
Pagi menjelang, Sri sungguh tidak bisa tidur nyenyak memikirkan bagaimana nasibnya, beruntung malam ini ia tidak bermalam di emperan toko atau semacamnya, sangat beruntung baginya dipertemukan dengan pasangan suami istri baik hati seperti Pak Safar dan Bu Halima.
Pagi-pagi sekali ia sudah membantu Bu Halimah berbenah rumah, ia tidak senang jika harus berdiam diri sementara orang rumah sudah pada sibuk sedari subuh.
Membuat sarapan, dan membantu apa saja, Bu Halimah justru malah mengagumi kepandaian Sri dalam mengurus rumah tangga.
"Sri berapa umurmu ?" tanya Bu Halima.
"Sembilan belas tahun Bu" jawab Sri.
"Kau tidak sekolah atau bagaimana, kenapa sudah bekerja ?" tanya Bu Halima lagi.
"Saya baru saja lulus SMA Bu, langsung merantau dan mendapatkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga"
"Kamu asli mana memangnya ?"
"Saya asli Jogja Bu"
"Lho kenapa merantau sampai kesini, bukannya di Jogja juga kota yang lumayan besar ?" Bu Halima makin tertarik mengenal Sri lebih jauh.
"Eemm begini, sebenarnya awal tujuan saya kesini karena ditawari pekerjaan disalah satu perusahaan yang lumayan besar, katanya bisa jadi OB gitu Bu dan katanya gajinya lumayan besar, tapi ternyata itu semua cuma modus, ternyata yang membawa saya dan mengatakan akan mempekerjakan saya itu ternyata seorang mucikari, saya dan kedua teman saya kabur saat sampai dibandara" jelas Sri. belum sempat ia melanjutkan ceritanya Bu Halima sudah bertanya lagi.
"Lalu kamu lolos atau ketangkep lagi ?"
"Tidak Bu, beruntung saya dan kedua teman saya lolos karena saya bertemu dengan seorang wanita baik, dia juga yang menolong saya dari kejaran mucikari itu dengan membawa saya dan kedua teman saya ke tempat agen penyedia jasa asisten rumah tangga"
"Lalu ?"
"Lalu wanita yang menolong saya itu lebih dulu dapat kontrak kerja, dia dikirim keluar negeri karena harus membantu majikannya merawat istrinya yang sakit"
"Sementara saya hanya bisa menunggu seseorang mengontrak kerja saya, lalu sekitar dua bulan kemudian, saya dapat kontrak juga dan ternyata majikan saya sama dengan majikan teman yang menolong saya itu"
"Ooohh gitu, pantas sekali kamu terlihat cekatan mengurus rumah tangga" puji Bu Halima.
"Saya sudah biasa karena kalau dirumah pagi sampai sore simbok dan bapak harus bekerja jadi saya yang ngurus rumah sendiri" jawab Sri seadanya.
"Kenapa kamu berhenti bekerja ?"
"Kalau itu saya tidak bisa menjelaskannya Bu"
__ADS_1
"Apa Fahira itu anak kamu Sri, maaf bukannya Ibu bermaksud menyinggung tapi mendengar dari cerita kamu sepertinya itu bukan anak kamu ?" tanya Bu Halima.
"Bu..." Fahira mulai tercengang, ia sadar pasti banyak yang akan menanyakan itu padanya.
"Jujur saja nak, jangan ada yang disembunyikan, ibu bisa mengerti"
"Dia sebenarnya anak majikan saya, tapi ibunya sudah meninggal karena sakit tadi dan ternyata Fahira bukan anak kandung suaminya, jadi suaminya menitipkan Fahira ke panti asuhan, dan hari ini saya pergi ke panti untuk mengambil Fahira, tapi saya lupa kalau saya belum memiliki tempat untuk berteduh dengan Fahira"
"Masyaallah nak, mulia sekali hatimu"
"Saya menyayangi Fahira Bu, saya yang merawatnya dari bayi itu masih merah, saya tidak bisa membiarkannya hidup dipanti hingga besar" ucap Sri, ia sudah terisak.
"Tapi saya mohon, jangan katakan pada siapa-siapa, kalau Sri bukan anak kandung saya"
"Nak, hidupmu pasti akan berhasil, sabar ini cobaan, hatimu sungguh mulia, Allah pasti akan membalas segala kebaikanmu ini" ucap Bu Halima sambil mengusap punggung Sri.
