Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Angga kesal.


__ADS_3

"Eh sumpah ya lo berdua, lo ngganggep gue apaan sih, gue udah setengah idup mikirin nasib lo, dan ternyata apa tadi lo bilang, Jason yang ngurus semuanya." Angga melampiaskan kemarahannya, semenjak Afik mengatakan dirinya tidak perlu khawatir karena Jason pasti akan membebaskannya, sementara Jason tadi bersikap seakan tidak perduli, Angga sungguh merasa dipermainkan.


"Kita masih betiga Men, baru satu yang minggat, apa gue nggak sepenting itu bagi kelen hah, lo pada bener-bener dah."


"Ga, udah, lo perasaan lebay amat deh, gue udah bebas kali, apa lagi." ucap Afik, dari mobil tadi semenjak ia menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Angga tidak berhenti mengoceh.


"Apa lagi, apa lagi lo bilang, wah gak waras lo, gue udah susah, otak udah buntu, gak ada apa mulut kalian yang perlu ngenjelasin ke gue kalau si Junedi udah ngurus semuanya, gue malah dibiarin gak tau apa-apa, malah dibiarin kebingungan, sakit jiwa lo pada hah." umpat Angga.


"Berisik banget sih lo aahh, sono lo pulang, teriak-teriak noh noh ditengah jalan jangan di rumah gue, pengang gue ege." ucap Afik.


Ah melelahkan sekali rasanya ia hanya ingin melanjutkan tidur pagi yang sempat tertunda tadi.


"Woy Fik bangsat, malah ninggalin, bener-bener dua anak manusia nggak ada akhlak" umpat Angga.


"Kenapa Ga, siapa yang gak ada akhlak?" tanya Bundanya Afik tiba-tiba.


"Eh Bun, ah nggak papa Bun, nggak ada, eemm Ayah kapan pulang Bun?" ucap Angga canggung, mulutnya memang kadang nggak bisa difilter kalau sudah kesal.


"Minggu depan katanya, ada kerjaan nggak bisa ditinggal biasalah, gimana kabar orang tua kamu?" tanya Bundanya Afik.


"Mama sama Papa baik, yang lain juga baik, paling Kak Diran mau nikah bulan depan, apa Mama udah bilang sama Bunda di arisan?" tanya Angga mulai mengakrabkan diri.


"Udah, udah tau kalau yang itu, gimana kuliahnya jadi satu kampus kamu sama Afik?"


"Jadi Bun, gimana nggak jadi, si Jason mau kuliah online aja katanya karena tahun ini kak Shirleen hamil, nah si Yudha kan udah ke Jerman, kalau bisa sama-sama lagi kenapa enggak!" ucap Angga.


"Kamu tuh sama yah kayak Abang, kalau temenan nggak terlalu banyak, susah banget buat ngenal orang baru."


"Ya gitu deh Bun, sebenarnya bukan susah sih, lebih ke malas aja, kita berempat keknya udah serasian, udah tau sama tau lah gimana baik buruknya, jadinya udah terlanjur nyaman." jelas Angga.


"Ya ya ya, keknya emang gitu sih, eh Ga ada nggak cewek yang dekat sama Abang?" tanya Bunda Afik kepo.

__ADS_1


"Cewek? Gak tau aku Bun, tapi keknya nggak ada deh, tau deh kalau baru-baru ini."


Angga dan Bunda Afik kemudian saling berbincang santai.


"Dilihat dari biodatanya, dia cukup pandai, tapi disini tertulis dia belum lulus SMA, jadi hanya bisa bekerja saat pagi sampai sore saja, ini maksudnya apa?" gumam Shirleen, saat ini ia sedang membaca berkas tentang pelamar kerja atas nama Ralisa Imanuella Syarif.


"Maksudnya apa sih, dia dari SMA mana gitu yang sekolah malam, atau home schooling ya, tapi aku rasa dia baik-baik saja, tidak terlalu sibuk seperti anak artis, tidak juga berkebutuhan khusus, kenapa seperti ganjil?"


Sudah satu jam lamanya Shirleen berkutat dengan berkas para pelamar kerja, hari sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, ia akan menyusui Jacob sebentar setelahnya baru akan mengumumkan siapa saja yang bisa bergabung bekerja di cafenya.


