Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Keputusan Yudha dan Weni.


__ADS_3

Setelah melewati drama saling tatap itu barulah Yudha bisa dialiri semangat, Jason malah melongo tidak percaya melihat wajah Yudha yang tadinya muram kini berubah menjadi berseri.


Sungguh menggelikan, ada gue yang pengen nampol si cebong, drama bujuk membujuk macam apa ini.


Suara hati Jason ingin sekali meneriaki tepat di telinga Yudha, bagaimana tidak Yudha bagai anak kecil yang baru saja segala kemauannya dituruti saking senangnya.


"Oh its my dream Mas Aris, cuma pengen ketemu pacal gue !" sindir Afik yang kadang tidak tau sikonnya, "Nggak perlu sampai ke Cappadocia !" lanjutnya.


Angga menyeringit heran, nih anak manusia apaan sih pikirnya.


"Lo waras ?" tanya Angga.


"Gue ikut trend ege lo aja yang gak gahol, kan dia cuma mau itu ketemu si pacal." ucap Afik.


"Ikut gue !" ucap Jason pada Afik dan Angga, mungkin memberikan ruang bagi Yudha dan Weni bisa membuat apa yang mengganjal pada hubungan keduanya bisa segera terselesaikan.


Angga dan Afik kemudian mengikuti Jason.


"Junedi, lo tadi berhasil nggak ngomong sama si cebong ?" tanya Angga.


"Heemm !" tanggap Jason benar-benar seadanya.


"Ada yang lebih nggak waras dari lo !" ucap Angga pada Afik, kemudian ia berlalu duduk sedikit menjauh dari para sahabat yang kadang minim akhlak itu.


Sementara di ruang rawat,


"Kasih gue kesempatan Wen, gue nggak tau hari ini lo mau bales perasaan gue !" ucap Yudha.


Weni sebenarnya sangat ingin menerima Yudha, namun untuk ditinggalkan jauh nantinya apa iya dirinya akan sanggup.


"Kamu bakalan pergi ?" tanya lirih Weni.


"Maaf !" sesal Yudha. Hanya itu yang bisa ia katakan saat Weni menanyakan perihal kepergiannya.


"Aku nggak mau kamu pergi, kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja." spontan Weni langsung saja memeluk Yudha, ia benar-benar tidak menginginkan Yudha pergi.


"Kenapa harus mengatakan mencintai jika pada akhirnya akan pergi, kenapa ?" ucap Weni lagi.


Yudha lagi lagi hanya bisa bungkam, ia juga tidak tau bagaimana nasib percintaannya, yang pasti untuk saat ini ia sangat mencintai Weni.


"Kamu mau ikut aku ke Jerman ?" tanya Yudha, bagai jalan tengah, jika Weni setuju mungkin keputusan itu juga tidak buruk kan.

__ADS_1


Weni melepaskan pelukannya, "Enggak, aku gak bisa ninggalin hidup aku disini !" ucap Weni.


"Kenapa ? Aku masih bisa ngidupin kamu, kita nikah kita bangun rumah tangga disana, hidup berdua !" ucap Yudha, adalah andai yang biasanya hanya sebatas pemikirannya saja malah sudah ia ucapkan pada Weni. Menikah, lagi-lagi menikahi Weni, rasanya ia sudah tergila-gila.


"Bukankah sangat indah rencana kamu, tapi sayangnya aku nggak bisa Yud, ada banyak yang harus aku urus disini !" ucap Weni.


"Perihal kerjaan, aku bisa bilang ke Bos kamu, kamu berhenti baik-baik !" usul Yudha.


"Bukan gitu Yud !" sanggah Weni.


"Lalu apa Wen, aku benar-benar nggak mau kehilangan kamu lagi."


"Here's my world, I've a dream here, what I've built is not easy for me to leave !" ucap Weni, ia ingin bersama Yudha, bahkan diajak nikah pun ia siap saja, tapi disini adalah dunianya, ia tidak semudah itu untuk pergi mengikuti kemana Yudha, mimpinya menjadi seorang designer terkenal sebentar lagi akan terwujud, apa yang telah ia cita-citakan sebentar lagi menjadi kenyataan.


"Please, demi aku !" mohon Yudha.


Weni memeluk Yudha, "Kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, aku akan nunggu, aku tunggu keseriusan kamu nanti, janji Yudha untuk Weni ?" ucap Weni yakin, meski air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, ia tetap mencoba ikhlas.


