
"Udah boleh kan kita kesini ?" ucap Angga, malam sudah semakin larut, ia dan Afik sedang berada diparkiran sebuah Bar, usia 18 tahun untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke tempat laknat semacam ini, ingin mencari suasana baru rencananya.
Afik mengangkat kedua bahunya, entahlah rasanya begitu menggelikan, apa sih yang mereka cari disini, calon istri, apa ada calon istri yang baik ditempat seperti ini.
Tidak-tidak, keduanya hanya ingin bersenang-senang, tidak ada salahnya kan.
Keduanya pun masuk, gemerlap remangnya lampu menyamarkan penglihatan mereka, kemolekan tubuh wanita nampak menggoda iman berlalu lalang, ada yang sedang berjoget riang, ada yang sedang santai bebincang, bahkan ada yang sudah tidak sadarkan diri, aroma alkohol begitu menusuk hidung keduanya, Afik sedikit jijik namun juga menikmati.
Mereka duduk di salah satu sofa yang masih kosong, wajah tampan serta pakaian modis tidak salah kalau keduanya langsung saja di goda oleh ja*ang yang memang sedang bertugas.
"Sepertinya kalian baru saja kesini, mau kami temankan ?" tanya wanita malam berpakaian dress sexsoy blink-blink warna maroon mencoba mendekat, meraba dada bidang Angga.
Angga menatap geli wanita yang sama sekali bukan seleranya itu.
"Sepertinya kita salah tempat deh Ga." ucap Afik.
Angga menghela nafasnya, pengalaman yang lumayan buruk. Ternyata mereka tidak ada feel kearah sini.
"Ayolah Beib, jangan tegang begitu, relax, mari happy-happy disini." ucap wanita yang lainnya menggoda Afik.
Afik mencoba menetralkan kecanggungannya, ia memiringkan sudut bibirnya, menjijikan. Lalu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bersikap cool dan seolah tidak perduli, menjentikkan jarinya mengisyaratkan wanita-wanita malam itu untuk pergi.
Ada yang beringset mundur, ada juga yang kesal dengan pengusiran yang dilakukan Afik.
"Kita nikmati saja, kelihatannya tempat ini lumayan bagus kalau nggak ada ulat bulu." ucap Angga, setelah para wanita Bar itu pergi.
Afik dan Angga memerhatikan sekeliling, lalu memesan minuman pada pelayan yang lewat, cukup Jus saja tidak ada embel-embel alkohol, sungguh mereka memang remaja teladan.
"Lo liatin apaan sih ?" tanya Angga pada Afik, yang matanya nampak memandang satu arah.
"Lo liat deh tuh cowok, gue tadi dideketin ulat bulu aja langsung merinding, dia bilang relax baby, kok gue jadi kayak korban pelecehan seksual gitu, hahahaha." ucap Afik, ternyata ia sedang melihat seorang pria yang tengah duduk tak jauh dari mereka, dikelilingi para wanita malam dan nampak begitu sangat berbahagia.
__ADS_1
"Sementara tuh cowok, ah apa nggak pegel itu anunya ?" lanjut Afik lagi.
"Kita termasuk culun nggak sih kalau disini, menurut lo iya kan" ucap Angga meremehkan dirinya sendiri.
"Mainnya kurang jauh Pak." sambung Afik.
"Haaah, setelah ini kuliah, Jason malah mau kuliah online aja karena Kak Shirleen bunting lagi, lo ngerasa ada yang kurang nggak sih kalau kita lagi bedua gini ?" tanya Angga, jujur ia merasa hampa saat ini.
"Junedi sama cebong gak bisa diajak main lagi, sama lo doang seru sih bahkan kita seringnya emang kemana-mana berdua, tapi tetep aja nggak ada tuh para manusia es batu keknya kurang lengkap, ibarat bubur ayam tanpa mangkok." jawab Afik, menebak isi pikiran Angga, nyatanya ia dan Angga sama-sama sedang merasakan kehampaan itu.
"Padahal tuh para bucin udah janji, kalau lulus SMA maunya barengan ke tempat laknat gini, eh gak sesuai rencana banget."