"Bagaimana Bu, jadi hari ini saja penerimaannya?" tanya Bella saat Shirleen sedang menyusui Jacob.


"Iya, sebentar lagi ya, kamu suruh saja mereka bersiap-siap, nanti aku sendiri yang akan mengumumkannya." jawab Shirleen.


"Ah iya, saya lanjut bekerja dulu kalau begitu Bu."


"Ya sudah." ucap Shirleen.


"Saya nurut saja Nona, saya juga tidak punya jadwal lagi setelah ini." ucap Ipah.


"Ya baiklah, itu terserah kamu nanti, kalau mau nginep dirumah itu lebih baik."


"Bi Ipah, ayo kita kesana!" ajak Misca, ia baru saja datang dari melihat taman bermain yang sebentar lagi rampung di cafe Bundanya bersama Sarmi pegawai cafe Bundanya, namun karena Sarmi harus pulang karena shift memang sebentar lagi berganti, maka Misca harus minta temankan lagi pada Maidnya.


"Kakak, jangan main-main disitu, itukan tempatnya belum selesai dibuat, masih banyak pekerjaan, sini aja yah sama Bi Ipah." ujar Shirleen.


"Yah Bunda..." Misca tampak lesu.


Di sebuah perkampungan yang sangat jauh dari kota Yogyakarta, disinilah Dareen dan Sri serta Fahira akan bermalam, dirumah orang tua Sri yang nampak sangat sederhana, jelas sekali bahwa Sri memang bukan orang berada sebelum menikah dengan Dareen.


"Maaf ya nak, kami belum bisa memberikan tempat tinggal yang layak selama kalian disini." ujar Bapak Sri, ia merasa kedatangan menantu dan putrinya itu sangat mendadak sehingga mereka tidak memiliki persiapan apapun, ia dan istrinya saja mendapatkan kabar Sri berkunjung dari Rangga, Rangga yang mengabarinya ke sawah, lalu langsung saja ia dan istrinya bergegas pulang.

__ADS_1


"Tidak apa Pak, ini juga sudah cukup, Sri kamu tidurkan saja Fahira dulu, kasihan dari tadi rewel terus karena nggak biasa perjalanan jauh." ucap Dareen.


"Baik Mas!" ucap Sri.


"Mbok, sini dulu aku mau bicara." ajak Sri pada Ibunya.


Simbok pun menurut, ia mengikuti Sri ke kamar.


"Ada apa Nduk?" tanya Simbok.


"Tolong Simbok panggilkan Rangga, Sri mau bicara, mau minta tolong." ucap Sri.


"Nduk biar Simbok saja, memangnya mau minta tolong opo to?" tanya Simbok, ia ingin menghargai menantunya, karena Dareen adalah orang yang taat agama, jadi jangan sampai terjadi salah paham jika Rangga ke rumah mereka menemui Sri.


"Aku mau minta tolong Rangga buat beli ayunan Mbok, Fahira susah tidur kalau nggak ada ayunan." jawab Sri.


"Oh, cuma itu toh, ya sudah nanti Simbok bicara sama Rangga, suruh dia ke pasar sebentar beli ayunan bayi."


"Makasih Mbok, ini uangnya, dan ini aduh lupa kan, Simbok tolong jagain Fahira sebentar, aku mau masak air buat bikin susu Fahira." ucap Sri, lalu ia memberikan Fahira pada Ibunya dan ia segera menuju dapur.


Beruntung ternyata saat ia sampai di dapur, Simboknya sudah memakai kompor gas untuk memasak, ia bisa menebak pasti kompor yang Simboknya gunakan ini adalah kompor bantuan dari pemerintah, tidak bisa dibayangkan kalau masih seperti beberapa bulan lalu dimana saat ia mau memasak Sri harus menghidupkan api terlebih dulu di tungku dengan menggunakan kayu bakar.


Sri sudah selesai membuatkan Fahira susu, ia kemudian membawanya ke kamar.


"Terimakasih Mbok, tolong ya Mbok bilang sama Rangga secepatnya gitu, aku lagi butuh banget." ujar Sri lagi, ia mengambil Fahira dari gendongan Simboknya, dan kemudian memberikan Fahira susu.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...

__ADS_1


__ADS_2