
"Hahaha, Tomi Raditya, seorang karyawan yang direkomendasikan untuk naik jabatan bulan ini, benar begitu?"
"Apa kiranya yang kau harapkan? Gaji besar, kelangsungan hidup yang terjamin, ya ya ya itu semua pasti kau lakukan untuk anak dan istrimu."
"Tapi, sebelum kau mengambil job ini, pastikan dulu siapa yang akan kau lawan, kau pikir kau akan melawan seekor semut yang mudah ditindas?"
"Yang kau targetkan dalam satu jam penuh, tapi nyatanya apa?"
"Hahahaha, entah apa yang akan terjadi, semoga Bosmu tidak kebakaran jenggot kalau mengetahui orang suruhannya tampak menyedihkan berada di sini."
"Sayang sekali, kau malah berakhir di sini!"
"Bosku tidak akan mengampunimu, ucapkan saja selamat tinggal pada hidupmu!"
Darwin tersenyum smirk, dia duduk santai dihadapan Tomy yang sedang terikat di kursi.
Mengenang kembali kejadian beberapa jam lalu.
Flashback.
"Silahkan Mas!" ucap pelayan cafe Jash memberikan makanan dan minuman pesanan Tomy.
Braakkk...
Seketika segala yang ada di meja berhamburan jatuh ke lantai.
"Maaf Mas, duh gimana ini..." ucap seseorang tampak menyesal.
Tomy langsung saja mengemasi apa yang berserakan di lantai.
"Biar saya ganti Mas minuman dan makanan Mas yang tumpah." ucap seseorang itu.
"Tidak usah!" ucap Tomy.
"Oh, kalau begitu saya sungguh minta maaf Mas!" seseorang itu menyalami Tomy, namun Tomy menolaknya, dirinya tidak mau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Seseorang itu kemudian mengambil dompet dari sakunya, memberikan sejumlah uang pada Tomy, "Semoga bisa menggantikan kerugian Mas, mohon jangan di tolak, saya sangat merasa tidak nyaman, saya sedikit terburu-buru tadi, maaf!" ucapnya lagi.
"Tidak usah Mas!" tolak Tomy, dirinya curiga, pandangannya tidak lepas dari seseorang itu, bisa saja kan orang itu adalah orang suruhan lawannya.
Pembawaan yang supel, sebenarnya semua gerak-gerik orang itu sudah terekam dengan mata Tomy, tidak terjadi apapun, tapi sayangnya dirinya tetap harus waspada. Jadi usahakan untuk tidak menerima apapun yang orang lain berikan, mungkin itu bisa meminimalisir segala kemungkinan yang ada.
Dirinya sudah membekali pikirannya, sudah diperingatkan oleh Bosnya bahwa yang kali ini dirinya targetkan bukanlah orang biasa, jadi jangan sampai tertipu.
"Mas baik sekali!" ucap seseorang itu.
Tomy tersenyum, "Silahkan pergi!" ucapnya.
Seseorang itu sedikit tersentak seolah tidak percaya akan pengusiran yang dilakukan Tomy, tapi kemudian tersenyum dan berlalu pergi.
Saat berada di jarak satu meter dengan cepat seseorang itu menjentikkan sesuatu dengan jarinya.
__ADS_1
Sesuatu yang berukuran lebih kecil dari nyamuk itu sudah hinggap di leher belakang Tomy.
Tomy yang merasa seperti ada serangga menempel di lehernya itupun langsung saja menampar leher bagian belakangnya.
Plak!
Sukses, jarum kecil berisikan obat bius itu sudah berhasil menancap sempurna di leher Tomy tanpa dia sadari.
Hanya menunggu hitungan detik saja, semuanya berjalan seperti kehendak Jason, Tomy tumbang tidak sadarkan diri.
Flashback off.
"Hay Mas, seharusnya kau menerima uang pemberianku supaya pekerjaanku lebih mudah, tapi tidak masalah, aku masih punya banyak cara untuk membawamu kesini." ucap Darwin sembari membuka topi dan maskernya. Hingga terpampanglah wajah yang mungkin saja pernah Tomy temui, atau baru saja yang pernah Tomy perhatikan.
Mata Tomy membulat, bagaimana bisa.
"Biar kuberi tahu, yang kau kira nyamuk di lehermu itu adalah jarum bius." Darwin nyengir kuda, "Kau pikir orang biasa sepertimu bisa masuk ke dalam dunia kami, heh membayangkannya saja kau tidak akan mampu! Hahahaha!"