Jika Yudha memikirkan bagaimana supaya ia dan Weni bisa menikah, lain halnya dengan Weni yang memikirkan bagaimana Ia dan Yudha bisa tetap bersama meski tidak menikah, percayalah ia sedang menguatkan diri untuk hati yang akan rapuh.


Yudha punya mimpi sama sepertinya, apa salahnya mengejar mimpi dan berjuang sama-sama, berjuang sebentar lagi, meski tiga atau empat tahun adalah waktu yang lumayan lama.


"Kita coba, kalau kamu beneran serius ayo kita berjuang !" ucap Weni.


"Kenapa nggak mau nikah aja sih ?" tanya Yudha.


"Kalau kamu kuliah disini oke aku setuju, tapi kalau kamu bakalan pergi aku nggak bisa, kita coba memantapkan hati dulu, aku untuk kamu kamu untuk aku, aku janji !" ucap Weni meyakinkan.


Ia baru pertama kalinya mencintai seorang lelaki dengan balasan rasa yang sama, rasa ini ia berikan utuh hanya untuk Yudha, ia bisa berjanji asalkan Yudha juga bisa berjanji untuknya.


Lagipun melihat keadaan Yidha yang begitu memprihatinkan tadi, Weni tidak akan sanggup melihat orang yang ia cintai menderita.


Yudha menatap Weni penuh cinta, apa lagi yang bisa ia katakan selain menerima, ia juga tidak punya pilihan lain, asalkan Weni tetap menjadi pacarnya itu sudah cukup baginya.


Tapi dirinya akan pergi, berarti ia dan Weni harus berjauhan, entahlah jika belum dijalani seperti ini rasanya sungguh berat.


"Kita pacaran ?" tanya Yudha untuk memastikan perasaannya benar-benar telah terbalas.


Weni terdiam, benarkah ia dan Yudha sekarang sudah pacaran, kapan jadiannya pikirnya. Ia ingin kata-kata romantis untuk membuatnya melayang, apa ada ?


Namun pada akhirnya Weni mengangguk jua, sudahlah mungkin ia sedkit kurang beruntung.

__ADS_1


Tapi bukannya Yudha sudah mengajaknya menikah, seharusnya itu sudah lebih dari pernyataan cinta kan, iya kan.


"Yes !" teriak Yudha langsung saja, ah sedikit nyeri di bagian tangannya saat ia mencoba mengepalkan tangan keatas sembari berkata Yes tadi, sudahlah ia tidak ingat kalau tangannya sedang patah.


Yudha tampak meringis menahan sakit, lumayan sedap rasanya.


"Kenapa ? Sakit ?" tanya Weni yang terlihat khawatir.


"Sedikit !" ucap Yudha mulai manja.


"Dimana yang sakit ?" tanya Weni lagi.


"Disini." Yudha menunjuk tangannya yang patah nampak masih dibalut perban, memang agak nyeri sih tapi kan itu juga salahnya yang terlalu bersemangat.


Weni nampak mengelus tangan yang berbalut perban tersebut, entahlah ia harus melakukan apa, ia kan bukan ahli patah tulang.


"Ehmm, ada janda disini !" ucap Mama Wina mengagetkan kedua insan yang sedang kejatuhan cinta tersebut.


Weni nampak memundurkan langkahnya dengan segera, betapa malunya ia, dihadapan Mamanya Yudha.


Ia bagai pedofil yang menyukai anak dibawah umur.


"Ada jomblo disini, jangan bikin iri, gak ditolongin tadi gak jadian kelen !" ucap Angga yang nampak menekankan kembali jasanya.


Yudha hanya bisa nyengir kuda sementara Weni menutup mukanya malu, bagaimana bisa ia benar-benar jadian dengan Yudha pada akhirnya.


"Sok malu, padahal nantinya juga nggak tau malu kayak yang lagi nelpon itu" ujar Afik sembari menunjuk Jason yang sedang bertelpon ria pada Shirleen, mengapa para pasangan gila ini tidak pernah memikirkan nasib jomblo sepertinya sih tanyanya heran.


Namun yang dibicarakan nampak asik menggombali sang istri, tidak perduli akan udara yang tiba-tiba sesak dihirup Angga dan Afik.


Liat mereka kayak gini malah bikin umur gue jadi lebih pendek keknya.


Cih, dasar tidak berperasaan.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


Happy reading !!!

__ADS_1


__ADS_2