
"By... "
Suasana yang tiba-tiba menegangkan.
Bagaimana tidak, jadi ini alasannya Dokter Eri menyuruh mereka berhati-hati dan selalu bersikap sopan pada pasien wanita yang akan melahirkan ini, ternyata wanita ini...
Jason Ares Adrian, hampir semua perawat dan para bidan di ruangan itu begitu mengidolakannya, dan kini sang idola tepat berada dihadapan mereka.
Karena panik, Jason langsung menuju kesini, tanpa menggunakan atribut lengkapnya yang biasa ia tinggal di mobil.
"Eri..." Teriak Jason, tempramennya memburuk. Dokter Eri nampaknya membuat masalah lagi.
Mati aku...
Dokter Eri yang berada dibalik pintu mengusap dadanya yang berdebar hebat, ia sungguh akan mati hari ini.
"Ya Tuan Muda..." jawabnya cepat setelah memasuki ruangan, ia melihat Shirleen nampak bingung serta memandang kesal ke arah tuan mudanya.
"By... jangan berteriak, ini rumah sakit" ucap Shirleen.
Ya Tuhan aku sungguh malu...
Jason tidak menghiraukan, mata elangnya penuh menatap Dokter Eri, kekesalannya sudah dipuncak saat ini.
"Siapa mereka...?" tanyanya tegas.
"Mereka, bidan dan para perawat yang akan menangani persalinan nona Shirleen Tuan Muda" jawabnya hati-hati.
"Apa aku harus kembali mengingatkanmu, harus lagi memerintahmu, aku minta dokter terbaik menangani calon istriku, kenapa sembarangan menugaskan orang tidak becus seperti mereka" ucap Jason sambil mencengkram kerah kemeja sepupunya itu.
"Cih, dasar tidak berguna, mengurus ini saja tidak bisa"
Sebenarnya bukan tanpa alasan Jason berkata begitu, tadinya Jason hanya kesal saat ia mengetahui Shirleen tidak akan melahirkan diruangan yang seharusnya sudah disiapkan,walau marah tapi ia masih bisa meredam emosinya, sepanjang jalan ia lebih terbayang wajah Shirleen yang kesakitan.
Tapi lihatlah kekesalannya menjadi bertambah kala ia membuka pintu, para medis yang tidak ia ketahui jabatan masing-masingnya itu malah dengan santainya berbincang sambil tergelak, bahkan ada yang tampak asik bermain ponsel, apa ini yang dinamakan rumah sakit terbaik, sedangkan dilihatnya Shirleen tampak lelah jelas terbaca dari gurat wajahnya.
"Rumah sakit ini tidak membutuhkan tenaga kerja yang tidak disiplin dan membiarkan pasiennya seperti ini" Jason menatap wajah tenaga medis dirumah sakitnya itu satu persatu.
Ia akan menghafal setiap wajah dari mereka, setelah ini akan ia pastikan Roy mengurus semuanya.
Yang ditatap bergidik ngeri, seketika otak mereka langsung traveling mengingat rumor yang beredar.
Jika mereka tau, wanita yang akan melahirkan ini berhubungan dengan pemilik rumah sakit ini sekaligus tuan muda keluarga Adrian, tentu mereka akan memperlakukan Shirleen dengan sangat baik.
"By... yang mana yang sakit, katakan padaku" ucap Jason lembut sambil membelai pipi kekasihnya.
"Aku tidak apa By, sungguh, tidak ada yang sakit" Shirleen berkata jujur, sampai saat ini ia masih belum merasakan kesakitan apapun.
__ADS_1
"Bohong, wajahmu seperti menahan sesuatu, jujur saja mana yang sakit ?"
"Aku... aku" sebenarnya Shirleen sangat malu mengatakannya.
"Jujur saja, katakan"
Melihat tidak ada jawaban dari Shirleen, Ipah yang berada disampingnya justru sedang dilanda kebingungan, haruskah ia mengatakannya.
"Nona Shirleen sedang menahan buang air kecil tuan, dari tadi nona sudah mencoba pipis disini, tapi nona tidak bisa jika bukan di kamar mandi" sebuah jawaban keluar dari mulut Ipah.
"Lalu kenapa kau tidak membawanya, lakukan saja, bukankah tidak baik menahan pipis"
Shirleen menggigit bibir bawahnya, siapapun tolong jawablah dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.
"Eemm, itu Tuan, kata bidan itu nona Shirleen tidak boleh banyak bergerak lagi, air ketubannya sudah agak kering"
"Apa. ?"
"By... sudahlah aku tidak apa" Terlihat sekali Shirleen begitu menahan sesuatu.
Jason menatap lagi kearah para medis yang tadinya sempat asik bergelak tawa. Lalu ia melihat sekeliling ruangan.
"Air siapa itu ?" Jason menunjuk dua kemasan besar air mineral, yang satunya belum dibuka, dan yang satunya sudah hampir habis.
