
Pagi menjelang, sepasang anak manusia nampak sedang tersenyum saling pandang, tidur mereka nyenyak sekali.
Setelah membersihkan diri masing-masing, keduanya duduk di kursi ruang tamu.
"Aku selalu tidur nyenyak jika di sini!" ucap Dareen, ia membelai lembut rambut Sri, istri cantiknya.
"Kita masih lama nggak Mas di sini?" tanya Sri.
"Kamu maunya gimana?" tanya balik Dareen.
"Iih, orang nanya malah nanya balik!" dengus Sri.
"Ya maunya gimana, aku nurut aja sebagai suami."
"Mas, kita belum pernah jalan-jalan sama Simbok sama Bapak, boleh nggak kita pergi jalan-jalan?" bukan tanpa alasan Sri meminta jalan-jalan, karena seumur hidupnya dirinya hanya jalan-jalan menempuh tempat wisata saat perpisahan sekolah saja, itupun sudah lama, terakhir saat ia lulus SMP, karena saat ia lulus SMA dirinya tidak bisa ikut karena keterbatasan biaya.
Saat itu ia ingat, Rangga membelikannya sebuah bingkai foto yang terbuat dari kerang-kerangan, Rangga mengatakan membeli itu pada toko suvenir di Pantai Ngelambor, seumur hidup ia juga belum pernah mendatangi tempat wisata itu.
"Kamu mau jalan-jalan?" tanya Dareen.
Sri mengangguk cepat, duh gemas sekali Dareen melihatnya.
"Baiklah, dimana kita bisa menemukan jasa rental mobil?" tanya Dareen.
Sayang sekali kurangnya pengetahuan membuat Sri dengan terpaksa harus menggeleng.
"Disini nggak ada sinyal, bagaimana aku bisa mencarinya?" tanya Dareen lagi.
"Eemm, kalau Mas mau, Mas bisa menanyakannya pada Rangga, minta tolong Rangga saja, dia pasti tau kalau urusan begitu!" ucap Sri, ia lupa kalau suaminya itu pencemburu.
"Yah Rangga lagi." gumam Dareen, yang masih bisa di dengar Sri.
"Maaf Mas, Mas nggak mau yaaa." ucap Sri, meski tidak semangat namun dirinya tetap berusaha untuk tidak bersedih.
"Ya sudah, aku akan menanyakan dulu padanya!" ucap Dareen, ia bangkit lalu gegas menuju pintu keluar, yah dirinya akan melakukan apapun untuk sang istri, meski harus berhadapan lagi dengan si Rangga, seseorang yang sudah berhasil membuatnya cemburu hanya karena tidak sengaja mengatakan kalau laki-laki itu sangat dekat dengan Sri dulunya.
"Mas..." cegah Sri.
__ADS_1
"Ada apa?" ucap Dareen, ia sedang kesal, tolong jangan menampilkan wajah bersedih di hadapannya.
"Ponsel Mas ketinggalan!" ujar Sri.
Dareen melihat ke arah meja di mana ponselnya memang tergeletak di sana, ah dasar Sri, Dareen kira akan mengatakan jangan untuk mencegahnya.
Dareen mengambil ponselnya, ia akan pergi ke rumah Rangga.
"Mas..." cegah Sri lagi.
"Apa lagi Sri..." tanya Dareen yang menghentikan langkahnya, wajahnya menoleh pada sang istri.
"Kalau bisa harus bisa ya Mas, aku mau jalan-jalan sebelum kita pulang ke Jakarta." ucap Sri, sembari nyengir kuda, ah maafkan aku Mas Dareen, sungguh entah kenapa rasanya aku mau jalan-jalan, seperti bocah saja aku ini, gumam Sri tidak mengerti akan jalan pikirannya sendiri.
"Hhahaah," Dareen menghela nafasnya, "Iya, tenang saja." ucap Dareen.
Kemudian benar-benar pergi ke rumah Rangga, ia melihat Rangga sedang berkebun di halaman samping rumah, rumah di Dareen perkampungan tempat tinggal Sri memang memiliki halaman yang luas sehingga tidak sulit untuk berkebun, tanahnya juga nampak subur, Dareen mengetahui itu karena dirinya juga sering mengurus pertanian Bapaknya.