"Sraakkkk" Darwin melepaskan lakban yang menutupi mulut Tomy, hingga Tomy bisa mengeluarkan suara untuk memberontak.
Tomy meringis menahan sakit, namun Darwin tidak perduli.
"Sialan!" umpat Tomy, sudah lama dirinya ingin meneriaki pria di hadapannya itu.
"Hahahaha." gelegar tawa Darwin tidak bisa dirinya tahan.
Tak tak tak, bunyi sepatu dari langkah kaki seseorang mendekat, Tomy menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seseorang yang tadinya ia incar, Jason Ares Adrian.
"Good Job, bagianmu! Terserah mau kau apakan dia" ucap Jason.
Yah baginya dirinya tidak perduli mau diapakan seseorang mata-mata ini oleh Darwin, mau dibunuh dan diambil bagian organ tubuhnya pun tidak masalah, selama Darwin tidak melibatkannya.
"Sialan!" umpat Tomy yang kesal mendengar penyataan Jason.
"Sialan!" ulang Jason dengan nada yang sama persis.
"Kalian akan membayarnya!" ucap Tomy lagi.
"Kalian akan membayarnya!" ulang Jason lagi.
"Lepaskan saya!"
"Lepaskan saya!"
"Terkutuk!"
"Terkutuk!"
Tak lama ponsel Tomy yang ternyata berada di tangan Jason berbunyi, Jason mengangkat panggilan itu dan mengklik icon loudspeaker.
^^^"Dimana kau?"^^^
__ADS_1
Jason tersenyum miring, Darwin memasangkan kembali lakban yang menutup mulut Tomy tadi.
Tomy meronta-ronta di kursi, satu-satunya harapannya adalah memberitahukan bahwa misinya gagal, dirinya ketahuan dan bahkan sedang disekap saat ini.
"Aku sudah menyelesaikan bagianku!"
Ucap Jason santai. Tomy tidak percaya, bagaimana bisa suara Jason begitu mirip dengan suaranya.
^^^"Ya, seharusnya memang begitu, aku yakin kau bisa diandalkan!"^^^
"Giliranmu Tuan Gilbert!"
Ucap Jason lagi, Tomy menggeleng tidak percaya, siapa yang menyangka dalam sekejap Jason sudah bisa menirukan persis sekali suaranya.
Dia iblis, dia akan menghancurkanku, seharusnya aku tidak berurusan dengannya...
Tomy bergumam dalam hatinya, tidak setelah ini dirinya bahkan tidak tau apa yang akan terjadi dengan hidupnya, keluarganya, betapa menyedihkannya nanti.
"Jangan libatkan aku, aku tidak mau melakukan pekerjaan haram lagi, istriku bisa membunuhku jika tau aku berada di sini!" ucap Jason pada Darwin.
"Siap Bos!"
Sudah ada yang ditakuti ternyata sekarang, hahaha dasar Bos bucin...
Jason kembali ke cafe untuk menemui istri dan anak-anaknya, gara-gara adanya mata-mata yang menyelinap di cafe istrinya, dirinya harus menuntaskan itu dan menunda makan siangnya.
Namun saat di dalam mobil dirinya teringat akan sesuatu, gara-gara terlalu serius menghadapi masalah, Jason bahkan lupa ada dua anak manusia yang pastinya akan sangat kelaparan di dalam ruangannya.
Jason mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Ben.
"Kau urus konsumsi untuk Roy dan Shakira, mereka belum makan!"
^^^"Baik Bos!"^^^
Mobil mulai merayap, Jason menghela nafas di sela dirinya mengemudi, bagaimanapun dia tidak mengetahui kabar terbaru dari Papanya, entah masih di desa terpencil itu ataukah sudah kembali ke rumah.
Ingin menelpon dan menanyakan kabar, namun itu bukan sifat Jason, dirinya akan sangat merasa canggung, mengingat dirinya pernah memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang tuanya, dan sampai saat ini pun sebenarnya masih sama.
Dirinya sudah memutuskan untuk tidak akan membalas dendam, karena sebenarnya tanpa dirinya membalas dendam pun, musuh keluarga Adrian bisa dipastikan akan hancur dengan sendirinya jika sudah berani berhadapan dengannya.
Setelah melihat hasil temuan Roy dan Shakira nanti, barulah dirinya akan bertindak.
"Mari kita lihat, siapa yang lebih berkuasa Tuan Payah!"
Bersambung...
*
*
*
__ADS_1
Like, koment, and Vote !!!