Shirleen tidak menjawab, ia tau jujur dengan Jason pasti akan mengorbankan banyak perasaan.
Ipah terdiam, ia juga dilanda ketakutan.
"Itu air minum Bunda Pa, bu dokter suruh Bunda minum air banyak-banyak tapi saat bunda pengen pipis gak tau kenapa malah dilarang" Sikecil Misca selalu tepat sasaran, baiklah keadaan yang genting ini sudah pasti akan memakan korban.
"Apa... ? Apa kalian sudah gila, menyuruhnya minum sebanyak itu, lalu kalian tidak membiarkannya bebas buang air kecil" sentak Jason memberang.
"Papa, jangan marah-marah" ucap Misca.
Jason memijit pelipisnya, sial, setelah ini ia semakin yakin untuk membuat perhitungan.
"Pindahkan ruangannya, aku tidak mau tau"
"Dan kalian, tunggu surat pemecatan kalian, rumah sakit ini tidak membutuhkan tenaga medis yang menganggap remeh pekerjaan" ketiga wanita itu menghela nafas panjang, menyesal tentu itu yang mereka rasakan.
Jason mengangkat tubuh Shirleen tiba-tiba, Shirleen ingin meronta, ia malu saat ini bagian bawahnya hanya berbalutkan selimut, apa lagi saat ia merasa tangan kekar kekasihnya bersentuhan langsung dengan bokongnya yang tidak terkena helaian kain.
Sayangnya mereka belum sah, itu membuat Shirleen merasa tidak nyaman, namun Jason terlihat biasa saja, ia bahkan tidak perduli.
Jason membawa Shirleen ke kamar mandi, ia mendudukkan wanitanya diatas closet, namun Shirleen belum juga memulai apa yang sedari tadi ia tahan.
"Ayo pipis" ucap Jason.
__ADS_1
"Heh bocah, bagaimana aku bisa pipis, kau dihadapanku saat ini, keluar dulu"
"Aku tidak akan keluar, kalau terjadi sesuatu bagaimana ?"
"Tapi aku tidak bisa pipis jika kamu berada dihadapanku seperti ini By..." Shirleen berkata dengan lembut, ia takut kekasihnya yang tempramen itu marah lagi.
"Baiklah, aku tidak akan lihat" Jason membalikkan badannya membelakangi Shirleen. "Cepatlah pipis"
Mau tidak mau Shirleen menurut, ia sudah tidak tahan, dari tadi rasanya sudah diujung.
Shirleen sudah selesai, ia sebenarnya masih bisa berjalan seperti biasa, sungguh tidak ada keluhan sejauh ini, tapi Jason melarangnya dan lagi-lagi menggendongnya menuju brankar.
"By..." Shirleen yang ingin protes terhenti saat melihat mata Jason yang memelototinya.
Praaahhh, lagi-lagi cairan ketuban tumpah dan itu membasahi tangan Jason yang sedang menggendong Shirlen ala bridal style.
Jason tidak peduli, yang terpenting adalah Shirleen baik-baik saja. Hanya itu yang ia pikirkan untuk saat ini. Ia kembali lagi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
Jason lalu mendial nomor Roy, semua orang baginya tidak becus dalam bekerja, memang hanya Roy yang bisa diandalkan.
Roy yang saat itu tengah sibuk-sibuknya dengan laporan bulanan terpaksa harus menghentikan pekerjaannya, ia mulai merangkap job lagi.
Ia bergegas menuju rumah sakit untuk mengurus pekerjaannya, satu jam telah berlalu, entah bagaimana ia melakukannya, bangsal untuk Nona Mudanya bersalin pun sudah siap. Ruangan yang cukup luas, brankar khusus melahirkan, ranjang king size, peralatan mandi, dan beberapa furnitur yang melengkapi kesan mewah bangsal itu yang kini sudah seperti kamar pribadi saja.
Terdapat juga kulkas beserta isinya, entah apa yang ada dipikiran Jason saat ini. Apa ia ingin pindah ke bangsal ini.
Shirleen dipindahkan pada ruangan itu, kini para dokter obygn terbaik di rumah sakit itu telah berkumpul sebanyak 5 orang untuk ditugaskan membantu persalinan Shirleen.
Semuanya wanita, itu perintah resmi Tuan Muda saat Roy mengurusnya tadi.
Sudah empat jam berlalu, tapi Shirleen belum juga merasakan sakit di perutnya, padahal saat diperiksa terakhir kalinya pembukaan sudah buka tujuh.
Dokter menanyakan pada Jason, apakah bisa dilakukan tindakan operasi, Shirleen tidak merasakan sakit perut sama sekali saat ini.
Bahkan Shirleen masih bisa menghabiskan satu porsi full nasi padang untuk mempersiapkan ekstra tenaganya nanti.
"Lakukan yang terbaik bagi kalian" ucap Jason.
Bersambung...
*
*
*
like, koment, dan vote
__ADS_1
Happy reading !!!