"Rangga!" seru Dareen.
Rangga mendongakkan wajahnya, ia melihat Dareen sudah berada dekat dengannya hanya berjarak beberapa meter saja.
"Ya Dareen, ada apa?" tanyanya, Rangga segera membasuh tangannya yang kotor karena tanah dengan air yang mengalir yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman.
"Aku kesini cuma mau tanya, apa kamu tau tempat jasa rental mobil yang bisa lepas kunci?" tanya Dareen.
Rangga tampak terdiam mencoba berpikir, ada sih tapi jaraknya cukup jauh dari kampungnya, dasar kampung terpencil apa-apa saja susah.
"Apa ada?" tanya ulang Dareen.
"Ada sih, eem tapi jaraknya lumayan jauh, sudah dekat kota!" jawab Rangga.
"Apa kamu bisa mengantarku?" tanya Dareen lagi.
"Bisa saja, tapi memangnya kapan maunya?" tanya Rangga.
"Hari ini, bisa?" tanya Dareen.
__ADS_1
Rangga tampak berpikir lagi, ia harus izin dulu pada Bapak dan Simboknya, karena perjalanan yang akan dirinya dan Dareen tempuh lumayan jauh.
"Bisa! Tapi aku harus ke sawah dulu, tidak bisa sekarang langsung pergi." ucap Rangga.
"Oh ya sudah, nanti kalau kamu sudah selesai dari sawah, kamu jemput saja aku di rumah!" ujar Dareen.
"Baik Dareen!"
Rangga lalu bergegas masuk kedalam rumah, ia akan mengambil motornya untuk pergi ke sawah berpamitan dulu pada Bapak dan Simboknya, sekalian memberikan bekal makan siang untuk orang tuanya itu."
Brumm brumm brumm, suara gas motor sport nampak berhenti tepat di depan rumah Rara, kawasan dengan begitu padatnya penduduk itu langsung saja menjadi geger kala mendapati seorang pemuda tampan dengan motor sport parkir di rumah salah satu para gadis kawasan mereka.
"Siapa tuh yang datang?" tanya salah satu cewek, temannya Rara, tapi selalu saja kepo dengan siapa Rara berhubungan.
"Astagah, cakep parah Wik, lo liat itu!" ucap yang lainnya pada seorang cewek bernama Wiwik, yang sedang sama mengintipnya.
"Lah di mana coba si Rara nemunya, gue jangankan yang udah pake motor sport kek gitu, kang ojol aja tampang kek gitu gue jabanin Vi." ujar Wiwik pada temen Rara juga yang bernama Silvi.
"Hooh!"
"Samperin nggak?" tanya yang lainnya.
"Enggak ah, takut si Rara ngambek nanti!" ujar salah satu dari mereka.
"Aelah, urusan ngambek belakangan, yang penting kita kudu tau apa statusnya tuh cowok sama Rara!" Wiwik memijat pangkal hidungnya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, "Bisa-bisanya si Rara punya cowok yang lebih ganteng dari cowok gue, nggak bisa dibiarin nih!" gumam Wiwik lagi, selain kepo dirinya juga suka iri pada Rara.
"Lo ngomong apaan Wik, kurang jelas, coba ulang?" tanya Silvi, samar ia mendengar Wiwik mengatakan sesuatu tapi sayangnya telinganya kurang menangkap.
"Nggak ngomong apa-apaan gue, udah buruan cusss pastiin kebenarannya, biasanya yang ganteng sama motor kayak gitu tuh selalu aja brengsek, jangan sampai Rara jadi korban lelaki bad boy gitu, lo liat kan tampangnya meski ganteng tapi sayangnya nggak meyakinkan banget, jangan-jangan emang playboy tuh cowok!" ujar Wiwik, tidak... Dirinya tidak terima.
"Masa sih cowok itu begitu, tapi pas dia buka helm tadi ganteng sumpah, gue aja mau biar kata dia brengsek." puji si cewek yang tadinya nggak mau masuk karena takut membuat Rara ngambek.
"Aelah dasar bego lo jadi cewek." umpat Wiwik.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...