
Ketua yayasan Panti Asuhan itu terlihat kebingungan, pasalnya baru tadi siang wanita dihadapannya ini mengantarkan seorang bayi untuk mereka asuh disini, namun lihatlah bahkan belum ada dua puluh empat jam wanita itu juga yang mengatakan ingin mengadopsi bayi tersebut.
"Tadi saya tidak tau harus berbuat apa, saya tidak punya cukup uang untuk merawatnya, saya kesini ingin mengabil Fahira kembali, apa masih bisa" tanyanya, semoga saja ia bisa dengan mudah mengambil Fahira kembali.
"Bagaimana Bu Ferdina, apa segala surat-surat Fahira sudah diurus ?" tanya Ketua Yayasan tersebut.
"Kebetulan belum Bu, tapi..."
"Aahh permisi Bu Ferdina, bayi ini terus menangis tidak bisa ditenangkan sedari tadi" ucap salah satu pengasuh di panti asuhan tersebut memotong apa yang hendak dibicarakan Bu Ferdina.
Sri refleks menoleh, ia ingat betul suara tangisan itu.
"Fahira..." ucapnya kemudian beralih langsung menggendong bayi yang sudah diklaim menjadi anaknya itu.
Benar saja Fahira pelan berhenti menangis melihat wajahnya, Sri mencium Fahira gemas, ia terharu karena bisa kembali bertemu dengan bayinya.
"Hei Son, kok kaget gitu kita dateng, punya acara nggak bilang-bilang" Ucap Angga dengan songongnya.
"Happy birthday Papa ganteng, eeh bukan Papa kulkas, hahahaha" Afik ikut menimpali.
"Udah 18 taon aja nih, besok jangan lupa traktirannya disekolah kalau mau rahasia lo tetep aman" ucap Angga lagi.
Jason hanya mengangguk mengiyakan, hari ini adalah harinya biarkanlah ketiga sahabatnya itu bebas melakukan apapun yang mereka suka.
__ADS_1
Yudha hanya diam mengamati, ia turut bahagia dengan apa yang dialami sahabatnya itu, menikah muda adalah hal yang sangat tidak pernah terbayangkan oleh setiap dari mereka, dan kini Jason mengalaminya dan ia selalu mendoakan semoga sahabatnya itu selalu bahagia.
"Gue punya hadiah buat lo" ucap Afik sembari memberikan sebuah paperbag.
"Eeh itu dari kita bertiga yaaa, jangan cuma lo doang yang dapet nama" Angga tidak setuju, pasalnya memutuskan untuk memberi hadiah tersebut memang mereka rundingkan bersama.
"Yaelah sadar ajah, padahal belinya juga pake duit gue, serah gue lah"
"Oh jelas gak bisa gitu dong, nah ini tuh dari kita bertiga" Angga mendekatkan dirinya untuk berbisik di telinga Jason "Inget makenya dikit ajah" ucap Angga lagi pelan.
Jason mengkerutkan keningnya tidak mengerti maksud ketiga sahabat laknatnya ini.
"Dah aman pokoknya" ucap Afik.
Yudha hanya bisa menahan geli membayangkan hadiah mereka untuk sahabatnya itu.
"Nah ini ada hadiah dari Papa, papa juga mau ngomong sama kamu, ayo Pa sini" lanjut Mama Mila lagi kemudian menyuruh suaminya mendekat.
Pak Adrian pun mulai angkat bicara "Jason, nak... kalau kamu belum bisa maafin Papa, tidak apa papa bisa mengerti, tapi kita adalah ayah dan anak, dan sampai papa mati pun kenyataan itu tidak bisa dirubah, ada darah papa didalam tubuhmu" Pak Adrian menatap lekat putra semata wayangnya itu.
"Semua yang papa lakukan itu sebenarnya untuk kebaikan kamu, percayalah Jason, tidak ada satupun orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia, termasuk papa, hanya saja cara papa yang ternyata salah, papa pikir memisahkan kamu dengan Shirleen bisa membuat kamu sadar dan jangan terlalu kejam menghadapi lawan diluar sana, papa pikir dengan kamu merasa kehilangan orang terkasih bisa menyadarkanmu betapa banyak orang yang kehilangan karena sifatmu, namun ternyata tidak, bodohnya papa malah semakin menghancurkan kebahagiaan kamu"
"Jason, jika kamu merasa papa ini sangat kejam mendidik kamu, papa minta maaf nak, papa memang perebut kebahagiaanmu, papa mungkin tidak pantas dipanggil papa olehmu dengan semua yang telah papa lakukan, kamu pasti selama ini tidak pernah bahagia sebelum mengenal Shirleen, maafkan papa nak" Bulir air mata yang Pak Adrian tahan akhirnya luruh juga, baginya dia adalah orang yang paling bersalah atas segala yang terjadi pada putranya.
__ADS_1
Jason hanya diam tak bergeming, kecewa itu masih ada, namun seperti yang papanya bilang, mereka adalah ayah dan anak, walau dibasuh sedemikian pun mereka tetaplah satu kesatuan, walau raga telah menjauh kemanapun menghidari pertemuan dan sang hati telah membuang jauh seluruh pemikiran, walau benci sudah menyelimuti namun sebuah hubungan seorang ayah dan anak tetaplah bagaikan sedekat nadi, tidak bisa terpisah sekalipun dengan kematian.
"Jason, kembalilah nak"
Jason masih diam, matanya menatap papanya syarat akan kekecewaan, karena begitulah ia jika sudah benci sulit untuk menerima semua yang terjadi sekalipun dengan maaf yang bertubi.
"Jason, nak... maafin papa yah nak" ucap Mama Mila, hatinya sakit melihat kedua laki-laki yang ia cintai malah memiliki hubungan yang buruk seperti ini.
Tangan Jason mengepal, matanya terpejam, percayalah saat ini ia sedang meredam segala kemarahannya.
"Ini tidak mudah bagiku, beri aku waktu" ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan semua orang.
Shirleen terkejut atas tindakan suaminya, ia pikir dengan Papanya minta maaf maka semuanya selesai, namun ternyata begitu sulitnya memenangkan hati suaminya itu, ia tidak menyangka Jason adalah orang yang begitu keras hati jika sudah pernah dikecewakan.
"Ma aku titip Jacob dan Misca sebentar, Pa maafin suamiku yaaa, papa yang sabar nanti aku pasti akan bujuk suamiku" Shirleen kemudian berlalu mengikuti Jason yang pastinya sudah berada dikamar saat ini.
Pesta yang baru saja akan dimulai itu tampak sunyi, karena tidak ada satupun dari mereka yang berani berbicara, suasana yang sangat menegangkan.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!
Sssttttt, dan satu lagi, izinkan author halu ini promo novel baru, klik di profil author aja atau bisa langsung search di pencarian, judulnya Dia yang Berasal dari Langit. Ditunggu kedatangannya ya readers, jangan lupa juga bawa dukungan !!!