
"Ini dari Jason, kok dia bisa tau kita tinggal disini" heran Pak Safar, saat seseorang mengantarkan sebuah undangan pernikahan Jason Ares Adrian, ia rasa ia tidak akan bisa bertemu langsung lagi dengan sahabat anaknya itu.
"Nah itu, aku belum ada cerita sama Bapak dan Ibu, jadi aku itu pas kemaren mau ke rumah sakit, motor aku malah nabrak mobilnya Jason, awalnya aku nggak kenal dia soalnya dia pake masker sama topi gitu, taunya pas nanya-nanya ya gitu aku aja nggak nyangka bisa ketemu dia lagi secara langsung" jelas Dareen.
"Oohh yang katamu motormu rusak itu karena nabrak, tapi kalian semua nggak papa kan, Sri Dareen ?" tanya Bu Halima.
"Alhamdulillah nggak papa Bu, Mas Jason juga yang bayarin biaya rumah sakit Fahira, kata Mas Dareen sih gratis" ujar Sri menambahkan.
"Iya, ada untungnya juga punya teman tajir" ucap Dareen.
"Lah iya, nah kapan itu Pak acaranya, harus dateng kita nanti ?" tanya Bu Halima pada suaminya.
"9 Juni Bu" jawab Pak Safar.
"Dareen perasaan Ibu nggak pernah dengar gosip tentang si Jason itu di TV, tentang wanita mana yang dekat sama tuh anak, tapi ini kok akadnya sudah sekitar empat bulan yang lalu" tanya heran Bu Halima saat ia sudah membaca surat undangannya.
"Nggak tau Bu, Ibu ini keseringan nonton gosip kayaknya jadi ikutan julid juga" ucap Dareen.
Yah benar, Bu Halima memang tidak pernah meninggalkan sholat dan ibadah lainnya, namun ia juga salah satu penyuka tayangan infotainment di TV, apa lagi tentang Jason karena ia merasa dulu keluarga mereka sangat dekat dengan Jason Ares Adrian anak tetangganya dulu, bahkan ia pernah menyuapi pemuda itu makan sehingga ia merasa perlu mengidolakan Jason saat Jason sudah seterkenal sekarang.
"Ya bukannya gitu Dareen, Ibu tidak ada julid sama sekali, Ibu cuma heran aja kenapa tiba-tiba dia menikah, masih muda lagi" ujar Bu Halima beralasan.
"Ya sama aja Bu" ucap Pak Safar dan Dareen bersamaan.
Sementara Sri, ia baru mengetahui kalau Jason itu ternyata artis, karena saat ia bertanya siapa Jason pada suaminya, suaminya waktu itu menjawab gak usah tau nanti juga tau sendiri. nah benar kan ia sekarang sudah tau.
Shirleen sedang berada di cafenya, saat insiden penyerangan karyawannya terjadi, bukan tanpa alasan karyawannya di serang, hanya saja alasannya sederhana dan lebih terlihat konyol, karena salah satu pelanggan cafenya merasa tidak terima karena tidak mendapatkan promo red velvet dessert yang setiap pembelian dua pcs maka akan mendapatkan bonus berupa rantang bermerk paling digilai ibu-ibu setanah air.
Ia merasa tidak puas karena sudah pesan via online di hari kemarin namun ternyata promonya sudah berakhir pada jam 21.00 malam kemarin.
__ADS_1
Karyawannya menegaskan kalau pemesanan via online terkhusus untuk red velvet dessert tidak akan dilayani sejak dari 3 hari sebelum promo berakhir, di brosur maupun iklan online sudah tertulis syarat dan ketentuannya, namun pelanggan yang di ketahui bernama Erniawati itu masih tetap tidak terima.
Sehingga ia menyerang salah satu karyawan cafe dan mengakibatkan luka ringan di tangan karyawan tersebut.
"saya nggak mau tau, panggil itu manager kamu, saya mampu beli, sepuluh kotak juga saya mampu beli" ujarnya garang menyombongkan diri.
"Tapi Bu, komplain ibu tidak akan di terima, disini sudah tertulis ketentuannya"
"Panggil dulu manager kamu, siapa sih yang gak mau duit, kalau saya beli sepuluh nggak mungkin dia nggak nanggepin" bentaknya.
"Gimana Pri" tanya karyawan lainnya, mereka mencoba berdiskusi.
"Ya udah panggil aja ibu kesini, nanti suruh si Sarmi jagain si ganteng"
"Semoga aja Bos Muda nggak tau" ujar Ririn sembari melihat ke arah cctv yang terpasang.
