
"Selamat ya, lo akhirnya udah jadi Bapak beneran, anak kandung lo!" ucap Afik.
Afik dan Angga juga hadir di sana selang setengah jam Jason dan pasukannya sampai di rumah.
Mereka juga sudah mengetahui nama dari masing-masing bayi kembar itu.
"Iya, tapi mereka semua anak-anak gue kok!" ucap Jason, membenahi ucapan Afik.
Dirinya tetap mencoba berpegang teguh pada prinsip, Misca dan Jacob adalah juga anak-anaknya, di sini tidak ada namanya anak kandung ataupun anak sambung, bagi Jason keempat anaknya sama.
"Iyaaaaa, sensi amat langsung dikoreksi!"
"Betewe, semoga Jio baik-baik aja, lo harus positif dong, jangan lemah." ucap Angga. Mendengar kondisi kesehatan Jio saat dijelaskan Jason tadi, dirinya ikut prihatin.
"Iya lah, bener itu, jangan kalah sama pemikiran buruk." tambah Afik.
"Iya, gue nggak masalah sih, gue juga udah nerima kok, Jio pasti baik-baik aja, apapun akan gue lakuin buat kesembuhannya." ucap Jason.
Sebenarnya Jason bisa saja menerima kondisi Jio, dia juga tidak mengeluh, yang dirinya tidak bisa terima adalah bayang-bayang mimpinya, Jionya pernah sangat berharap dirinya bisa berbaikan dengan Adrian Papanya, namun apa? Jason seolah-olah terlambat mewujudkan keinginan bayinya itu.
Apa lagi, Jio pernah mengatakan dia akan lahir tidak normal jika saja Jason tidak menepati janjinya.
Hal itu selalu terkenang, tidak ada siapapun yang tau kecuali Roy, termasuk Shirleen pun tidak dirinya beri tau, Jason takut akan menambah beban Shirleen maka biarlah ketakutan dan penyesalan ini dirinya pendam dalam.
"Aku bahagia, apapun keadaan Jio, aku bahagia, Jio dan Jill adalah berkah bagiku, dia titipan Tuhan yang sangat harus aku jaga baik-baik, kedua anakku itu akan mewarisi sebagian wajah dan sifat dariku dan Shirleen. Aku akan menikmati prosesnya, proses tumbuh kembang mereka, mereka akan tumbuh dalam kehidupan seorang Ayah yang sangat menyayangi mereka."
"Misca dan Jacob juga, aku juga bahagia punya mereka."
Jason bergumam, membuat Angga dan Afik sejurus merasa kagum dengan sikap lapang dada sahabatnya itu.
"Halooooo, uncle Dareen datang ini!" pekik Dareen tiba-tiba. Sahabat Jason itu bersikap santai saja, dirinya juga telah mengabarkan pada Jason bahwa mereka sekeluarga ingin berkunjung.
"Jangan teriak-teriak, lo kira ini hutan!" protes Jason. Dirinya menghampiri Dareen yang tampak juga membawa istri dan kedua orang tuanya.
Sri, istri Dareen itu tampak kagum karena melihat rumah Jason yang kelewat mewah, ini pertama kalinya ia berkunjung, saat di pernikahan Jason kan dirinya dan Dareen hanya bertamu sebatas di halaman rumah saja, itupun sudah sangat luas naudzubillah.
"Selamat ya Bro!" ucap Dareen.
"Iya! Dan lo nggak niat nambah?" tanya Jason, dirinya bercanda sih, niatnya ingin menggoda Dareen.
"Udah, nih kecebong gue udah di dalem!" jawab Dareen tanpa malu. Menunjuk perut Sri yang masih rata, siapa yang menyangka, Sri ternyata juga tengah mengandung.
"Oh ya, wah selamat nih!" ucap Jason, dirinya turut senang mendengar kabar bahagia bagi Daren dan istri.
__ADS_1
"Mau liat si kembar dong, boleh kan!"
"Boleh, yuk sini!" Jason lalu membawa Dareen dan Sri menuju kamar bayi-bayi mereka.
Shirleen dan dirinya sudah berpindah kamar ke lantai satu, mengingat Shirleen masih belum diperbolehkan terlalu banyak gerak, jadi Jason memutuskan untuk pindah biar lebih memudahkan aktivitas istrinya.
"Hai Jio, hai Jill, ada uncle Dareen ini, sama Kak Fahira mau jenguk kalian..." ucap Jason.
Shireen yang tengah berbaring pun hendak bangkit, segera Jason membantu sang istrinya itu.
"Nggak papa By, aku bisa sendiri." ucap Shirleen, dirinya tersenyum manis pada sang suami.