"Sayang sekali mereka harus tobat sebelum memulai jadi pendosa." ucap Afik lagi, ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Lo mau nyobain minum alkohol ?" tanya Angga, ia melihat pelayan di yang hilir mudik mengantarkan minuman, kali saja Afik mau sesuatu yang berbeda.
"Kata emak gue alkohol itu baik sih buat kesehatan, tapi buat obat luar bukannya obat dalem." ucap Afik sok-sokan.
"Eh betewe gue ke Toilet dulu yaaa, lo sini aja liat paha." ucap Angga lagi.
"Sialan lo."
Angga menuju Toilet, sebenarnya dari tadi ponselnya terus saja bergetar, ia ingin mengangkat telpon tapi ditempat ini terlalu bising.
Praanggg praaangg,
Afik mengedarkan pandangannya, cukup jelas namun karena suara musik yang juga berdentum membuat ia menajamkan matanya untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ternyata seorang cewek tengah memaki pria yang tadi dilihatnya, ia pun mendekat, samar ia mendengar bahwa ternyata cewek yang tampak seumuran dengannya itu adalah pacar dari si pria brengsek.
Afik tidak perduli, drama perselingkuhan sudah biasa terjadi dalam dunia berpacaran, Angga sering melakukannya saat sahabatnya itu tidak bisa mendapatkan feel setelah tiga bulan lamanya berpacaran, maklumlah Angga terkenal dengan pacaran tiga bulanan.
__ADS_1
"Lo nggak mau sama gue lagi, oke senggaknya bilang, nggak dengan cara yang kayak gini, lo tau, lo itu kebanggaan bagi orang tua gue, sementara lo dengan nggak tau malunya di tempat ini dengan begitu menjijikan dikelilingi para ja*ang." si wanita mulai murka.
"Gue udah muak sama lo, lo itu cuma anak manja yang dikit dikit semua keinginannya harus diturutin, oke besok gue bakalan kerumah lo dan batalin rencana pertunangan lo sama gue, biar keluarga lo bangkrut sekalian, heh lo yakin setelah apa yang udah lo lakuin ke gue lo masih bisa bernafas seperti biasanya ?" si pria juga nampak marah.
Brakk...
Pria itu terpental didorong si wanita membuat sebuah meja bergeser, dengan sigap langsung saja si wanita menginjak otong si pria dan itu berhasil membuat Afik yang melihatnya menjadi sedikit ngilu.
"Ini dari anak manja, kalau lo mau gue bisa jadi anak bangsat untuk serangan ke dua kalinya." ucap si wanita.
Namun beberapa detik setelah wanita itu mengatakan ucapannya, Afik melihat sebuah tangan kekar hendak menampar wanita itu, mungkinkah manusia bertubuh gempal berotot dan tegap itu adalah pengawal si pria, pikirnya.
Bugh bugh bugh, dengan bringas Afik memukul pria berotot tersebut, tangannya lumayan sakit namun dari pada harus melihat seorang wanita dipukul ia lebih tidak tega.
Beruntung si pengawal hanya berjumlah dua orang, jadi ia masih bisa menghadapinya, tidak sia-sia pelatihan bela diri yang diajarkan coachnya setiap sore jumat. Meski lawannya adalah dua orang yang lumayan kuat, namun ia tidak kalah karena ia berkelahi menggunakan trik bukan hanya adu kekuatan.
Si wanita nampak gelisah karena seseorang yang telah berani ikut campur masalahnya kini tengah menghadapi dua orang bak raksaksa, mencari jalan aman, ia menarik paksa tangan Afik menuju keluar Bar, ia membawa Afik ke mobilnya, dan segera melajukan mobilnya untuk kabur.
"Lo siapa sih, sok-sokan jadi pahlawan ?" tanya si wanita pada Afik.
Afik meringis sedikit menahan sakit kala di dadanya bak seperti terbentur benda keras, agak sedikit menyesakkan karena jujur saja lawannya tadi cukup berbahaya.
"Lo gila ya, dibantuin bukannya makasih ?" ucap Afik kesal.
"Yeee, lagian siapa jua yang minta bantuan sama lo, gue bisa sendiri ngadepin itu orang, lo malah tiba-tiba nyerang orang nya si brengsek." ucap si wanita lagi.
"Cih dasar nggak tau di untung." umpat Afik.
Bersambung...
Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...