
"Eeehhh eemmm heeehh heeh eeennn eenn"
Tidak ada yang bisa mengerti dengan apa yang diucapkan Ibunya Athar, mulut miring itu mengisyaratkan ketakutan luar biasa, tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
"Eennn Heee eeehh"
Ia terus saja berusaha menggeleng, walau setengah dari kepalanya tidak berfungsi normal, matanya melotot melihat seorang wanita yang semakin mendekat kearahnya.
Ia ingin menghindar, tapi kaki dan tangannya tidak dapat berfungsi dengan baik, hingga membuat ia terjatuh di tepi pembaringan.
Wanita itu memegang tubuhnya untuk membantu, namun ia berteriak histeris dengan suara yang tak dapat dimengerti. Ia sungguh ketakutan.
Dengan kekuatan seadanya orang yang lumpuh, Ia meronta seolah ia tidak memerlukan bantuan. Namun karena wanita yang ia kira Shirleen itu sebenarnya adalah Riska, Riska tetap saja berusaha membantu ibunya itu.
Yah benar, Ibunya Athar begitu takut setiap melihat perempuan, baik itu perawat yang memeriksanya ataupun anak-anaknya, setiap wanita yang menemuinya pasti hanya ada bayang-bayang Shirleen yang ia lihat.
Chip itu bekerja dengan baik melumpuhkan kerja otaknya.
"Bu, Bu tenanglah ini aku, apa yang ibu takutkan"
Jelas saja, bukannya malah tenang, Ibunya justru kembali berteriak histeris dengan mengandalkan mulut miringnya. Bahkan kini ia sudah menangis karena ketakutan.
Ia benar-benar mengira Riska adalah Shirleen yang akan datang balas dendam dan menyakitinya.
Ia terus saja menunjukkan rasa takut yang teramat, membuat Riska harus memanggil perawat untuk segera menangani ibunya.
Perawat yang datang lalu menyuntikkan obat penenang pada ibunya, hanya itulah caranya jika ibunya sudah bertingkah begini.
Riska terdiam melihat wajah kesakitan ibunya, apa yang sebenarnya ibunya itu alami, kenapa selalu saja ketakutan jika melihat seorang wanita. Apa ada yang salah, tapi apa ?
Kini Ibunya telah kembali tertidur, ia bergegas menemui dokter untuk menanyakan langkah untuk merawat ibunya itu. Syukur-syukur ada keajaiban yang bisa menyembuhkan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa kau senyum-senyum By...?" Tanya Shirleen saat keduanya sudah selesai menonton film.
"Tidak apa, ada tiga monyet yang berlari terbirit-birit"
"Dimana?"
"Tik tok"
"Sejak kapan kau main tik tok"
"Sejak melihat monyet tadi, hahahaha"
Shirleen masih heran dengan kekasihnya itu, benarkah selucu itu vidio monyet yang lari terbirit-birit katanya itu.
Keduanya kini memilih makan disalah satu food court yang ada di mall tersebut, mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua.
"Abis ini mau kemana ?" tanya Jason yang saat ini sudah selesai makan.
Jika ditanya seperti itu, tentulah Jason hanya ingin dikamar berdua dengan Shirleen, namun mengingat seringnya ia hampir khilaf saat berdua, ia mengurungkan niatnya.
"Harimu" ucap Jason lagi.
"Mari kita kencan ala anak muda, biasanya anak muda kencan yang seperti apa ?" Tanya Shirleen yang lupa bahwa ini juga merupakan kencan pertama lelaki dihadapannya ini.
Jason mengangkat kedua bahunya. Ia juga tidak tau.
Ingin menanyakan pada petualang cinta diseberang sana, namun ia malu karena sudah membuat ketiga sahabatnya itu lari ngibrit menjauhi live scenenya.
"Habiskan makanannya" ucap Jason kemudian.
Shirleen menghabiskan makanannya, ia siap untuk kencan selanjutnya.
__ADS_1
Jason melanjukan mobilnya ke sebuah pedesaan yang tak jauh dari kota, menuju sebuah bukit yang dipenuhi kebun teh, Jason pikir akan indah sekali rasanya menikmati senja dari bukit yang sejuk ini.
"Wah, kau juga mengetahui tempat ini ternyata?" ucap Shirleen membuat Jason mengkerutkan keningnya.
"Kau tau tempat ini sebelumnya ?"
"Sangat"
Jason heran, dari mana kekasihnya tau tempat ini, bukannya kebun teh milik keluarganya ini tidak bisa dikunjungi sembarangan orang. Selain pekerja orang lain yang hanya ingin sekedar berkunjung tidak diperbolehkan lalu lalang menyusuri hamparan kebun teh ini.
"Dulu aku sering kesini, tapi saat rumah Bi Neneng pembantu kami kebakaran, aku tidak pernah lagi kesini, suaminya Bi Neneng itu dulu salah satu pekerja disini, kebun teh ini kan tidak bisa sembarangan orang masuk, tapi Paman Anca selalu mengajakku saat ia bekerja"
"Kau tau, aku selalu merepotkannya waktu itu, bukannya malah membantu, hahaha, andai saja Paman Anca masih hidup"
"Kami sekeluarga biasanya mengunjungi desa ini di akhir pekan, disana, ah benar disana coba kau lihat, dulu diarah sanalah jalan menuju rumah Bi Neneng, kalau rumah itu masih ada mungkin aku pasti akan mengajakmu pergi kesana"
Jason mematung, kini ada sesuatu yang telah terjadi pada hidupnya. Jantungnya marathon mendengar penyataan Shirleen. Benarkah.
Benarkah, mungkinkah ia orangnya...
Bersambung...
*
*
*
Like, koment, dan vote
Happy reading***...
__ADS_1