"Udah jangan cerewet, diperhatiin bukannya seneng."
Sri seolah mau jengkat saat itu juga melihat interaksi antara Jason dan Shirleen, di kehamilan pertamanya kali ini, Sri berubah total, dia jadi suka menonton TV semenjak menjumpai drama Korea yang ditayangkan di salah satu stasiun TV, keuwuan pasangan Korea itu selalu saja menarik minatnya.
Dan kali ini, Jason dan Shirleen pasangan kali ini begitu cocok dan romantis baginya, yang satu sungguh ganteng dan yang satu sungguh cantik, oh ya Tuhan, ingin rasanya Sri berteriak histeris saat itu juga.
"Kenapa kamu?" tanya Dareen curiga melihat Sri yang senyum-senyum sendiri.
"Nggak ada, Mas, mereka romantis banget!" bisik Sri memuji Jason dan Shirleen.
"Hah?" bingung Dareen.
"Hah? Apa lagi ini Sri?" tanya Dareen.
Sementara Jason dan Shrileen sedikit bingung melihat kelakuan Dareen dan istrinya.
"Ada apa?" tanya Jason.
"Nggak ada!" jawab Dareen cepat.
"Emmm, Mas Jason, boleh tidak aku foto bareng kaian berdua, Mas Jason sama Kak Shirleen?" tanya Sri antusias.
Sri bertanya tanpa beban, dia tidak mengetahui gosip miring tentang kegilaan Jason, jadi dia menganggap Jason seperti artis pada umumnya, tidak ada salahnya jika diajak foto bersama.
Shrileen tersenyum ramah, "Boleh kok! Iya kan By?" tanyanya meminta persetujuan Jason, namun lebih tepatnya meminta Jason untuk harus setuju, karena kedipan mata itu Jason sungguh tau artinya.
Jason lalu mengangguk mengiyakan, anggap saja Sri sedang ngidam, dan itu bonus untuknya, Ibu hamil memang bisa berkuasa.
Angga dan Afik sungguh kagum melihat pemandangan itu, seorang Jason sudah bisa lebih merakyat ternyata batin mereka terkekeh lucu.
...##########...
__ADS_1
Pada akhirnya, tidak selamanya yang terkuat adalah yang menang.
Pada akhirnya, tidak selamanya apa yang kita miliki haruslah sesuai dengan harapan kita.
Takdir Tuhan! Lalu, siapa yang bisa membantah takdir Tuhan?
Meski dia berkuasa sekalipun, meski dia terhormat dan sangat disegani, siapa dia? Raja dari segala Raja pun akan takluk, karena apa? Karena dunia ini dan seisinya punya pemiliknya. Kita hanya menjalani apa yang sudah digariskan oleh-Nya.
Jason Ares Adrian, nama itu sungguh berpengaruh di negeri ini, hampir semua orang mengenalnya, mengenal pesonanya, baiknya seolah sangat diagung-agungkan, serta buruknya yang sangat disegankan.
Hidup bergelimang harta, namun miskin kasih sayang kedua orang tua membuatnya tidak bisa berbelas kasih antar sesama manusia.
Apa lagi, minimnya pengetahuan tentang agama membuat imannya begitu lemah. Dia tidak pernah peduli pada orang lain selain dirinya sendiri.
Dunia bagai dalam genggamannya, tidak ada yang bisa menghentikannya, apa yang baginya harus terjadi, maka terjadilah.
Seolah bisa melawan Tuhan, namun nyatanya, dia juga manusia biasa, ada ketika suatu hari nanti, dia juga menyerah.
Di titik ini, bagai titik terendah. Jason begitu rapuh, kenyataannya, sebuah cinta telah memporak-porandakan hatinya.
"Tidak ada yang berdosa tanpa adanya suatu cobaan!"
Namun, meski begitu Jason bahagia, memiliki keluarga yang utuh, Istrinya, dan keempat anaknya. Dia berjanji akan menjaga titipan Tuhan itu sebaik-baiknya, semampu yang dirinya bisa.
"Aku mencintaimu Shirleen Damla Julian!"
"Aku mencintaimu juga Jason Ares Adrian, meski nyatanya aku harus terjebak cinta berondong!"
"Kau menyesal?"
"Sayangnya tidak!"
"I love you By!"
"I love you too!"
Setelahnya, bibir itu kembali menyatu, memberi sentuhan lembut bagai membawa Shirleen dalam surga dunia.
Malam ini, akan sangat panjang Baby, jika saja tidak ada palang merah yang menghalangiku...
Batin Jason berteriak, Ahh sial aku harus puasa lagi untuk waktu yang lumayan lama!
...-TAMAT-...
__ADS_1