Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Referensi ena ena


__ADS_3

"Athar, hari ini pokoknya aku mau ibu pindah rumah sakitnya, kalau kamu gak mampu bawa ibu berobat ke luar negeri seenggaknya kamu harus kasih perawatan terbaik dong buat ibu disini, gimana sih gak ada usaha sama sekali"


^^^"Kak, nanti kita bicarain lagi gimana baiknya, aku lagi kerja ini"^^^


"Ck, ya udah deh, nanti pulang kantor kamu langsung kesini, aku gak. mau tau, ibu harus segera dipindahin ke rumah sakit terbaik di kota ini"


^^^"Iya iya*"^^^


Athar menghela nafasnya berat, uang lagi pikirnya.


Dimana lagi ia harus mencari pundi-pundi rupiah, saat ini tiap hari hidupnya benar-benar seperti orang kaya sungguhan, mengeluarkan uang dalam jumlah yang tak sedikit dan selalu habis dalam sekejap. sayangnya bukan untuk berfoya-foya, tapi untuk kesehatan istri dan ibunya.


Dreeeetttt Dreeeettttt Dreeeetttt


Ponselnya kembali berbunyi, kali ini Suminem lagi. Dengan berat hati Athar mengangkat telpon dari Suminem, walau ia sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan pembantunya itu.


^^^"Hallo Tuan, Nyonya Riana harus segera di amputasi, kalau tuan sudah setuju, emmm kata dokter operasinya bisa dilakukan walau Tuan tidak bisa kesini, jadi saya harus bagaimana ?"^^^


"Baiklah, amputasi saja, aku memang tidak bisa kesana Nem untuk saat ini, nanti untuk biayanya kamu kirim saja notanya, saya akan transfer."


^^^"Baik Tuan"^^^


Athar memejamkan matanya, ingin sekali ia berharap bahwa apa yang ia lalui saat ini hanyalah mimpi, namun inilah kenyataannya.


Ia sudah sampai ke lokasi tempat pengadaan bahan baku, ia meninjau segala yang diperlukan, mengecek kualitas, tidak diragukan ASA group memang selalu tepat dalam menangani sebuah proyek, sesempurna ini.


"Pak Athar..."


Sebuah tepukan hangat dilayangkan oleh teman sekantornya.

__ADS_1


"Ya..."


"Bisa kita bicara, tapi tidak disini"


Athar mengkedutkan keningnya, untuk apa bicara sembunyi-sembunyi pikirnya, namun ia tetap menurut dan mengikuti langkah Rudi si manager keuangan.


Di sudut kantin sekolah, empat anak manusia sedang saling tatap, tidak tidak, lebih tepatnya tiga anak manusia nampak mengintrogasi satu lainnya, namun yang ditatap nyalang malah seolah santai saja tak berekspresi.


"Lo, mantan perjaka ?" pertanyaan nyeleneh keluar dari si mulut cabe Afik.


Jason tidak menanggapi, ia lebih memilih menikmati semangkuk bakso pesanannya dengan wajah datar khasnya, ia nampak santai seolah tidak ada yang bicara padanya, ia sama sekali tidak terganggu.


"Dari cara lo kissing, beuh gue yakin nih anak Mama Mila pasti udah diperjakaain sama tante Shirleen" mulut lemes Angga mulai bersaksi.


Angga dan Afik masih menunggu jawaban dari tersangka yang sedang mengunyah baksonya. Jason belum juga bereaksi hingga membuat ketiganya jengah.


Jason menautkan alisnya, perlukah ia mengkonfirmasi sejauh mana hubungannya dengan para titisan iblis dihadapannya ini.


"Gue gak sebejat itu" ucap Jason, namun sayang sekali, rupanya jawaban singkatnya justru mematahkan fantasi ketiga makhluk minim akhlak yang sejak tadi memikirkan hubungan ia dan Shirleen, yang menurut mereka pastinya sudah ditahap *** ***.


"Yaaahh" dengus ketiganya, penonton kecewa pemirsah.


"Gue gak yakin, otak mesum kek lo gini mampu nahan"


"Shirleen kan jendes, bunting lagi, gak ada salahnya kali, aman aman aja gak bakalan ninggalin jejak, gue gak yakin apa lagi liat yang panas di bioskop kemaren"


Jason menggeram, semudah itu para bangsat dihadapannya ini ternyata memandang Shirleen.


"Gue hanya akan minta saat memang sudah waktunya" ucapnya dingin.

__ADS_1


Ketiganya merinding melihat tatapan nyalang Jason yang seakan mampu membelah jantung mereka, membuat yang ditatap bergidik ngeri berjamaah.


"Gue dukung lo, lo emang pria sejati Men" ucap Yudha menepuk pundaknya, memuji sekaligus menjinakkan api yang sebentar lagi akan meletup.


Melihat nafas Jason yang naik turun, membuatnya sadar sebelum api makan ilalang, ia harus sudah menyiramkan air, ini tidak bisa dibiarkan. Ialah yang paling waras diantara ketiganya.


Afik Dan Angga hanya bisa mangut menyetujui ucapan Yudha, leher keduanya terasa tercekik, hawa panas tiba-tiba menyeruak di ruangan yang padahal bernuansa outdoor full AC alami itu.


Niat ketiganya yang awalnya hanya ingin menanyakan referensi *** *** ala Jason, berujung tatapan kilat akibat mulut lemes yang asal nyablak.


Mereka tidak mengira, kalau Jason akan tersinggung seperti ini.


Mati gue, si kampret marah ini.


Lagian ngapain sih nanya tentang *** ***, niatnya buat referensi eh malah konflik gini kan.


Gue yakin ini, produk satu-satunya Mama Mila udah gak perjaka lagi ini, yang kemaren aja panas anjir.


Bersambung...


*


*


*


Like, koment, vote yaaa


Happy reading*** !!!

__ADS_1


__ADS_2