
Pelan tapi pasti sepasang mata itu mulai terbuka.
Ia mengerjabkan matanya, dilihatnya blur sosok yang sangat ia rindukan, ingin memeluk namun tubuhnya seolah tak bisa digerakkan, ia hanya bisa meneteskan air mata.
"Mama... Papa..." Lisa bisa menyebut nama itu lagi, tidak sia-sia ia menerima kekerasan fisik hingga sekarat asalkan ia bisa melihat kedua orang tuanya lagi.
"Ya Nak."
"Ya sayang..."
Keduanya menyahut bersamaan, membelai helai rambut di sisi kiri dan kanannya. Apa ada lagi yang lebih bahagia dari ini ?
"Papa, maafkan Lisa Pa, Lisa salah" sebuah ucapan yang sangat ingin ia katakan begitu ia bertemu papanya, sungguh.
"Tidak Nak, Papa yang harusnya minta maaf, Papa sudah membiarkanmu dalam kesulitan, demgan bodohnya Papa malah meninggalkanmu sendirian" Pak Jefri begitu merasa bersalah.
"Pa, Ma, peluk aku..." ucap Lisa, percayalah ia sungguh bahagia saat ini, sakit diseluruh tubuhnya bagai lenyap seketika.
Sedang ditempat lain, seorang pria sedang melakukan transaksi jual beli rumah, Athar Adjiandanu dengan rekening yang menggendut singkat membuatnya berhasil membeli sebuah rumah mewah tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja.
Rencananya besok ia akan segera pindah menempati rumah mewah itu, dan berencana memboyong Shirleen menjadi istrinya lagi, menjadi nyonya dirumah barunya kali ini.
Yah, namun membicarakan soal Shirleen, nomor ponsel mantan istrinya itu masih belum juga bisa dihubungi.
Ia akan mencari keberadaan Shirleen, tapi dimana ?
__ADS_1
Ia memutuskan untuk pergi ke Butik Weni, teman kuliahnya dan Shirleen dahulu, benar siapa tau saja Weni mengetahui keberadaan Shirleen.
Lima belas menit berlalu, kini ia sampai dan langsung masuk ke butik Weni, ia membuat janji temu dan masih menunggu di ruang khusus tamu.
"Athar..." ucap Weni, setelah mengetahui siapa yang ingin bertemu dengannya.
"Mau ngapain kamu kesini ?" ucapnya angkas.
"Wen, aku kesini cuma mau nanyain soal Shirleen, kamu..."
"Soal apa, soal kamu yang dengan jahatnya nyelingkuhin dia, poligami gak pake izin, dan kamu kesini dengan gak tau malunya nanyain dia, wah parah... Aku gak tau dimana Shirleen ?" potong Weni, ia sudah tau pasti bajingan dihadapannya ini sedang mencari keberadaan sahabatnya.
"Wen, please aku harus tau Shirleen dimana ?" ucap Athar lagi.
"Buat apa kamu nyariin dia, buat minta maaf ? emang dengan maaf keadaan bisa balik seperti semula, nggak kan ?"
"Oh yaa, yakin cuma mau ketemu Misca, hahaha gak usah munafik deh, aku itu sahabatan sama kalian udah lama, denger ya aku gak tau dimana Shirleen, dan lagipun kalau aku tau gak bakalan aku kasih tau juga sama kamu"
"Wen, tolong..."
"Denger Athar Adjiandanu, kamu gak usah lagi cari-cari Shirleen, biarin dia bahagia, kamu bisa nyadar gak sih, gara-gara kamu ia bahkan rela ninggalin orang tuanya cuma demi kamu laki-laki yang ternyata bajingan, dan asal kamu tau Shirleen pernah begitu menderita karena kelakuan kamu, jadi berhenti hadir dalam hidup dia, sekalipun itu alasannya Misca, karena aku tau bukan itu alasan sebenarnya"
"Aku adalah orang yang mendampinginya saat masa terburuknya waktu itu, kamu yang gak tau apa-apa jangan sok baik sekarang mau nemuin dia dengan dalih Misca, cuih palingan ngajak balikan, aku udah tau tampang kayak kamu ini otaknya gak jauh dari ************, gak malu kamu sama otong yang udah celap celup sana sini ?" Dengan vulgarnya Weni memaki Athar, ia jijik melihat laki-laki dihadapannya.
Weni menatap sinis laki-laki yang telah dicap sebagai mantan sahabatnya itu. Ia benci karena laki-laki dihadapannya ini Shirleen bisa menangis tak henti-hentinya karena menyesali keputusannya yang telah berani melawan orang tua.
__ADS_1
Laki-laki seperti Athar baginya memang tidak pantas diberi kesempatan kedua, lagi pula ia juga tidak tau dimana sahabatnya itu, saat ini ia juga sedang mencari keberadaan Shirleen.
"Mending kamu pulang, aku gak sudi temenan sama orang kek kamu"
"Wen..." Athar memohon sekali lagi, karena setelah Weni ia tidak punya petunjuk lagi untuk menemukan Shirleen.
Ia tidak mengerti kenapa Weni seakan begitu benci melihatnya.
"Keluar dari butik aku, keluar..." ucap Weni menunjuk arah pintu keluar.
Dengan gontai Athar melangkahkan kakinya, satu-satunya harapan kini sudah lenyap, Weni sama seperti Shirleen, jika tidak ya hasilnya tetap tidak.
"Kalian ingat muka orang tadi baik-baik, sekali lagi dia datang kesini, jangan kasih masuk, aku gak sudi bajingan itu nginjekin kaki disini" ucap Weni garang pada para pekerjanya terlebih pada satpam penjaga.
Athar yang mendengar itu pun mendengus kesal, karena baru saja ia akan mengatur rencana untuk menemui Weni lagi.
Dibalik pintu ruangannya, Weni memegangi dadanya, Athar adalah laki-laki yang dulu pernah merebut hatinya semasa kuliah, namun karena Shirleen menyukai Athar membuat ia terjebak dalam cinta rahasia ini.
Sayangnya itu dulu, saat ini ia sungguh benci melihat perangai Athar yang telah berani menduakan sahabat baiknya itu, seketika sisa cinta yang ia simpan dalam itu sudah lenyap terganti dengan kebencian, yah saat ini yang ada hanya kebencian.
Benci karena pernah telah menyukai bajingan itu, benci karena sahabatnya tersakiti, benci karena tidak terima dengan Athar yang berubah, dan banyak lagi benci dan kekecewaan untuk pria itu.
Itulah kenapa, bahkan mungkin lebih dari Shirleen ia lebih tidak bisa memaafkan Athar.
Bersambung...
__ADS_1
Like, koment, gift dan vote.