Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Bonchap #4


__ADS_3

"Dia sudah begitu banyak menderita Bun!" ucap Afik, dipandanginya foto masa kecilnya dengan Zalin.


"Zalin, kesayanganku!"


"Ini semua musibah, beruntung saja Zalin masih hidup Bang!"


"Aku mau menikahinya Bun, Abang nggak mau kehilangan Zalin lagi." tanpa ragu Afik mengutarakan niatnya.


"Bang, menikah itu bukan perkara gampang, apalagi setelah sekian lama, Zalin tidak mengingat kita, tunggulah sebentar." bujuk Zalfa.


"Bun... Sudah cukup aku menanggung perpisahan dengannya, berpisah karena kematian, itu yang selama ini ada dalam benakku, hal yang sangat tidak mungkin untuk aku bersamanya lagi. Namun kini, apa? Dia datang di kehidupanku, aku tidak akan membiarkannya, tidak peduli ini singkat ataupun terlalu cepat, aku akan menikahinya sesegera mungkin!" Afik juga tetap pada pendiriannya.


"Bang, Zalin tidak akan mengerti!"


"Serahkan saja padaku!"


Zalfa menghela nafasnya, memang benar tentang apa yang dikatakan putranya, bahkan selama ini Afik tidak pernah terlibat hubungan dengan gadis manapun, sering kali Zalfa melihat Afik masih setia memandangi foto masa kecilnya dengan Zalin, jika bukan karena cinta, lalu kata apa yang lebih tepat untuk menggambarkan setiap perlakuan khusus itu.


...***...


"Kesehatannya cukup baik, aku selalu berdoa untuk kebaikan putramu!" ujar Dokter Eri, dirinya, Jason, dan Shirleen baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


"Terimakasih, sudah membantu sejauh ini!" ucap Jason.


"Aku pamannya, dia bagai anakku juga!"


"Tapi, tetap saja, usahakan untuk tidak membuat baby Jio menangis terlalu lama, jangan sampai membuatnya letih."


"Iya Dokter!"


"Semoga kalian selalu bahagia!"


Jason dan Shirleen pamit pulang, membawa Jio yang baru saja selesai kontrol.


"Maafkan Papa Nak!" ucap Jason lirih kala mereka sedang berada di parkiran.


"By, kau selalu saja meminta maaf pada Jio, kau tidak melakukan kesalahan By, kau sudah berusaha menjadi ayah yang paling baik, jangan terlalu menyalahkan diri atas apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan, ini adalah kehendak Tuhan, sudah takdir." ucap Shirleen, semenjak dari Jio lahir hingga kini berumur satu bulan, Jason tiada hentinya berucap maaf setiap kali memandangi putranya.


"Aku merasa telah gagal menjadi orang tua By!" ucap Jason. Pemuda itu membelai lembut pipi putranya, Jio berbeda, bayi itu tampak lemah, pipinya tidak segembul Jill, badannya tidak sesehat Jill, Jason bisa melihat itu. Entah hanya ketakutannya saja, atau mungkin karena Jio memang menanggung kesakitan.


"Dia pasti sembuh By!" Shirleen lagi-lagi meyakinkan Jason.


Jason menghela nafasnya berat, lalu menghidupkan mesin mobil kemudian berlalu meninggalkan parkiran.


Kau tidak tau By, penyesalan itu akan aku bawa di seumur hidupku, aku berjanji akan membahagiakan kalian, aku berjanji, sudah cukup aku menjadi papa yang buruk waktu itu, untuk kedepannya, tidak akan pernah lagi.


"By, aku boleh nanya?" tanya Shirleen.


"Tanya saja, kenapa?"


"Semalam, Dira, pengasuh Jill, melihat bayang hitam di rumah kita. Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?"


"Menyembunyikan sesuatu? Maksudnya?"

__ADS_1


"By, sebenarnya, apa ada orang lain selain kita dan pengasuh di rumah?" tanya Shirleen penasaran.


"Jangan penasaran, bilang saja pada mereka untuk jangan mempedulikannya!" jawab Jason.


"By, ini sudah lama sekali, tapi kau tetap tidak mau menjawab kebenarannya!"


"Memangnya aku harus menjawab apa? Memang tidak ada siapapun di rumah kita selain orang-orang yang sudah kita pilih." jawab Jason, masih begitu santai, tidak peduli dengan Shirleen yang begitu puas berpikir, menebak-nebak sebenarnya apa yang selama ini terjadi.


"Kau juga sudah membuktikannya kan, bahkan..."


"By, semuanya tampak bersih saat aku bangun subuh hari, bayang hitam yang sudah berapa kali aku lihat, bukan hanya aku, Ipah juga pernah, dan kemarin Dira, jawab saja apa susahnya sih!" kesal Shirleen, apa sebegitu rahasianya hingga Jason tidak mau menjawabnya?


"Kau mau tau jawabannya?" tanya Jason, wajahnya ia buat mulai serius.


