pernah menaruh curiga pada suaminya, bukan hanya pada Jason, dulu saat bersama Athar pun begitu. Ia selalu mencoba percaya sampai pada akhirnya Athar menghianantinya.
Jason mengikuti Roy sedikit menjauh dari ruang rawat Shirleen.
Ia menatap Roy penuh selidik, sedikit penasaran berita apakah yang Roy bawa kali ini, karena jika hanya menyangkut urusan kantor pastinya tidak akan menghindari Shirleen seperti ini.
"Begini Tuan Muda, saya kesini hanya ingin mengabarkan bahwa mantan mertua Nona Muda sudah tiada." ucap Roy.
Jason tersentak, sudah tiada, hemm ia tidak tau harus merasakan apa, yang jelas ada sedikit rasa bersalah bersarang dalam dasar hatinya.
"Inalilahi Wainailaihi Rojiun. Dia yang mencari gara-gara denganku kan, dia yang telah berani menyentuh wanitaku, bukan salahku kan Roy." ucap Jason pada Roy.
Roy pun tau kemana arah pembicaraan Tuan Mudanya itu, karena dirinya pun ikut andil dulunya, kemudian Roy mengangguk pasti.
"Semua yang terjadi adalah kehendak-Nya, kita tidak pernah tau apa yang telah terjadi setelahnya, Tuan Muda tidak perlu merasa bersalah, kematian pasti terjadi pada setiap umat manusia, itu adalah hal pasti karena kita berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya." ucap Roy menenangkan Tuan Mudanya.
__ADS_1
"Aku harus memberi tahu Shirleen, kita akan melayat sebentar, suruh Shakira kemari." ucap Jason memerintah.
"Baik Tuan Muda."
Jason lalu kembali masuk ke ruangan rawat Shirleen, sementara Roy langsung saja menghubungi istrinya.
"Ada apa By?" tanya Shirleen berbasa-basi setelah melihat suaminya telah kembali dari menemui Roy.
"By, nanti kamu tidak apa ku tinggal sebentar." ucap Jason.
"Enggak papa, tapi emangnya kamu mau kemana?" tanya Shirleen.
"Aku mau melayat sebentar." jawab Jason.
"Melayat? Siapa yang meninggal By?" tanya Shirleen.
"Ibunya Mas Athar By, Roy baru saja ngabarin." ucap Jason.
"Ah iya By, iya, sampaikan salam ku pada keluarga Mas Athar, maaf jika aku nggak bisa datang melayat." ucap Shirleen.
"Soal itu, aku kurang tau, tapi wajarlah kami cukup banyak relasi, kali aja salah satu rekan kerja tidak sengaja memberitahukannya karena mungkin ada juga yang berhubungan dengan Mas Athar." dalih Jason.
"Ah iya juga ya, yang penting kan udah tau dan beritanya udah nyampe." gumam Shirleen.
"Kamu sama Shakira nanti selama aku tinggal, kalau butuh apa-apa suruh Shakira telpon aku atau Roy saja." pesan Jason.
Ia menunggu kedatangan Shakira sebentar, sebelum kemudian berangkat pergi kerumah Ibunya Athar bersama Roy.
Riska nampak lemas setelah sampai di rumah duka saat dibawa oleh polisi wanita, ia duduk di samping jasad Ibunya yang tertutupi kain, lalu ia buka sebentar untuk melihat wajah itu terakhir kalinya.
Pilu, sungguh hatinya teriris, ia mencium lama kening jasad Ibunya, membisikkan kata maaf tiada henti, semoga Ibunya bisa memaafkan anak durhaka sepertinya.
Menutup kain yang menutupi wajah jasad Ibunya, ia beralih ke kaki, surga yang penuh kasih, bersujud di situ, ia memohon ampun atas segala perbuatan buruknya pada sang Ibunda meski sudah sangat terlambat, ia teringat sering kali memakai uang untuk biaya pengobatan ibunya itu hanya karena dirinya ingin bersenang-senang menghilangkan depresi atas perceraiannya, bahkan dirinya pernah berpikiran untuk mengakhiri hidup Ibunya, sungguh demi apapun ia minta maaf, mohon ampun.
"Kak, sudah kak, ikhlaskan Ibu." ucap Citra sembari merangkul kakak sulungnya.
__ADS_1
Riska sudah terisak, tubuhnya lemah lunglai, bagaimana pun rasanya ia belum bisa menerima.
"Ikhlaskan Kak, biarkan Ibu pergi dengan tenang, damai." lanjut Delia.
"Ibu sudah tiada Del, aku belum minta maaf Del." ucap Riska sembari menangis terisak.
"Iya kak, Ibu pasti sudah memaafkan, sekarang kita hanya bisa berdoa, mendoakan Ibu Kak, semoga Ibu tenang, bahagia di surganya Allah." lanjut Mutia.
Riska semakin tidak bisa menahan tangisnya, dirinya dan keempat saudaranya sudah yatim piatu saat ini, dan dia malah belum bisa menjadi kakak yang baik sebagai contoh untuk adik-adiknya.
Jasad ibunya sudah dibawa untuk dimandikan lalu di kafani, di sholatkan sebagaimana mestinya tata cara dalam islam untuk kemudian di makamkan.
Jason baru saja sampai di rumah duka saat jenazah sudah selesai di sholatkan, ia menemui Athar dan mengucapkan bela sungkawa, tak lupa juga berbagai sedekah barang yang ia bawa semoga bisa bermanfaat.
Athar tidak percaya seorang pewaris keluarga Adrian akan mau melayat kepergian Ibunya.
"Ilen tidak bisa datang Mas, dia lagi di rumah sakit." ucap Jason, karena Athar melihat ke arah belakang dirinya yang bisa Jason tebak pasti mencari keberadaan Shirleen.
Meski cemburu ia tetap mencoba menahannya.
"Di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Athar.
"Ilen Mas, sempat drop karena lagi hamil." terang Jason, menegaskan kata hamil supaya Athar tidak perlu sekhawatir itu.
"Oohh, bolehkah nanti saya jenguk Shirleen, Tuan Muda?" tanya Athar lagi, sungguh berani sekali dirinya, namun ia juga khawatir tentang Shirleen, sungguh rasa itu masih ada namun dibalik itu semua ia juga sudah ikhlas Shirleen bersanding dengan pria dihadapannya ini.
"Silahkan Mas!" ucap Jason.
Padahal dalam hatinya menyala dengan gemercik api membara.
Siapin mental lo buat liat keuwuan gue ntar, beraninya jengukin bini gue.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...