Terjebak Cinta Berondong

Terjebak Cinta Berondong
Perubahan Shirleen.


__ADS_3

"Aku mencintaimu By..."


Jason mengelus perut Shirleen yang belum terlalu membuncit, mengecup candunya dengan mesra, sentuhan itu naik lagi ke duo kenyal yang tampak menantang.


"Kau menginginkannya ?" tanya Shirleen parau, ia sungguh terbuai.


"Yes Baby!" ucap Jason dengan penuh naf*u.


"Do it !" ucap Shirleen.


Jason melancarkan serangannya, tengah malam begini adalah waktu yang tepat untuk beryuhu ria.


"Uuhhh." lenguh Shirleen, suami berondongnya memang selalu bisa memberikan serangan nikmat.


Jason kali ini bermain pelan, di usia kandungan Shirleen saat ini ia disarankan untuk hati-hati oleh dokter Eri, yah Jason sudah menanyakan perihal masalah ranjang pada sepupunya itu tanpa sepengetahuan Shirleen.


"By, aku mau yang lebih, mengapa kau belum melakukannya ?" dengan malu-malu Shirleen mengutarakan niatnya, dari tadi ia sudah mencoba menikmati supaya bisa mencapai *******, namun selalu saja tidak bisa, ia menginginkan suatu yang lebih yang biasanya Jason lakukan.


"Aku harus pelan-pelan By, ini masih rentan." ucap Jason, nafasnya menggebu, saat ini ia hampir saja mencapai puncak sementara Shirleen, Jason bisa menebak istrinya itu pasti tidak puas.


"Aaarrggghhh..." erang Jason. Ia mengecup kening Shirleen, kemudian duduk bersimpuh di dekat istrinya.


"Kau benar-benar menginginkannya ?" tanya Jason.


Shirleen mendongak, malu sekali harus mengatakan iya, tapi ia memang ingin, jika Jason mau ia akan setuju untuk melakukannya sekali lagi, setidaknya untuk menyalurkan hasratnya yang belum juga mencapai finish sedari tadi.


Shirleen mengangguk pelan, Jason tidak tega, harus bagaimana lagi serba salah juga kan, ia senang Shirleen menjadi lebih agresif, namun ia juga bingung akan perubahan Shirleen.


"Maafkan aku!" ucapnya.


"Entahlah By, aku tidak biasanya seperti ini, tapi bisakah kita melakukannya lagi, aku mau yang seperti biasanya." ucap Shirleen.


"Tidak-tidak, setidaknya untuk dua bulan lagi, setelahnya akan aku turuti kau mau gaya seperti apapun." ucap Jason, ia tidak bisa mengenyampingkan apa yang Dokter Eri sarankan padanya.


Shirleen tampak tertunduk lesu, sungguh baru kali ini ia merasa gila menahan sesuatu yang harus dituntaskan.


"By..." rengek Shirleen.


"No!"


"Again and as usual!" Shirleen tetap pada pendiriannya.


Jason memijit keningnya pelan, "Oke, but dengan satu syarat !" ucap Jason.

__ADS_1


"Apa ?" tanya Shirleen.


"Sekali ini saja, lain kali selama dua bulan kedepan kamu harus nurut kalau kata aku nggak boleh, ya nggak boleh." Jason memberi peringatan.


"Ehem, okay!" setuju Shirleen diiringi anggukan.


"Promise!"


"I promise!"


Lalu keduanya benar-benar melakukannya sekali lagi, sesuai dengan apa yang Shirleen inginkan.


Pagi menjelang, Sri nampak tidak percaya pagi-pagi sekali ia sudah berada di Bandara, awalnya ia begitu terkejut karena sang suami menyuruhnya untuk segera bersiap-siap tanpa memberitahukan kejelasan maksud dan tujuan.


Namun saat ini ia telah sampai di bandara, dan rasanya masih belum percaya menatap boarding pass, hatinya sungguh bahagia, bagaimana tidak sebentar lagi ia akan pulang ke kampung halamannya.


"Aku serasa bermimpi hari ini akan pulang kampung Mas." ucap Sri, rona bahagia jelas sekali memenuhi wajahnya.


"Auww!" pekiknya, saat merasakan sakit di pipi akibat cubitan dari Dareen.


"Sakit kan, berarti bukan mimpi." ucap Dareen dengan santainya.


"Ah iya sih Mas, sakit ternyata." ucap Sri.


"Adek mau kemana sih, mau kerumah mbah yaaa." ucap Dareen memanjakan Fahira yang nampak anteng di gendongan Sri.