"Kalau kau ingin menjawabnya, aku akan dengarkan!"


Hening,


Jason diam lagi, Shirleen mendengus kesal, Jason lebih baik diam dari pada menjawab pertanyaannya.


"By..." rengek Shirleen.


"Iya!"


"Jawab!"


"Jawab apa?"


"Ihhh, ya udah deh kalau nggak mau jawab." kesal Shirleen.


"Kau benar mau tau jawabannya?" tanya Jason.


"Sudahlah, lupakan saja!" jawab Shirleen yang sudah terlanjur kecewa.


"Hehe!" Jason tergelak kecil, "Sebaiknya jangan tau, biarlah menjadi urusanku, aku akan katakan pada bayangan itu jangan menakuti orang-orang di rumahku dengan kehadirannya yang tiba-tiba!" ucap Jason dengan masih tergelak.


"Seneng banget bikin orang penasaran!" gerutu Shirleen pelan, namun masih bisa didengar oleh Jason.


"Panggil Ipah ke sini!" titah Jason.


"Kenapa?" tanya Shirleen.


"Panggilkan saja dulu!"


Shirleen memanggil Ipah yang ternyata sedang berada di kamar anak sulungnya.


"Kau jaga Jio sebentar, aku dan Shirleen ada urusan." perintah Jason saat Ipah sudah menghadapnya.


"Baik Tuan Muda!"


Jason membawa Shirleen keluar rumah, menaiki mobil kemudian bergegas melajukan mobilnya.


"Sebenarnya kita mau ke mana By?" tanya Shirleen semakin bertambah penasaran, sikap yang tidak mau tau Jason membuatnya seketika geram sendiri.

__ADS_1


"Katanya mau tau jawaban dari bayang-bayang hitam!" jawab Jason santai.


"Iya, tapi kan bayang hitamnya di rumah, ini kita udah diluar nggak tau mau ke mana?" protes Shirleen.


Sekitar sepuluh menit berlalu, akhirnya mobil Jason berhenti di sebuah minimarket.


"Ayok turun!" pinta Jason.


"Kenapa ke sini?"


Jason tersenyum manis, pemikiran Shirleen tidak akan pernah sampai jika dirinya hanya sekedar menjelaskan. Jason memegang tangan istrinya dan lalu mulai melangkah menuju belakang minimarket itu.


"Kau ingat?"


"Apa?"


"Kau pernah menurunkan aku di depan minimarket ini!" Jason lagi-lagi tersenyum, kenangan itu selalu membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.


"Yah, saat kau menyumpahiku jadi janda, dasar berondong sialan, kena kan sumpahnya!" Shirleen mengubah ekspresi wajahnya, seolah-olah dirinya benar sedang kesal.


"Jadi... Bu Shirleen, Ibu sudah membuktikan betapa Tuhan pun berpihak pada saya!"


"Hei, percaya diri sekali anda Pak!"


"Hehe!" keduanya tergelak bersama, Jason membuka sebuah pintu yang berada tidak jauh dari bangunan belakang minimarket itu.


"Astagaaahh!" Shirleen menutup mulutnya tidak percaya.


Jason melangkah lebih dahulu meninggalkan Shirleen yang masih belum tersadar atas keterkejutannya.


Sebuah rumah bawah tanah, dengan tatanan yang begitu rapi, apakah ini juga milik suaminya?


Shirleen segera mengikuti Jason, belum hilang keterkejutannya saat pintu ruangan itu terbuka, lagi-lagi Shirleen dikejutkan oleh beberapa orang berpakaian hitam, dan yang lainnya berpakaian biasa. Shirleen tidak menghitung berapa banyak orang yang berada di rumah bawah tanah itu.


"Selamat siang Tuan Muda!" ucap semua orang di situ serempak.


"Istriku sungguh penasaran dengan kalian, katanya dia mau kenalan!" kata Jason mengutarakan tujuannya datang kali ini.


"Di mana Rasya?"


"Tuan Rasya sedang mengunjungi istrinya, mungkin akan pulang saat sore hari." jawab salah satu pekerja Jason.


"Jadi..." Jason menatap Shirleen.


"Maafkan kami semua Nona, jika kami mengganggu kenyamanan Nona di rumah utama, kami akan lebih berhati-hati dan sebisa mungkin tidak menampakkan diri!" ucap pria paruh baya yang saat ini sedang memakai pakaian serba hitam.


"Mengapa kau tidak bilang By, kau membuatku takut!" bisik Shirleen.


"Kalian semua, dengar! Istriku ketakutan karena kalian kurang berhati-hati sehingga sering kali menampakkan diri, kalian tau akibatnya!"


"Kami semua siap menerima hukuman Tuan Muda!" jawab mereka serempak.


Mata Shirleen membulat, "Apa maksudnya, mengapa kalian harus menerima hukuman?" tanyanya.

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2