"Iya udah, cepetan, ini ajak si Sarmi"
"Selamat siang Ibu, mohon maaf atas ketidaknyamanannya, ada yang bisa kami bantu ?" ujar Shirleen ramah.
Wanita bernama Erniawati itu tercengang kala mendapati Shirleen yang ternyata menjadi manager di cafe tersebut, ia tersenyum smirk merasa menang, menurutnya ini adalah sebuah kesempatan bagus, ia bisa memulai drama supaya Shirleen yang menurutnya hanya bekerja di cafe itu bisa di pecat.
"Kamu itu gimana sih, saya sudah teriak-teriak sedari tadi, kamu malah baru nongol sekarang, dimana tugas dan fungsi kamu sebagai manager di cafe ini" ucapnya seperti begitu terbawa emosi.
"Maaf Ibu, sebenarnya apa keluhan anda, biar kami bisa segera memperbaiki ketidaknyamanan ini" Shirleen masih sangat ramah, jangankan hanya menghadapi ulat bulu seperti ini, sewaktu menghadapi Athar dan madunya saja ia tetap bisa begitu tenang.
"Saya mau pesan sepuluh redvelvet dessertnya, walau kata dia promonya sudah berakhir tapi saya bisa bayar lebih, saya nggak mau tau yang penting saya bisa dapetin lima rantang cantik kemaren" ujar Erni mengutarakan keinginannya.
"Saya juga kemaren sudah pesen via online, seharusnya saya masih dapat, promonya kan baru berakhir semalam" tambahnya masih tidak mau kalah.
__ADS_1
"Mohon maaf Ibu, bukannya sudah di jelaskan syarat dan ketentuannya, untuk pemesanan via online tiga hari sebelum promo berakhir memang tidak akan dilayani, kami harus mengutamakan pelanggan yang pesan via offline" sanggah salah satu karyawan.
"Udah diem kamu, dari tadi ngomongin itu mulu, saya nggak peduli" ketus Erni.
Shirleen tersenyum ramah "Apa promonya benar sudah berakhir Rin" tanya Shirleen pada salah satu karyawan cafenya.
"Sudah Bu"
"Mohon maaf Ibu, promonya sudah berakhir nanti kalau ada promo berhadiah lagi pasti akan kami iklankan, apa Ibu mau pesan dessert yang lainnya"
"Saya mau yang promo ini kemaren, ini saya beli sepuluh" imbuhnya masih tetap ngeyel sembari memberikan uang satu juta dua ratus ribu rupiah dengan kasar pada Shirleen.
"Saya harus apa lagi Bu, apa Ibu tidak mengerti bahasa kami, kalau ibu mau menunjukkan ibu adalah orang berpunya tidak seperti ini seharusnya, promonya sudah berakhir Ibu, terima kasih sudah belanja, maaf jika Ibu merasa kurang puas terhadap layanan kami" ucap Shirleen masih sangat sabar dan mencoba seramah mungkin, ia lalu mengembalikan uang yang diberikan Erni tadi.
"Ayo kalian semua kembali bekerja" lanjutnya lagi, lalu ia meninggalkan Erni yang tampak melongo dengan perkataannya.
"Kurang ajar, hei Shirleen, gak usah sombong ya, aku bisa bikin kamu dipecat secara tidak hormat dari pekerjaanmu ini, baru jadi manager aja kamu ini belagunya udah minta ampun" hardiknya mengatai Shirleen.
Shirleen menghentikan langkahnya, ia menoleh ke sumber suara yang nyaring nan memekakkan telinga tersebut, tersenyum ramah pada salah satu dari mereka yang tidak tau apapun tentang hidupnya, ia sudah tau ini akan terjadi saat yang dihadapinya adalah Erni teman masa SMAnya dulu, pasti ia akan di rendahkan lagi, namun biarkanlah, biarkan saja mereka hanya tau seperti yang mereka tau selama ini, untuk apa menjelaskan perihal hidupnya pada orang lain, untuk membungkam mulut orang yang telah menghinanya, bukan, itu bukan tugasnya, untuk apa repot-repot, biarkan dunia yang memberi tahunya nanti.
"Silahkan, jika saya harus berhenti maka saya akan berhenti" ujarnya kemudian berlalu pergi.
"Aarrgggghh, kalian semua, siapa yang punya cafe ini, beri tau aku siapa ?" tanyanya pada karyawan yang menatap heran padanya.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...
__ADS_1
Happy reading !!!