"Udahlah Sri, aku kan juga mau mengunjungi mertuaku, melihat kampung halaman istriku, dulu dia tinggal disitu seperti apa, aku bukan hanya memikirkan keinginanmu karena ini juga keinginanku." ucap Dareen.


Lalu keduanya saling tatap, ada rasa haru yang Sri rasakan.


"Aku mencintaimu Sri!" aku Dareen. Heh bahkan kata mencintai pun rasanya tidak cukup ia ungkapkan untuk sang istri.


Ya Allah, aku tau Engkau tidak pernah mengajarkan hambamu untuk mencintai apapun di dunia ini secara berlebihan, karena sesungguhnya yang berlebihan itu tidaklah baik, namun Ya Allah, dia istriku hari ini aku benar-benar mencintainya, dia istriku seseorang yang Engkau kirimkan untuk membuatku selalu bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan, terimakasih Ya Allah telah mengirimkan dia, aku akan selalu menjaga apa yang telah Engkau titipkan padaku ini.


"Aku juga Mas." ucap Sri.


Sedang dilain tempat,


Ting tong,


Suara bel rumah berbunyi, gegas si pembantu di rumah tersebut membukakan pintu, hari baru menunjukkan pukul 08:15, siapa yang bertamu pikirnya.


Ceklek, pintu dibuka.

__ADS_1


"Selamat siang, apa benar ini rumah saudara Muhammad Al-Fikram ?" tanya dua orang petugas kepolisian, si pembantu yang memang sangat dekat dengan Afik pun tercengang, kenapa anak majikannya bisa berurusan dengan kepolisian.


"Siapa Mbok ?" tanya Bundanya Afik dari kejauhan, sepertinya sang Bunda sedang berada di Dapur.


"Aa anu Nya." lirihnya gagap.


"Apa benar ini rumah saudara Muhammad Al-Fikram ?" tanya salah satu polisi itu sekali lagi.


"Iya, iya benar, tapi..."


"Lho Mbok kenapa ada polisi ?" tanya Bundanya Afik yang telah hampir sampai juga di pintu utama.


"Ini Nya, cari Den Afik katanya." jawab si pembantu.


"Ada apa ya Pak ?" ucap Bundanya Afik tenang.


"Begini, saudara Muhammad Al-Fikram terlibat kasus penganiayaan bersama rekannya, salah satu orang korban melapor pada kami semalam, korban juga sudah mendapatkan perawatan intensif atas luka yang didapat." jelas Pak Polisi.


"Penganiayaan ?" ulang Bundanya Afik tidak percaya.


Si pembantu menganga tidak percaya, anak majikannya itu terkenal baik, bahkan selalu peduli sesama, mana mungkin bisa menganiaya orang lain.


"Iya, di salah satu Bar semalam sekitar pukul 23:40, ini berkas laporannya, saudara Muhammad Al-Fikram akan dikenakan status sebagai saksi karena kami juga membutuhkan keterangannya untuk melengkapi BAP." jelas polisi itu lagi.


"Panggil Afik Mbok!" suruh Bundanya Afik.


"Baik Nya."


Afik yang saat itu masih tertidur pun dibangunkan oleh suara ketukan pintu yang sangat hingar memenuhi gendang telinganya.


"Ada apa sih Mbok ?" tanyanya saat sudah membukakan pintu.


"Den Afik, di bawah ada Polisi yang cari-cari Den Afik, lebih baik Den Afik cuci muka dan langsung turun, Nyonya udah mau marah-marah itu."


"Polisi Mbok ?" tanya Afik, mata dan telinganya yang masih belum terbuka sempurna harus dikejutkan dan langsung saja beralih dalam mode on.


"Iya Den, sebenarnya ada apa sih, semalam Den Afik kemana, kok bisa sampai nganiaya orang ?" ucap si pembantu dengan khawatirnya.


"Oohh itu, kirain apaan ?" ucap Afik santai, kini ia sudah bisa menebak siapa yang melaporkannya. Heh cuma anak manja ternyata pikirnya.


"Kirain apaan apa ?" tanya si pembantu seakan tidak percaya kok bisanya anak majikannya ini bersikap biasa saja sedang dibawah ada polisi lho.


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa like, koment, kasih hadiah dan vote cerita ini yaaa...


Dukungan kalian sangat berarti bagi author yang suka halu ini, karena bisa bikin karya ini naik kepermukaan...


__ADS_2