Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Aku tidak bisa membenci mereka.


__ADS_3

"Dari mana kamu sayang?" mama Lisa yang saat ini tengah menunggu kepulangan anaknya di ruang tengah menatap heran Lisa.


"Aa aku, dari rumah temen Ma?" jawab Lisa.


"Teman yang mana?" tanya Mama Lisa curiga.


"Emm, adalah Ma, teman lama!"


"Lisa, Mama tidak pernah mengajarimu berbohong, jangan mengecewakan Mama lagi, kau pernah berbohong waktu itu dan kau tau akibatnya?" Mama Lisa menekankan lagi kesalahan anaknya, ia mulai curiga karena Lisa tidak biasanya pulang selarut ini, jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat.


"Ma, maaf!" ucap Lisa.


"Katakan kau dari mana saja?" tanya Mama Lisa sekali lagi.


Lisa bingung harus menjawab apa, ia ingin sekali jujur namun apakah orang tuanya akan marah jika mengetahui dari mana saja dia.


"Aku dari melamar pekerjaan Ma!" ucap Lisa tak sepenuhnya berbohong.


"Melamar kerja? Kau benar-benar melakukannya?" tanya Mama Lisa tidak percaya, ia sudah melarang Lisa supaya tidak melamar pekerjaan, namun nampaknya Lisa tidak menghiraukan larangannya.


"Maaf Ma!" sesal Lisa.


"Lisa, Mama tau dirimu pasti suntuk menjalani hidup yang nampak monoton ini, tapi Lisa..."


"Ma, tidak bisakah aku hidup normal seperti dulu, aku juga ingin merasakan berteman dengan siapa saja, aku tau para teman-temanku dulu pasti akan mengucilkan aku jika bertemu, aku sudah siap Ma akan konsekuensinya, aku tidak mau hidup dalam keterbatasan, itu saja." ucap Lisa lagi.


"Lisa..." Mama Lisa menarik nafas dalam, bagaimana caranya membuat anaknya mengerti bahwa menghadapi mulut-mulut netizen berbisa tidak semudah bagaimana kita berucap, berkata bahwa kita akan kuat, siap akan konsekuensinya, tidak, sungguh Mama Lisa punya ketakutan kalau Lisa tidak akan setegar dan memiliki hati baja.


"Ma..." lagi-lagi Lisa tetap kekeh pada keinginannya.

__ADS_1


"Oke, kau bilang dari melamar kerja, pekerjaan apa yang kau lamar hingga kau harus pulang selarut ini?" tanya Mama Lisa.


"Aku..."


"Jujur, jangan pernah berbohong, karena jika kau memutuskan untuk berbohong maka akan ada kebohongan-kebohongan lagi yang akan kau ciptakan selanjutnya."


"Haaahhh," Lisa menghela nafasnya lagi sebelum mulai menjelaskan, "Aku bertemu istrinya Jason!" jujur Lisa, mau bagaimanapun ia tidak bisa lagi berbohong, ia juga terlalu takut untuk melawan kedua orang tuanya.


"Apa? Yang benar saja?" ujar Mama Lisa tidak percaya.


"Dia kritis di rumah sakit." terang Lisa lagi.


"Hah, dan kau menungguinya, begitu, semoga saja anak raja itu segera sadar setelah istrinya tertimpa musibah begitu."


Mama Lisa tidak tau harus merasa senang atau sedih, iba ataukah ia harus bersyukur, karena yang sebenarnya masih ada setitik benci pada Jason.


Apa yang dilakukan Jason pada Lisa anaknya tidak semudah itu untuk ia lupakan.


"Apa?" kaget Mama Lisa.


"Maafkan aku!"


"Lisa, kau tau betapa Papa dan Mamamu ini begitu mengkhawatirkanmu saat kau bermasalah dengan Jason, lalu apa lagi ini, hari ini kau kembali membuat masalah dengannya, Lisa please hentikan, kau baru saja diberikan kebebasan namun kau sudah melangkahkan kakimu ke lumpur hitam lagi."


"Ma, aku tidak bisa membiarkan saat akan jatuh lagi korban Jason sepertiku, aku tidak bisa melihat Lisa Lisa yang lain lagi."


"Apa maksudmu?"


