
"Kenapa nggak bangunin aku sih" Shirleen kecewa saat dia bangun ternyata hari sudah pagi, ia kesiangan padahal ia sudah memperhitungkan harus bangun jam dua dini hari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu tidurnya lelap banget By, aku gak tega" jawab Jason yang saat ini sudah rapi dengan pakaian sekolanya.
Jacob masih anteng berada di box bayi, bayi ganteng itu sudah kenyang setelah menghabiskan satu botol asi yang diberikan Jason saat Shirleen masih pulas tadi.
"Hei boy, jalan sama Papa yuk, Mama mau bikin sarapan" Jason mengambil bayinya dari box bayi, ia akan mengajak Jacob untuk tour house di rumah baru mereka.
Shirleen menuju kamar mandi untuk mencuci muka bantalnya, ia harus segera membuat sarapan karena jam sudah menunjukkan pukul 06:17 saat ini, suaminya itu bisa telat betangkat ke sekolah.
Saat sampai di dapur, seperti biasa segalanya sudah sangat rapi, piring bekas Jason makan malam beserta perabotan yang kotor sudah tidak ada lagi, bahkan buah yang ada dimeja makan sudah diganti dengan yang baru, padahal seingatnya dikulkas stok buahnya sudah hampir habis.
Ia begitu heran siapa yang melakukannya ?
Kali ini ia tidak akan masak, ia hanya akan membuat sandwich mengingat waktu yang sudah mepet, maka ia membuat sarapan yang ringkas saja.
Tepat saat sarapan selesai dihidangkan, Jason datang bersama Jacob yang selalu saja anteng dalam dekapannya.
"Maaf ya By, hari ini harus sarapan ini aja, aku takut kamu kesiangan kalau nunggu masakan aku" Ucap Shirleen lesu.
"Ya gak masalah kali By, ini juga enak dan ngenyangin kok" Jason memakan sarapannya, dua buah sandwich sebentar saja sudah habis ia lahap.
"Aku berangkat dulu yaaa" ucap Jason kemudian, namun Shirleen segera menahan tangannya.
Baru saja Jason hendak bertanya kenapa, Shirleen sudah meraih tangannya untuk dicium, Jason mematung, tiga detik kemudian sudut bibirnya melengkung, hatinya menghangat jantungnya berdebar lagi, ia masih tersenyum senang hingga Shirleen selesai mencium tangannya.
__ADS_1
"Aku ingin jadi istri yang baik" ucap Shirleen.
"Cup" tanpa aba-aba Jason langsung membalas perlakuan istrinya dengan mengecup kening Shirleen lumayan lama. Shirleen menegang, selalu saja seperti ini malah terbuai.
"Aku juga mau jadi suami yang baik dong, emangnya cuma kamu doang yang mau" ucapnya kemudian.
"Apaan sih" Entah kenapa Shirleen selalu saja malu jika di cium suami berondongnya itu, padahal hal begitu biasa untuk sepasang suami istri, namun wajahnya selalu menampilkan reaksi berlebihan.
"Udah sana berangkat" ucapnya lagi.
"Hei Boy, papa berangkat dulu yaaa, jangan rewel kasian Mama, eh iya By nanti aku kirim seseorang buat nemenin kamu dirumah, jadi kalau hari ini Misca belum pulang kamu gak kesepian, dan juga gak kerepotan karena nggak ada Ipah"
"Terserah kamu aja By, tapi aku nggak keberatan juga kok kalau cuma berdua sama Jacob"
"Udah gak papa, nanti kamu pasti bakalan suka kok sama orangnya"
Jason menaiki motor sportnya, jarak rumahnya ke sekolah sudah semakin jauh karena ia yang memilih tinggal dirumah baru, hal itu juga yang membuat Jason harus memulai aktivitasnya lebih pagi dari biasanya.
Lagi-lagi Shirleen bingung harus melakukan apa, semua pekerjaan rumah sudah dibereskan oleh entah siapa, dan hari ini Jacob bahkan sudah dimandikan oleh suaminya, Jason memang Papa yang super, semua serba bisa dan lebih beruntungnya sangat menyayangi kedua anaknya.
Shirleen memilih berselancar di dunia maya, gosip artis bersliweran dimana-mana, ia lalu mengunggah foto Jacob di instagram miliknya, ada beberapa teman masa sekolah dan kuliahnya dulu yang mengomentari, bertanya kabar dan dimana ia sekarang tinggal, sebagian memuji gemas foto Jacob, ada yang bilang wajah Jacob berbeda dengan Misca, mereka berdua tidak mirip, setelahnya ia larut dalam berbalas komentar.
Sementara disuatu tempat, seseorang tampak sedang mengadakan janji temu di sebuah klinik kesehatan. Weni awalnya santai saja ia cukup menikmati waktu mengantrinya dengan memainkan ponsel untuk membunuh waktu, namun saat ia hendak ke toilet ia yang saat itu sedang memakai heels entah kenapa malah tersandung kakinya sendiri, membuat ia hampir saja jatuh tersungkur, beruntung seorang pemuda dengan sigap menahan tubuhnya.
"Maaf, maaf" ucapnya penuh penyesalan karena tidak berjalan dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kalau jalan pake mata dong mbak" ucap pemuda itu kemudian.
"Yee gak usah ngegas juga kali, saya udah minta maaf yaaa, kamu pikir saya sengaja mau jatuh hampir tersungkur gitu" ucap Weni nggak mau kalah, laki-laki dihadapannya ini masih muda tapi nggak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua.
"Ya kali Mbak emang sengaja jatuh minta disambut" ucap songong pemuda itu lagi.
"Hai anak muda, pede sekali kamu, saya kalo mau sengaja jatuh juga milih kali mau mendarat ke siapa, nggak bakalan mau jatuh disambut sama modelan kayak kamu, lagian saya beneran gak sengaja, kamu aja yang kegeeran"
"Masa...?" menunjukkan reaksi tidak percaya ditambah bumbu-bumbu ketololan.
"Emang bener yah nih bocah gak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua" Weni menatap garang pemuda yang tengah berdebat dengannya kini.
Belum sempat pemuda itu membalas ucapannya, sebuah suara sudah menghentikannya.
"Hei kalian, bisa tidak jangan berisik, ini klinik bukan pasar, tau aturan dong ?" ucap salah satu pengantri di klinik tersebut, membuat wajah Weni semakin merah padam, ia begitu malu meladeni debat dengan bocah ingusan dihadapannya ini.
Tak ayal membuatnya mendelik tajam mengisyaratkan akan permusuhan. Ia berlalu pergi ke toilet, dan berharap tidak akan bertemu lagi dengan pemuda songong tadi.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
__ADS_1
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!