"Iya Bu"
"Lho Ibu, siapa ini ?" tanya pemuda yang masih berpakaian putih abu-abu pada Bu Halima tiba-tiba. Ia terkejut karena ada penghuni lain dirumahnya saat ia memasuki dapur untuk sarapan.
"Perkenalkan saya Sri tuan" ucap Sri ramah, ia takut salah bicara sehingga memberanikan diri memanggil pemuda itu Tuan.
"Dareen jaga bicara kamu, Ibu nggak pernah ngajarin kamu bicara gak sopan begitu"
Pemuda yang bernama Dareen itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia lupa adab berbicara dirumahnya.
"Maaf Bu" ucap Dareen penuh penyesalan.
"Minta maaf ke Sri, jangan minta maaf ke Ibu" ucap Bu Halima.
"Heehh" Dareen menghela nafasnya berat "Maafin gue Sri" ucapnya berat.
Sri hanya mengangguk, ia cukup tau diri ia hanya menumpang disini.
Suara tangis bayi mencairkan suasana, Sri segera menunju sumber suara, bayi itu pasti mencarinya ketika bangun tidur.
"Cup cup, sayangnya Ibu, ini Ibu... uhh marah yaa ditinggal ibu sebentar"
Dareen yang melihat itupun terlihat kesal mengapa orang tuanya harus menampung orang seperti Sri dirumahnya, yang ada dipikirannya Sri pastilah janda dengan satu anak.
__ADS_1
"Bu, kenapa sih harus nampung dia, udah punya anak gitu, dimana suaminya lagi"
"Dareen kasihan dia gak punya rumah, ini hanya sementara nanti Ayahmu akan carikan rumah kontrakan untuk mereka"
"Bu, jangan terlalu baik jadi orang, gimana kalau dia sebenarnya penipu" ucap Dareen.
"Dareen jaga omongan kamu, Sri nggak seperti itu" bela Bu Halima.
"Alaaah Ibu mana tau, dizaman yang serba susah ini, apa saja halal Bu buat kerja termasuk nipu"
"Masyaallah Dareen, tidak baik suudzon seperti itu, Nabi Muhammad selalu mengajarkan kita untuk selalu bersikap husnuzon sesama umatnya"
"Bu, Ibu sama Ayah sama aja, terlalu baik jadi orang, udah aku mau sekolah dulu, pokoknya aku nggak mau dia masih ada disini sepulang aku sekolah nanti"
"Dareen kurang ajar kamu, Ibu sama Ayah tidak pernah ngajarin kamu bersikap sombong seperti ini, dia itu orang yang sedang kesusahan sudah sepatutnya kita sesama manusia saling tolong menolong"
"Aahhh Ibu nih halu aja, nanti kalau udah ketipu baru mewek" ucap Dareen lalu berlalu pergi, tadinya ia ingin sarapan terlebih dahulu namun ia sudah tidak berselera semenjak melihat Sri menggendong bayi tersebut.
Masa masih muda gitu udah gendong anak aja, apa lagi coba kalau bukan hamil duluan.
Ia paling anti sama perempuan suka ganjen, dan ia sudah mengklaim Sri termasuk dari salah satunya.
Sri masih menemani Fahira menyusu, kebutuhan susunya sudah hampir habis karena kemarin ia belum sempat membeli, ia tidak perlu khawatir karena ternyata Pak Athar memberinya lima ratus ribu, cukuplah untuknya membeli susu formula untuk Fahira beberapa kotak. Ia bersyukur semoga Fahira selalu dilimpahkan rezekinya.
"Anak Ibu, miminya yang kuat yaaah biar cepat gede, nanti kalo udah banyak uang kita pulang ke kampung Ibu, ketemu sama nenek sama kakek" ucap Sri mengajak bicara Fahira.
Sayang sekali nasib Fahira tidak beruntung pikirnya.
Semoga saja Pak Safar segera mendapatkan kontrakan untuk ia tinggali, ia tidak mau menyusahkan keluarga Pak Safar lebih banyak lagi, apalagi melihat gelagat yang tidak menyenangkan dari putra keluarga ini, nyalinya malah sudah menciut duluan.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
Happy reading !!!
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!
__ADS_1