"Aku melihat seseorang bermasalah dengan Jason dan istrinya, lalu secara tidak sengaja juga aku melihat seseorang itu diculik, aku yakin sekali sebentar lagi hidup seseorang itu akan hancur sepertiku, maka aku memberitahukan semua sifat buruk Jason pada istrinya, istrinya shock dan..."

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Lisa, hentikan tindakan bodohmu itu, yang akan kau hadapi ini adalah Jason, ia bukan manusia, ia iblis, Mama mohon apa perdulimu pada orang lain, Lisa sungguh Mama tidak bisa melihat kamu menderita lagi, tolong pentingkan hidupmu dulu sebelum kamu mementingkan hidup orang lain." tukas Mama Lisa, ah ia tidak siap jika Jason kembali melakukan serangan, tidak ia tidak siap.


"Ma sudah aku katakan, aku tidak bisa melihat Lisa Lisa yang lain lagi." bela Lisa pada dirinya.


"Nak, please, Mama mohon, demi hidupmu, demi keluarga kita supaya tetap aman, jangan pernah lakukan apapun yang berhubungan dengan Jason, kau tau saat kau koma dulu Papamu bahkan tidak pernah meninggalkanmu barang sebentar, ia terlalu takut kau tidak akan hidup lagi, ia telah bersalah begitu menyesal telah membuangmu, ia marah sehingga ia lupa bahwa kau adalah darah dagingnya, kira-kira dengan semua yang terjadi kau pikir bagaimana cara keluarga kita melewati hidup, hancur Lisa, hancur!" ucap Mama Lisa.


"Ma, saat semua terjadi di depan mataku, apa aku harus diam saja, apa hatiku sudah tertutup hingga tidak bisa melihat penderitaan orang lain, Ma aku hanya tidak ingin kejadian yang menimpaku juga tertimpa pada orang lain, kalau bisa dihentikan mengapa tidak." Lisa juga masih tetap pada pendiriannya.


"Iya, kau seharusnya diam saja, tutup matamu dan biarkan semuanya terjadi, anggap kau tidak pernah melihat apapun, biarkan saja, pentingkan hidupmu sayang Mama mohon please, jangan lakukan lagi."


Mama Lisa tidak bisa membayangkan jika Jason akan bertindak lagi kala putrinya sudah berani mengusiknya.


Sementara Lisa, sama saat dirinya terobsesi pada Jason begitulah dirinya saat ini, ia termotivasi karena pengalaman buruk dalam hidupnya, ia bertekad untuk menghentikan aksi gila Jason, meski saat ini ia juga dirundung penyesalan karena saat ia pergi meninggalkan rumah sakit tadi kondisi Shirleen masih kritis dan belum sadarkan diri, sementara itu sedikit banyak adalah ulahnya.


"Sudahlah Ma, aku capek, tolong aku hanya ingin istirahat." ucap Lisa pada akhirnya, berdebat dengan Mamanya tidak akan pernah ada akhirnya, ia juga mengerti bagaimana rasa kecewa orang tuanya, tidak akan mudah menerima, bak dilanda ketakutan bagi keluarganya Jason memang sangat menyeramkan.


Ia mengerti, seperti anak ayam yang akan dimangsa elang perkasa, begitulah ketakutan mereka.


"Baiklah, kita bicarakan ini pada Papamu besok, sekarang masuk ke kamarmu, dan segeralah tidur." suruh Mama Mila pada akhirnya.


"Baik Ma."


Lisa memasuki kamarnya, di dalam kamar pikirannya terus saja tertuju pada Jason, saat Jason membawa Shirleen kerumah sakit tadi ia diam-diam membuntuti Jason, dan mendapati keadaan Shirleen yang kritis, ia menunggu dan terus menunggu semoga saja ada keajaiban untuk hatinya supaya bisa lega, namun sampai jam setengah sepuluh malam pun Shirleen masih belum juga sadarkan diri, dengan rasa bersalah dan juga diliputi kekhawatiran ia meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke rumah, semoga saja besok pagi ia bisa mendengar kabar baik.


"Aku tidak bisa membenci mereka, kenapa? Apa lagi kak Shirleen, ia begitu baik, bukankah mereka pasangan yang pas dan saling melengkapi." gumam Lisa sembari pikirannya menerawang tentang apa yang dilihatnya di rumah sakit tadi. Dimana Jason yang terlihat sangat menyayangi istrinya.


Bersambung...


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2